JALAN BERBEDA
Saat pasangan Fitzgerald lebih memilih rumah antik itu sebagai tempat tinggal mereka yang mana sebenarnya tawaran lain datang pada mereka dari sebuah rumah modern dengan harga yang lebih murah, Marie Fitzgerald menyalahkan betapa tidak rasionalnya Thomas Fitzgerald yang dengan mudahnya menghamburkan uang mereka untuk sesuatu yang tidak seharusnya mereka miliki. Namun Thomas selalu mengatakan kalau mereka akan menyukai tempat itu dan Marie harus bersabar untuk menunggu bagaimana proses itu akan berjalan secara alamiah.
Marie adalah si praktis yang efisien berbicara dengan cepat dan dominan sementara Thomas adalah si perfeksionis yang tenang dan pendengar yang baik. Kombinasi kedua unsur yang bersifat saling bertentangan telah menyebabkan mereka melalui lebih banyak pertengkaran dibandingkan beberapa pasangan lainnya. Dalam satu tahun terakhir, Thomas telah enam kali mengangkat telepon untuk berbicara dengan pengacara perceraian, sedangkan Marie mengikuti banyak konseling untuk rumah tangga yang bermasalah. Tapi mereka tidak pernah benar-benar mengikuti sidang perceraian.
Jangan terburu-buru untuk mengatakan kalau mereka sudah tidak memiliki cinta lagi untuk dibagi. Di usia pernikahan mereka yang memasuki tiga puluh tahun, Thomas masih sering merasa cemburu jika Marie menerima telepon dari teman prianya dan sebaliknya. Kehidupan mereka seperti sebuah drama sederhana yang menjadi sedikit menggelikan saat mereka bersikap kekanak-kanakan. Lima tahun yang lalu aku merasa seperti seorang penonton dari kehidupan pasangan Fitzgerald, namun setelah Thomas dan aku sering menghabiskan waktu luang kami dengan menyeruput cokelat panas sambil menghangatkan diri di depan perapian di musim dingin, kini aku merasa telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Seperti pada saat ini di pertengahan Desember, tepat delapan hari sebelum Natal, Thomas tiba-tiba mengetuk pintu rumahku dan menanyakan apakah aku mengalami masalah dengan penghangat ruanganku. Aku mengundangnya masuk dan menawarkan sherry namun ia malah meminta scotch. Untunglah aku masih memiliki sebotol dan ia langsung menghabiskan hampir setengahnya.
Dengan memegang botol scotch yang tinggal setengah di tangan kanannya, Thomas melemparkan dirinya ke atas sofa dan berkata padaku, “Jadi, Ethan, hidup ini seperti pusaran air yang akan menelanmu begitu cepat ke dalamnya jika kau tidak bisa memutar balik kapalmu. Kau tidak mungkin berada di tengah lautan yang luas kalau kau tidak bisa berenang, kecuali kau cukup gila untuk mencoba membunuh dirimu sendiri,”
Ia meneguk minumannya lagi dan kini wajah di hadapanku tampak semakin memerah. Aku berkata, “Kukira tadi kau ingin membahas soal penghangat ruanganku…”
“Well, aku mendapat masalah dengan perapian di rumahku. Kupikir ada sesuatu yang salah di sana. Maksudku, seharusnya Marie tidak melempar apapun ke dalamnya. Dan pie ayam itu terlalu hangus untuk dimakan. Aku hanya bertanya apa yang kaulemparkan ke dalam perapian dan apa kau tidak memperhatikan waktu memasakmu itu. Kau tahu apa yang kudapat ? Dia malah menyebutku egois dan tak berperasaan yang selalu menjadikan dirinya sebagai martir,"
Sekarang aku dapat melihat alasan pria ini mengetuk pintu rumahku dan menghabiskan sebotol scotch dengan cepat. Ada keletihan yang luar biasa di wajahnya yang berkerut namun masih dapat kulihat sisa-sisa ketampanan di sana. Kedua alis dengan ujung-ujungnya yang sedikit mencuat ke atas menampakkan kekerasan hatinya, sangat kontras dengan sepasang mata biru yang sayu di bawahnya. Di balik kekerasan hatinya, sesungguhnya Thomas memiliki perasaan yang sensitif. Ia memang tidak mudah mengalah atau menyerah pada apapun namun ia terbuka untuk kompromi. Hanya saja aku khawatir kalau Marie tak bisa melihat celah kosong dari pria yang telah dinikahinya selama tiga puluh tahun itu yang hanya tampak di matanya sebagai pria tua yang arogan dan mudah tersinggung.
