HADIAH TERINDAH

Pada hari itu, di Minggu pagi saat melintasi sebuah dealer  Ford, John begitu tertarik pada salah satu mobil sport terbaru yang dipamerkan di sana. Setelah mendapatkan informasi mengenai harganya, dengan keyakinan besar, ia melangkah ringan menuju rumahnya


. Ia meminta brosur pada penjual tersebut, lalu sengaja meletakkannya di meja dengan harapan Ayah akan membacanya. 

Ayah sudah menjanjikan sebuah hadiah untukku saat aku wisuda nanti, dan ia pasti akan membelikanku Ford itu, pikir John dengan gembira. 

Akhirnya waktu yang dinanti-nantikan itu tiba. Saat wisuda, ayahnya memberikan sebuah kotak hadiah berukuran sedang yang dilapisi kertas biru mengkilap kepada John sambil mengatakan betapa bangga ia pada puteranya tersebut. John tak pernah melihat ayahnya sebahagia ini sebelumnya, dan ini membuatnya semakin bersemangat saat membuka kado itu.

Namun alangkah kecewa dirinya saat menemukan bukan sebuah kunci Ford yang ia temukan di dalam hadiah tersebut, melainkan kitab suci. Pada sampulnya tertulis namanya dengan tinta emas. Tanpa bisa menutupi kekecewaannya, John bergerak mundur, menyodorkan benda itu dengan marah kepada ayahnya sambil berkata, “Setelah harus menunggu selama bertahun-tahun, inikah yang kauberikan kepadaku? Tidak cukupkah waktu yang kuhabiskan di gereja selama ini?”

Setelah itu John berlari meninggalkan ayahnya, tanpa sedikitpun menoleh ke belakang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal atau melihat air mata yang menetes dari kedua mata pria paruh baya yang sedang berusaha keras menyembunyikan luka di hatinya.

Waktu berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. John tak pernah kembali ke rumah itu. Hatinya yang beku telah menutup semua kenangan indah bersama ayahnya. Hal terakhir yang ia pikirkan dan diingatnya dengan baik adalah saat Ayah  menghancurkan impiannya di hari wisudanya. Beberapa surat dari Ayah yang datang tak pernah dibalasnya. Ia bahkan  memaki habis-habisan sekretarisnya yang menjawab informasi mengenai alamatnya  melalui surat kabar kepada ayahnya.

Surat terakhir dari Ayah datang pada bulan Oktober bersama sehelai kartu ucapan Selamat Ulang Tahun terselip di dalamnya. John menatap tulisan tangan yang telah berubah itu, seolah-olah tampak asing di matanya. Untuk pertama kalinya, ia membaca kartu ucapan itu berulang-ulang.  Mendadak buncahan rindu menyergapnya. Ada rasa bersalah yang menyakitkan dan mendorongnya untuk mengangkat telepon, lalu mulai menekan nomor-nomor.

Ia harap mereka belum mengganti nomor teleponnya. Dengan perasaan berdebar-debar, John menunggu. Akhirnya, setelah sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun lamanya, ia mendengar suara seorang wanita dari sana. Suara Susan, adiknya.

Reaksi Susan begitu mendengar suaranya dapat dibayangkan oleh John. Yang semakin menyayat hati adalah ucapan dingin wanita itu memintanya datang. Susan bahkan tak mengatakan apapun mengenai ayah mereka atau basa-basi lainnya. Ia hanya mengatakan sesuatu yang penting sedang menunggu John.
Sambil mengendarai mobilnya bermil-mil jauhnya menuju rumah yang telah ditinggalkannya selama enam tahun lamanya, berbagai pikiran buruk tiba-tiba melintas di benak John. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ayah? Ia bahkan belum sempat meminta maaf pada pria itu. Ia belum pernah memberikan kebahagiaan pada ayahnya. Apakah setelah ia kembali ke rumah itu semuanya akan kembali seperti semula? Akankah mereka memaafkan dirinya? 



John tahu, dari surat-surat Ayah, betapa mereka merindukan dirinya, dan keluarga itu seperti kehilangan cahaya dengan kepergiannya. Kalaupun mereka tak bisa memaafkan atas apa yang sudah ia lakukan, itu adalah ganjaran yang pantas diterimanya. Siapapun akan bisa memahami hal ini. Ia tak bisa menyalahkan Susan jika adiknya yang semula manis ini berbalik memusuhinya. Ia hanya ingin kembali ke rumah itu, makan di meja yang sama dengan mereka, menonton film komedi di ruang keluarga, dan saling mengucapkan selamat malam menjelang tidur. 