“Mungkin ia sedang dalam suasana hati yang tidak terlalu baik,” aku berkomentar. Aku tidak pernah menikah dan selama ini gambaran tentang pernikahan itu sendiri datang melalui kisah beberapa temanku yang mana kisah itu kebanyakan tidak berakhir bagus. Terkadang mendengar terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh pasangan-pasangan menikah itu telah membuatku ikut merasakan ketakutan dan trauma yang mereka alami. Itulah sebabnya aku memilih untuk tidak menikah walaupun usiaku sudah memasuki tiga puluh lima tahun. Lagipula aku beruntung memiliki pacar yang tidak tertarik pada komitmen. Aku mengencani Tania Corrigant yang hidup di sekeliling teman-teman yang gagal dalam pernikahan mereka yang mana seperti apa yang terjadi padaku, mereka meluapkan semuanya kepada dirinya. Mau tidak mau ia memiliki pandangan yang sama denganku mengenai arti kata pernikahan itu seperti sesuatu yang tampaknya indah dari luar namun penuh kepalsuan di dalamnya, tak lebih dari sekeranjang omong kosong.
“Ia tidak pernah tidak berada dalam suasana hati yang buruk satu hari pun. Kau tahu apa istilah untuk itu ? Seorang pengeluh ? Dulu sekali ia adalah Marie-ku yang manis, mengapa ia semakin tampak asing bagiku ?”
“Waktu berubah, begitu pula orang-orang yang hidup bersamanya," jawabku mencoba memiliki pandangan yang lebih bijaksana meskipun aku sendiri tak merasa kata-kataku itu bisa membantu Thomas mengatasi masalahnya dengan Marie. Masalahnya, aku hanya akan merasa bersalah jika aku ikut-ikutan menjelek-jelekkan Marie di hadapannya, sementara menurutku Marie cukup menyenangkan walaupun ia bisa dibilang sedikit cerewet.
“Waktu hanya terus bergerak maju, sebaliknya manusia memiliki kecenderungan bergerak mundur, maksudku secara moral. Menjadi semakin tidak manusiawi dan suka mendramatisir. Mereka menyukai drama dan semakin emosional atau tragis di dalamnya, semakin mereka tak bisa berhenti mendiskusikannya. Ngomong-ngomong, apa kau masih punya sesuatu lagi ?”
Aku menjawab kalau aku hanya punya sebotol sherry. Thomas tak tertarik pada sherry, kemudian melanjutkan kisahnya, “Sebenarnya, aku mulai merasa semua itu dilakukannya dengan sengaja agar aku meninggalkannya,”
“Mengapa ia harus bersikap seperti itu ?” tanyaku sedikit penasaran.
“Kau pernah mendengar tentang perjanjian pranikah, bukan ? Yahh, kami membuatnya dan yang kuingat salah satunya mengatakan kalau seandainya salah seorang dari kami meninggalkan pasangannya terlebih dahulu, maksudku selain karena alasan kematian dan sebagainya, maka ia tidak akan mendapatkan apapun,"
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menggeser tempat dudukku dan menampakkan ekspresi wajah terkejut sekaligus merasa tertarik untuk mendengar lebih banyak lagi.
“Astaga, itu perjanjian yang sangat mengikat. Dan menurutmu Marie bermaksud menguasai seluruh harta itu ? Tapi itu tidak masuk akal, Tom. Jika ia memang berambisi untuk menguasai harta itu mengapa ia tidak melakukannya sejak dulu ?” kataku.
Thomas mengangkat pundaknya sambil menjawab, “Mungkin saja ia sudah berubah. Kau sendiri kan yang tadi mengatakan kalau manusia bisa berubah mengikuti waktu ? Aku berasumsi kalau seseorang mencoba mengambil keuntungan dari ini semua dan ia mencoba memanfaatkan Marie untuk mencapai keinginannya, “
Aku bertanya dengan hati-hati, “Maksudmu ia berselingkuh ?”
Thomas tidak menjawab dengan kata-kata karena sepertinya bagaimanapun ia tak akan pernah sanggup mendengar kata itu. Cinta memang aneh, pikirku, namun pernikahan adalah sebuah kegilaan tiada akhir. Akan mudah saja mengakhiri sebuah ketidakcocokan dalam hubungan, namun tidak demikian halnya jika kita sudah saling mengucapkan ikrar sampai maut memisahkan dalam pernikahan. Memang selalu ada alternatif perceraian yang mana hal itu akan memakan lebih banyak waktu, tenaga dan uang. Pada situasi seperti ini, aku selalu mensyukuri kondisiku yang tidak harus sibuk memikirkan hal-hal yang tidak beres dalam pernikahan.
Aku dan Tania telah membuat kesepakatan bersama, mungkin semacam perjanjian pranikah ala Thomas, tanpa harus disusun dalam bentuk draft yang resmi dan berkekuatan hukum. Kami sepakat untuk tidak saling mencurigai pasangan, bebas untuk pergi bersama teman-teman tanpa harus selalu menelepon ataupun ditelepon. Satu lagi kesamaan kami adalah kami bukan tipe pasangan pencemburu atau ingin mendapat perhatian setiap saat. Kami sangat mengerti bahwa cinta telah ikut mengalami modernisasi dan beberapa modifikasi yang terjadi di dalamnya akan membantu manusia untuk menjadi lebih terbuka dan demokratis. Ini akan meminimalisir rasa frustasi akibat hubungan yang gagal karena cinta tidak akan menjadi seratus persen di dalamnya, selalu ada elemen pengurang di dalamnya dan kita harus mempertimbangkan resiko-resiko seperti kebosanan, ketidakcocokan karakter dan prinsip, perselingkuhan dan sebagainya. Aku tidak sedang mengatakan kalau aku tidak mencintai Tania atau sebaliknya, hanya saja kami memiliki cara yang berbeda dalam hal tersebut, mencoba realistis bahwa kami bukan satu-satunya pria atau wanita yang memiliki begitu banyak keistimewaan untuk bisa membuat pasangan akan mencintai kita seumur hidup tanpa pernah mau melihat pada keindahan-keindahan lain di luar dari diri kita. Sebenarnya kami hanya merasa perlu untuk melatih diri kami dengan kemungkinan kehilangan satu sama lain yang bisa datang kapanpun.
“Kau percaya itu mungkin saja terjadi, bukan ?” Thomas balik bertanya.
Walaupun aku memiliki pandangan yang skeptis terhadap pernikahan namun aku tak akan pernah menyarankan perceraian ataupun ide-ide yang buruk untuk menyakiti pasangan, maka aku hanya menjawab, “Tidak juga. Menurutku Marie tidak sampai sejauh itu. Ia mencintaimu, kau tahu itu hanya saja kau tidak pernah benar-benar bisa melihatnya,”
Sepertinya Thomas baru saja mendengar sesuatu yang di luar dugaannya karena yang terjadi selanjutnya adalah ia hanya memandangku selama beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Bagaimana bisa aku yakin ia mencintaiku jika ia tidak pernah bersikap baik padaku ?”
“Kalian sudah menikah selama tiga puluh tahun dan jika tak ada cinta di dalamnya kalian tidak akan bertahan sampai sekarang, bukan ?”
Aku tak percaya kata-kata ‘ajaib’ itu meluncur dengan mudahnya dari mulutku, sementara selama ini pernikahan hanya seperti sebuah bayangan bagiku, tak berwujud dan tak akan mungkin menjadi bagian dari kehidupanku. Aku tak peduli jika itu akan terdengar aneh dan dibuat-buat, namun aku hanya ingin sekali-kali Thomas mengurangi kekeraskepalaannya dan mulai belajar mendengarkan. Aku memang tak bisa menebak-nebak rencana Thomas, hanya saja aku yakin ia sedang merencanakan sesuatu. Tidak mudah membuat Thomas duduk dengan tenang dan menganggap segala hal baik-baik saja saat ia pikir situasi sebenarnya justeru memberitahunya hal yang sebaliknya.