Rumah itu tampak belum berubah di mata John, masih sama seperti saat ia pertama kali melangkah keluar dari dalamnya menuju universitas dengan bersemangat karena bermimpi akan mendapatkan mobil sport Ford pada hari itu. Sebelum akhirnya tak pernah kembali. 


Dengan gemetar ia menekan bel. Tak perlu menunggu lama karena kedatangannya tampaknya sudah dinanti-nantikan. Susan yang membukakan pintu untuknya.

John terkejut betapa cepat waktu merubah adiknya itu. Susan tampak pucat dan matanya sembab. Sepertinya ia habis menangis. Di belakangnya seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun mengintip dengan malu-malu. Wajahnya yang begitu mirip dengan Susan cukup menjadi penjelasan pada John bahwa itu adalah puteranya. Keponakannya. Pandangan John menyapu sekeliling ruangan mencoba menemukan ayahnya, namun ia kecewa karena yang ada di sana hanya beberapa wajah yang tampak asing. Suami Susan dan seorang anak berusia sekitar sembilan tahun yang tampak pucat dan skeptis tak berkedip menatapnya. Susan berkeliling untuk memperkenalkan John pada mereka satu persatu seolah-olah ia adalah tamu di rumah itu.

Suami Susan bernama Matt dan putera kecil mereka bernama Eddie. Ternyata anak berusia sembilan tahun yang terus menatapnya sejak kedatangannya tadi adalah Michael, adik yang terakhir ditinggalkannya masih sebesar Eddie. Michael bersikap seperti orang asing terhadapnya dan John hanya bisa berharap anak ini tak membenci dirinya atau cukup bisa mengingatnya sebagai kakaknya.

“Di mana Ayah?” John bertanya agak tak sabar karena tak kunjung bertemu pria itu. Rasa ketakutannya semakin hebat saat Susan menatapnya dengan sedih. Matt menunduk, kemudian berbicara lembut pada Eddie sambil menggiring anak itu meninggalkan Susan, John dan Michael. 

“Ayah sudah berpulang sejak minggu lalu.” Susan mencoba membendung airmatanya. 

John dapat merasakan tubuhnya lemas dan segalanya berputar-putar dalam pandangannya. Untuk beberapa detik lamanya, ia sibuk menafsirkan perasaannya yang campur aduk. Hanya tubuhnya yang memberikan reaksi betapa berita itu telah mengguncang dirinya sedemikian hebatnya sehingga tanpa sadar ia merasa tubuhnya akan ambruk. Untungnya Susan sudah mengantisipasi ini dan ia memerintahkan Michael untuk membantu John beristirahat di kamarnya. 

Michael menyodorkan aspirin dan segelas air padanya, masih tanpa berkata apa-apa. John mencoba mengajaknya bicara dan bertanya apa yang terjadi, namun Michael hanya meletakkan tangannya yang pucat dan kurus ke pundak John seolah sedang mengatakan kalau segalanya akan baik-baik saja. Kemudian ia meninggalkan John di kamarnya dan menutup pintu dengan lembut.

John menangis di dalam sana.  Ia tak tahu sudah berapa lama ia hanya menangis menyesali kesan buruk yang ditinggalkannya pada hari-hari terakhir ayahnya. Bahkan sampai ayahnya meninggal, minggu lalu, ia masih belum memaafkan ayahnya. Hanya karena sebuah mobil Ford yang telah membutakan dirinya, ia bahkan pernah berharap tak memiliki pria itu sebagai ayahnya. Ia telah melupakan bagaimana beratnya hidup yang harus dilalui Ayah sebagai orang tua tunggal, termasuk jasa beliau yang selama ini tanpa letih berdiri paling depan untuk menyemangatinya, memperjuangkan dirinya untuk bisa memperoleh beasiswa agar ia bisa memasuki universitas yang diinginkannya. Mengapa ia begitu tak adil pada Ayah karena keegoisannya? Bagaimana ia harus memperbaiki semua ini ? Ayah telah pergi meninggalkannya.