Tampaknya Thomas tidak benar-benar mendengarkan. Kata-kataku sama sekali tidak mempengaruhinya. Ia berkata, “Aku punya rencana, tapi aku akan memerlukan sedikit bantuan darimu,”
Aku tak pernah senang mendengar kata rencana dalam versi Thomas. Sudah beberapa kali aku harus melakukan hal-hal bodoh dengan rencananya, dan yang terburuk adalah aku terus menerus mencoba untuk percaya bahwa seseorang di luar sana kini sudah memaafkanku atas hal buruk yang pernah kulakukan padanya sebagai konsekuensi dari rencana Thomas yang gagal. Dalam spontanitas aku langsung menolaknya, “Oh, tidak lagi, Tom. Tidak lagi dengan rencana-rencana gilamu itu,"
Thomas tidak terlihat tersinggung melainkan dengan sedikit merengek secara kekanak-kanakkan ia berkata, “Ayolah, Ethan. Aku berjanji ini akan menjadi permintaanku yang terakhir. Lagipula aku hanya memerlukan sedikit bantuan darimu. Kontribusimu tidak akan sebanyak sebelumnya,"
“Tidak, maafkan aku. Tapi aku harus menolaknya," aku memotong dengan cepat.
“Kau bahkan tak bertanya rencana semacam apa," Thomas menggerutu.
“Terakhir kali aku setuju dengan rencanamu aku telah menyebabkan seorang pria mengalami patah tulang,“ kataku dengan nada getir.
Walaupun kabar terakhir yang kudengar cukup membuatku lega bahwa pria itu sekarang baik-baik saja dan kembali bekerja seperti biasanya. Kenyataan bahwa pria itu tidak membayar apapun selama pengobatan adalah satu-satunya hal yang membuatku sedikit terhibur dan tidak harus selalu dihantui oleh rasa bersalah. Aku membayar seluruh biaya rumah sakit dan memberikan nama anonim dalam data administratif mereka. Yang penting aku sudah mencoba melakukan sedikit kebaikan yang mana aku hanya berharap hal itu sepadan dengan akibat yang kutimbulkan. Aku tak akan membahayakan nyawa seseorang lagi hanya karena ide-ide gila Thomas dan rencana yang gagal.
“Sebenarnya," Thomas berkata tanpa rasa bersalah di wajahnya, "Yang harus kaulakukan tak akan seburuk itu,”
Aku menyeringai, mengenali siasat Thomas untuk membuatku percaya bahwa tidak ada yang berbahaya dalam permainan kali ini. Aku menggeleng, mencoba mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan kami, namun Thomas seperti seorang striker dalam sepakbola yang semakin mempercepat larinya saat mendekati gawang lawan. Pria itu menyadari bahwa bagaimanapun aku akan merasa tak nyaman jika harus menolaknya atas permohonannya yang terus menerus dilakukannya bahkan mungkin sampai pada kesan seperti mengemis. Lagipula ia pernah menolongku beberapa kali dalam masalah keuangan saat aku benar-benar hampir tak memiliki apapun lagi karena investasi yang gagal. Hal itu menjadi faktor penambah dalam keterikatan emosionalku dengannya sehingga aku hampir tak pernah menolak permintaannya. Bahkan mungkin saja ini adalah penolakanku yang pertama.
“Kau tidak mungkin tidak membantuku, Ethan !!!” kini Thomas mulai terlihat jengkel. Ia menatapku seperti seorang bocah yang sedang memandangi seseorang yang baru saja merebut arumanis dari tangannya.
“Aku mungkin bisa mengusahakan hal lain untukmu, Tom. Tapi jika kau akan memintaku melakukan hal-hal gila semacam itu lagi,"
“Tidak ada hal gila yang akan terjadi !" Thomas memotong dengan marah, lalu tanpa menunggu tanggapan dariku dengan keangkuhan yang menjadi tipikal pada dirinya ia melanjutkan, “Sebenarnya aku bukan tipe suami yang cerewet, sebaliknya aku cukup demokratis terhadap Marie. Justeru Marie yang lebih sering melarangku melakukan ini dan itu,”
Aku mencoba mengingat-ingat sudah berapa kali Thomas mengatakan hal yang sama mengenai itu. Ia melanjutkan, “Belakangan ini ia senang bepergian, maksudku bukan bepergian seperti biasanya. Tidak ada lagi teman-teman wanita yang menjemputnya tapi Marie tetap pergi. Malah ia pernah mengatakan kalau ia merasa lebih senang bepergian seorang diri. Ia menolak kutemani dengan alasan mengkhawatirkan kesehatanku. Segalanya memang masuk akal karena ia yang harus selalu direpotkan dengan obat-obatku itu. Ia tak percaya pada siapapun,"
Sampai di sini Thomas berhenti sejenak untuk menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Ada nada sayang dalam suaranya dan tatapannya menerawang seolah-olah ia sedang merindukan seseorang. Aku menawarkan sari jahe. Ia tak menolak. Sambil menyeruput sari jahe yang hangat ia melanjutkan kisahnya, “Baru kusadari kemudian ada yang salah. Ia terlalu sering keluar, dan saat aku memberinya nasihat mengenai hal itu ia menjadi sangat marah padaku. Seperti biasanya semua itu selalu berakhir dengan pertengkaran. Kadang-kadang kupikir seharusnya aku tidak perlu bertanya dan kubiarkan saja situasinya tetap seperti itu karena apapun yang ditemuinya di luar sana pastilah sesuatu yang telah membuatnya begitu bahagia. Suasana hatinya memang mudah berubah setiap saat tapi aku tahu kalau seseorang di luar sana pastilah yang menyebabkannya begitu bersemangat dan merasa muda kembali,"
Tanpa bisa mengendalikan diri aku menginterupsinya, “Tunggu dulu, Tom. Itu bisa berarti banyak hal. Aku yakin Marie memiliki penjelasan yang masuk akal mengenai hal itu, “
Thomas tidak menghiraukanku dan melanjutkan, “Kemudian datanglah surat-surat tak dikenal itu. Maksudku, sebelumnya selama menikah denganku Marie tak pernah menerima surat. Kalaupun ia menerima kartu ucapan atau kartu pos, ia selalu memberitahuku. Tapi hal itu hanya terjadi selama satu kali dalam setahun. Aku bertanya siapakah orang yang secara rutin mengirimkan surat-surat itu padanya, tentu saja dengan maksud baik karena aku akan cukup senang jika Marie bisa sedikit terhibur dengan memiliki sahabat pena semacam itu. Tapi bukannya menjawab pertanyaanku melainkan ia mulai mencari-cari alasan untuk memulai pertengkaran kami. Sejak saat itu aku mulai mencurigainya karena tidak seharusnya ia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak senang jika ia mulai memiliki rahasia,”
Kalimat terakhir Thomas terdengar sedikit menggelikan di telingaku walaupun aku sedapat mungkin menahan tawaku agar tidak membuatnya tersinggung. Sekarang pria itu tidak berusaha menutupi kecemburuannya lagi walaupun mungkin saja hal itu dilakukannya tanpa disadarinya.
“Aku bisa saja mengabaikan surat-surat itu dan mencoba percaya bahwa Marie berubah menjadi seperti dirinya lima puluh tahun yang lalu. Seorang anak kecil yang senang menyembunyikan mainan-mainannya karena takut teman-temannya akan mengambil mainan-mainan itu dari tangannya. Tapi yang menggangguku adalah pada apa yang dilakukan Marie ternyata lebih dari itu. Pertama-tama ia menjual kalung mutiara peninggalan neneknya dengan dalih sudah ketinggalan jaman dan ia tidak terlalu menyukai modelnya. Aku bertanya mengapa jika ia tidak menyukainya ia tidak membiarkan saja Adelaide, saudarinya yang tinggal di Yorkshire itu memilikinya karena kami tahu kalau wanita itu begitu menginginkannya. Lagi-lagi ia memberikan jawaban yang tidak masuk akal dan nyaris tidak terdengar seperti jawaban di telingaku. Aku tahu memang bukan urusanku mengenai kalung itu namun bagiku peninggalan keluarga yang telah diwariskan beberapa generasi adalah seperti pusaka yang tak ternilai harganya. Bahkan aku akan rela kehabisan uang tanpa berpikir untuk menjual pusaka keluarga. Apalagi kalung mutiara itu bukan imitasi dan itu memiliki harga yang lumayan terutama jika kau tidak terburu-buru menjualnya,”
“Apa ia mendapatkan harga yang bagus ? Mengapa ia tidak menggadaikannya saja ? Apakah ia sedang terlibat hutang ?” tanyaku menjadi lebih berminat dari sebelumnya.