John memandang kamarnya dengan perasaan terluka, tiba-tiba merasa seperti kembali menjadi anak dua puluh tiga tahun yang lalu. Anak yang sedang berbicara dengan bangga pada ayahnya bahwa ia mendapat nilai bagus di kelas, berlarian, bermain bisbol, berfoto bersama Ayah, berlari masuk ke kamar pria itu dan menyelinap ke atas tempat tidurnya saat ia ketakutan pada petir. Kemudian Ayah akan memeluknya dan membacakan dongeng padanya sebelum tidur. Atau mencium keningnya sambil mendoakan mimpi indah dan keberuntungan. 

Terdengar suara ketukan halus di pintu kamar. Susah payah John mencoba membuat suara dengan mulutnya. Tangisan tiada henti seolah menelan dirinya sehingga bahkan terlalu sulit untuk mendengar suaranya sendiri. 


Susan masuk bersama secangkir teh dan roti lapis. Ia meletakkan nampan di meja dan berkata, “Makanlah, perjalanan yang jauh pasti telah membuatmu lapar. Jika perlu sesuatu, kau tinggal …”

“Bagaimana Ayah meninggal?” John memotong. Ia bahkan merasa tak pantas untuk menanyakan hal itu. Ini membuat hatinya terasa semakin sakit. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk jawaban apapun, termasuk jika hal itu dihubungkan dengan kepergiannya. 

Susan menatap John, dan itu seperti tatapan terakhir Ayah saat ia menyodorkan kitab suci itu dengan sangat marah padanya. Tatapan terluka. 

“Ayah sudah berusia enam puluh tujuh tahun dan bukan hal yang sangat mengejutkan jika …” 
“Apa dia sakit?” tanya John cepat. Ia tak ingin mendengar Susan mengarang lebih banyak kebohongan lagi hanya demi  menjaga perasaannya. Ia tak pantas menerima segala kebaikan itu. 

Susan diam. Ia menunduk sebentar, mencoba menguasai diri untuk tidak menangis lagi. 


“Kumohon beristirahatlah, jika kau merasa sudah siap, kita akan membicarakan hal ini lagi.”

“Sekarang atau nanti tak ada bedanya, 'kan?” John bersikeras. Kini ia sudah berhasil menghimpun kekuatan untuk bangkit dan berjalan menghampiri Susan yang bergeming.

Susan menggeleng, mencoba menghindari tatapan John yang menuntut. “Lupakan, John. Ayah sudah memaafkanmu, ia mengatakan hal itu pada kami sebelum kepergiannya. Ia tahu cepat atau lambat kau akan kembali ke rumah ini. Semua orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya dan berhak mendapatkan kesempatan kedua.”

Ada nada getir dalam suaranya. Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang kembali menjadi normal. “Apa kau berencana tinggal di sini? Aku akan meminta Martha membereskan kamarmu. Maaf kami memindahkan beberapa barang di sini. Kami tak membuangnya. Semuanya masih tersimpan rapi di dalam kotak  di bawah tempat tidurmu.”

“Aku akan kembali Rabu.” John bergerak menuju jendela kamar, menarik tirainya dan memandang sendu pada hujan yang menyelimuti kota. Hujan selalu mengingatkannya pada Ayah. Seolah-olah alam pun sedang bersedih dan menangis untuk kepergian seorang pria baik.

“Sepertinya hujan sampai malam. Kita baru bisa pergi ke pemakaman besok,” ujar Susan lirih. Namun John sepertinya tak mendengar ucapannya. Ia dapat melihat pria itu sedang menatap dengan tertegun pada butir-butir hujan yang mengaliri permukaan kaca, sebuah metafora yang terlalu menyedihkan untuk dipandangi lama-lama.

 Dengan gerakan cepat Susan menghapus air mata dan memutar tubuh, namun suara John menghentikan langkahnya.

“Tak bisa menunggu besok. Aku akan pergi malam ini.”

Susan terpana. Walaupun ia bisa mengerti bagaimana rumitnya perasaan John saat ini, ia tetap saja berkata, “Tapi tidakkah akan lebih baik kita menunggu hingga besok ? Matahari akan bersinar.”

John menoleh. Wajahnya tampak pucat dan kaku saat menjawab, “Tak usah mengkhawatirkanku. Katakan saja di mana mereka menguburkannya.”

Susan mengembuskan napas dengan berat. “Seperti permintaan Ayah, tepat di sebelah Ibu.”

Ia dapat melihat tubuh John yang memunggunginya berguncang halus. Susan menyadari kalau inilah saat-saat di mana John merasa lebih baik ditinggalkan seorang diri.

John pergi ke pemakaman pada malam itu, pukul sebelas lewat empat puluh menit. Ia pergi lagi pagi-pagi sekali dan baru kembali sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh tujuh menit. Wajahnya tampak pucat namun kedua matanya sudah tak bengkak lagi. Gairah dalam dirinya seolah tak tampak lagi, sehingga mereka khawatir kalau John mulai menunjukkan gejala depresi. Ia hanya makan sedikit, lalu mengunci diri di kamar, tak mau berbicara pada siapapun. 


Ia baru keluar dari kamarnya pukul tiga sore, menyusul Susan di ruang belajar Eddie. 


Saudarinya sedang melatih Eddie menggerakkan jari-jari mungilnya menulis E. Melihat John berdiri kaku di depan pintu, Susan berbisik lembut pada Eddie, kemudian menghampiri pria itu.

“Kau masih menyimpan kitab suci itu, Susan?” John bertanya dengan suara bergetar. Kedua matanya memerah. 

Susan mengangguk. Dengan murung membawa John memasuki kamar ayahnya. 


Ia mengambil sebuah kunci dan menyerahkannya pada John. “Ayah berkata jika tiba-tiba ingin mengambil kitab suci itu, sebaiknya kau sendiri yang melakukannya.”

John meraih kunci itu dari tangan Susan yang gemetar, kemudian membiarkan adiknya itu pergi meninggalkannya. Ia dapat melihat Susan sudah akan menangis lagi. Ia tak ingin berada lebih lama lagi bersama mereka, karena setiap kali ia berada di antara mereka, duka di rumah itu semakin bertambah. Susan sangat mudah menangis tatkala mereka mencoba saling berbicara satu sama lain. John tahu ia hanya membawa luka pada keluarga ini bahkan sebelum dan sesudah kepergian ayah.


 Ia akan pulang pada hari Rabu, dan setelah itu ia tak yakin apakah mereka masih saling berhubungan. Mungkin terdengar adil jika Susan atau Michael tak akan mengingatnya lagi setelah hari ini. Karena walaupun mereka tak pernah secara terang-terangan mengatakannya, namun John tahu kepergian dirinya telah menyebabkan Ayah menderita dan sakit-sakitan, sebelum akhirnya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Butuh seorang manusia berhati seluas samudera untuk menerima kenyataan bahwa itu bukan merupakan kesalahannya. Bahkan seberapa kuatnya pun Susan mencoba bersikap biasa pada dirinya, John tetap dapat melihat Susan tak lagi seperti adiknya yang mengagumi dan selalu membela dirinya enam tahun silam.

John membuka laci meja di samping tempat tidur Ayah dan kenangan masa lalu kembali menyergapnya dalam kesunyian yang memilukan. Dulu sekali, ia sering menyelinap untuk tidur di ranjang ini bersama Ayah sementara petir menjerit-jerit di luar sana. Kemudian Ayah akan memeluknya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya menjangkau laci meja ini untuk mengeluarkan sebuah buku kumpulan dongeng dan membacakannya sampai John tertidur. Rupanya di tempat yang sama, Ayah telah menyimpan kitab suci ini selama bertahun-tahun lamanya.

Kitab suci itu ada di sana, masih begitu rapi. John meniup untuk membersihkan debu-debu di permukaan, kemudian merasakan ukiran namanya yang terbuat dari tinta emas dengan jemari. Masih sama barunya seperti saat ia pertama kali melihatnya. 


Ia membuka lembaran pertama dan di sana terdapat tulisan tangan Ayah : Manusia paling berguna adalah ia yang bisa memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Selamat atas keberhasilan putera tercintaku John. Semoga beruntung.