Thomas meneguk sari jahenya lagi dan menjawab dengan wajah yang tampak sedang berpikir keras, “Itulah yang menjadi pertanyaanku. Selama ini kami hidup secara sederhana dan ia bukan tipe orang yang suka berpesta ataupun menghambur-hamburkan uang untuk memiliki sesuatu yang tak penting. Kau ingat kan bagaimana ia mengomeliku hanya karena aku membeli rumah antik dengan harga yang sedikit lebih mahal dari tipe rumah modern yang diinginkannya ? Jadi rasanya aneh kalau sampai ia harus terlibat hutang. Kami menabung secara teratur untuk bisa membeli rumah. Kami tak pernah meminjam dari bank bukan karena kami terlalu angkuh. Hanya saja kami memiliki pendapat yang sama mengenai hal ini bahwa hidup menjadi jauh lebih damai jika kita tak memiliki hutang,"
“Ya, kau benar," aku menggumam. Aku langsung teringat pada rencana Tania dan aku yang memutuskan untuk memiliki hipotik dengan beban bulanan dan uang muka yang ditanggung bersama. Kami telah membicarakan rencana untuk hidup bersama selama beberapa pekan terakhir, namun kemudian kami selalu tak pernah yakin dengan rencana kami tersebut.
“Kemudian surat-surat itu, tak sekalipun Marie berpikir untuk menunjukkannya kepadaku. Ia selalu mengatakan kalau surat-surat itu datang dari teman lama namun ia tak pernah menyebutkan nama temannya itu. Tidak biasanya kami menyimpan rahasia semacam itu, maksudku kami selalu terbuka mengenai siapa saja yang menjadi teman kami, teman Marie saja atau temanku saja. Pokoknya seharusnya tidak ada rahasia di antara kami. Aku pernah mencoba memeriksa lacinya di mana aku pernah melihatnya menyimpan surat-surat itu di dalamnya. Seperti dugaanku sebelumnya, laci itu terkunci dan Marie selalu membawa kunci itu ke mana pun ia pergi,”
“Mungkin hanya berisi hal-hal konyol. Well, kadang-kadang kita memang suka mengenang hal-hal menggelikan di masa lalu. Masuk akal jika ia tidak ingin kau mengetahuinya karena menurutnya kau bisa saja menertawakan kebodohannya,"
“Tapi aku tak pernah melakukan itu," suara Thomas bernada protes. Ia melanjutkan lagi kali ini dengan nada suara yang mengandung kekecewaan seperti seseorang yang sedang patah hati karena telah dikhianati, “Aku lebih sering langsung mengkritik apa yang ia lakukan ketimbang menertawakannya. Kau tahu aku tidak memiliki selera humor yang bagus. Menurutku yang sedang terjadi adalah Marie berselingkuh,”
“Astaga, Tom ! Itu tuduhan yang serius !”
Walaupun aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kami, namun aku tak menduga Thomas akan secara lugas mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya itu. Bagaimanapun aku tak pernah menginginkan hal itu terjadi dalam pernikahan mereka, namun tetap saja ada kemungkinan Marie sedang mengalami fase pubertasnya yang kedua.
“Itu tidak mungkin terjadi. Pasti Marie memiliki penjelasan mengenai hal ini. Tidakkah sebaiknya kalian kembali membicarakan hal ini secara baik-baik ?”
Aku semakin merasa seperti konsultan pernikahan saja. Thomas meletakkan gelasnya yang baru kusadari telah kosong sejak beberapa menit yang lalu namun ia masih saja memegangnya. Kemudian dengan kedua mata yang lurus menatapku ia berkata, “Karena itu aku memerlukan sedikit bantuanmu, Ethan. Kau sudah mendengar semuanya dan sebaiknya kita mulai menyusun rencana …”
Aku mengangkat bahu tanpa bermaksud menunjukkan ketidaktertarikan, hanya seperti spontanitas dari bahasa tubuh yang mengatakan bahwa aku tidak setuju mengenai suatu hal. Untunglah gerakanku itu tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam sudut pandang Thomas. Aku berkata dengan hati-hati, “Sebenarnya tidak memerlukan rencana apapun, Tom. Kau bisa bertanya secara baik-baik padanya. Masalah ini menyangkut sesuatu yang bersifat sangat pribadi dan aku tak yakin aku adalah orang yang tepat untuk terlibat dalam hal semacam ini. Tidak ada salahnya menjadi sedikit rendah hati jika dengan begitu bisa meredam kemarahan Marie,“
“Kaupikir Marie sengaja melakukan ini hanya untuk membalas dendam padaku ?” tanya Thomas sambil bangkit dengan marah. Aku tak tahu dari mana Thomas memiliki pemikiran semacam itu. Aku mencoba menenangkan dirinya dan menyuruhnya kembali duduk. Perlu dilakukan pendekatan sedikit lebih mirip dengan membujuk seorang bocah agar mau memakan brokoli.