John menahan napas, mencoba meredam luapan emosinya. Dengan perasaan tak menentu, ia membuka lembaran berikutnya. Ketakutannya akan menemukan tulisan Ayah yang lain sama besarnya dengan keinginannya akan itu. Ternyata hanya sebuah halaman kosong. Ia membuka lagi dan mulai mencari kursi untuk duduk. Bagaimanapun ia telah melupakan Tuhan bertahun-tahun lamanya,dan ini seperti membuka matanya kembali kepada jalan itu. Dengan hati berdebar-debar, ia mulai membuka halaman demi halaman. 

Pada lembaran ke lima, ia menemukan sebuah amplop yang sangat rapi di sana. Direkatkan dengan sangat teliti. Ia mengamati amplop itu, dan tiba-tiba wajahnya memerah. Ia melompat gusar dari kursinya, meletakkan kitab suci pada meja dan dengan was-was membuka amplop tersebut. 


Seperti dugaannya, di dalam amplop tersebut, tersimpan rapi sebuah kunci mobil bertuliskan FORD lengkap dengan kuitansinya. Tanggal pembeliannya adalah satu hari sebelum tanggal wisudanya. Tepat enam tahun yang lalu.


 John terduduk lemas, masih dengan tak percaya menatap kunci mobil yang masih baru itu. Ini seperti sebuah mimpi. Ia pernah berharap mimpi ini menjadi nyata enam tahun yang lalu.

Tersadar akan sesuatu, ia langsung berdiri. John dapat merasakan kepalanya berdenyut. Vertigo mulai datang menyerang lagi. Sebagian dirinya mendorongnya untuk pergi dan sebagian yang lain memintanya untuk tinggal. Kini seolah-olah bayangan ayahnya dan mobil sport Ford yang ia impikan enam tahun lalu memenuhi ruangan kamar itu, berputar-putar mengelilinginya, menertawakannya secara menggila. Ia dapat merasakan keringat membasahi sekujur tubuhnya. 


Dengan panik John berlari keluar dari kamar ayahnya dan bertubrukan dengan Michael. Adiknya itu memandangnya dengan dingin, kemudian beralih pada pintu kamar Ayah yang terbuka, kemudian kembali pada John dengan pandangan bertanya-tanya dan menuduh. 


Tanpa mempedulikannya, John berlari keluar rumah, menyapu sekeliling dengan pandangan mata putus asa. 

“Mencarinya? Kau masih ingat gudang itu, 'kan? Ayah sudah mengubahnya dan apa yang kaucari ada di sana.”

Tiba-tiba Susan sudah berdiri di belakang John. Wajahnya setenang gunung es. Justeru ketenangan seperti itulah yang membuat John merinding. Ia mengikuti saja langkah kaki Susan yang memandunya ke belakang rumah mereka. Sebuah tempat yang sudah mengalami renovasi sedemikian rupa. Melihat pintunya dengan cat yang terlihat lebih baru dari sebelumya membuat hati John perih. Rupanya Ayah sudah mempersiapkan segalanya untuknya, namun ia telah menghancurkan semua itu dengan keegoisannya. Ia tak bisa bayangkan bagaimana kecewanya Ayah saat itu.

“Ayah sudah mempersiapkan segalanya untukmu.” Susan memasukkan anak kunci pada gembok, memberi isyarat pada John untuk mendorong pintunya.“Kuharap kau tahu betapa ia sangat mencintaimu.”

John tak menjawab. Tak ada jawaban yang benar-benar bisa ia berikan untuk kalimat itu. 


 Di hadapannya, sesuatu yang besar terbungkus oleh parasut biru tua. Dengan tangan gemetar, ia menarik penutup parasut itu. 


Di sana, sebuah mobil sport hitam Ford yang masih mengkilap berdiri dengan gagahnya.


 John dapat merasakan wajahnya memanas. Air matanya mengalir lebih deras saat membuka pintu mobil dan menemukan apa yang sedang menghiasi interiornya. 

Sebuah foto ayahnya, yang sedang menggendong bayi John. Tampak jelas senyum bahagia seorang pria yang baru saja menjadi seorang ayah dari putera pertamanya. Kemudian di balik foto itu terselip sebuah tulisan yang mulai buram : 




Kau adalah keajaiban terbesar. Aku tak pernah ingin kehilangan ini.  Selamanya.

John dapat merasakan langit di atasnya runtuh, di mana ia terjebak di antara puing-puingnya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE SMILEY FACE

SENTUHAN MIDAS