“Aku tidak mengatakan seperti itu," jawabku tenang. Saat aku mengatakan hal tersebut aku menghindari bertatap mata dengannya namun aku tahu kalau Thomas sedang menatapku. Beberapa detik kemudian ia kembali duduk, kali ini dengan sedikit menghempaskan tubuhnya yang tampak letih. Ia menunggu aku melanjutkan kata-kataku tanpa mengatakan apapun. Wajahnya cemberut.
Sebenarnya aku memiliki gagasan namun aku tak yakin kami benar-benar harus melakukannya karena menurut pengamatanku permasalahan yang terjadi adalah kurangnya komunikasi di antara mereka. Marie enggan bersikap terbuka pada Thomas dan sebaliknya hal itu memicu kecurigaan Thomas yang notabene sudah memiliki potensi kecemburuan dalam dirinya sejak lama walaupun ia tak mau secara terang-terangan mengakuinya. Aku berharap bisa lebih memaksa Thomas untuk mulai memperbaiki beberapa hal yang tidak pada tempatnya. Jika hal itu tidak segera dilakukan bukan tidak mungkin akhirnya mereka benar-benar harus berpisah dan tentu saja aku tak pernah menginginkan hal itu terjadi pada pernikahan mereka.
“Menurutku kau tetap harus membicarakan hal ini pada Marie. Kau bisa bertanya langsung padanya, namun jangan menimbulkan kesan kau mencurigainya atas sesuatu karena itu hanya akan membuatnya semakin menarik diri. Kau tidak akan bisa menemukan jawaban yang kau inginkan jika hatimu dipenuhi oleh prasangka dan rasa cemburu,”
Thomas memperbaiki posisi duduknya dengan sikap sedikit gelisah sambil menggumam, “Aku tidak cemburu,"
Aku menahan senyum, merasa geli pada kenyataan di usia setua itu bahkan Thomas masih enggan mengakui perasaan sebenarnya pada pasangannya. Dengan sedikit perasaan bersalah aku berkata dalam hati seandainya Marie berselingkuh ataupun meninggalkannya maka itu adalah harga yang pantas untuk keangkuhan dan kekerasan hati pria tersebut. Aku berkata dengan keyakinan bahwa efek dari kata-kataku selanjutnya pastilah seperti strike dalam permainan bowling, “Kalau begitu biarkan saja seperti iu,"
Thomas memandangku dengan wajah terkejut, “Apa maksudmu ?”
“Well, maksudku jika kau tak cemburu, maka biarkan saja ia melakukan apapun yang diinginkannya selama itu bisa membuatnya bahagia,"
Thomas menggerutu dengan wajah kesal, tapi tanpa melihat pada wajahku, “Kau gila, kami adalah pasangan menikah. Mana mungkin aku membiakannya memiliki pasangan lain ?”
“Kalau begitu kau harus mempertahankan pernikahan kalian dengan cara yang bijaksana. Hadapi permasalahan ini seperti seorang pria sejati,"
Aku melihat pada jam dinding kuno dengan burung kakaktua tiruan yang konyol bertengger pada pintu yang dibuat menyerupai lubang pada rumah pohon. Rasanya sudah lama sekali sebagian dari benda itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kini burung kakaktua itu tidak akan pernah masuk kembali ke dalam lubang pohonnya karena kerusakan yang menyedihkan. Tapi jarum jamnya masih berfungsi dengan baik. Sudah hampir lima belas tahun jam dinding dengan desain kuno itu menghiasi wallpaper ruang keluarga dengan ornament oriental yang agak kontras dengan beberapa furniture bergaya modern. Kadang-kadang aku memang suka bereksperimen dengan pola-pola tertentu dan biasanya lukisan bergaya surealis lebih mudah menarik minatku, satu-satunya hal yang tidak terlalu disukai oleh Tania dari seleraku. Kali ini perhatianku sedikit teralihkan pada jam dinding tersebut karena kusadari seharusnya aku sudah mengeluarkan pizza itu dari microwave kurang lebih tiga menit yang lalu. Kini ada aroma khas yang tidak terlalu kusukai datang dari pantry. Dengan bergegas aku mencoba menyelamatkan pizza-ku, satu-satunya makan malam yang kumiliki pada malam ini. Untunglah aku masih bisa melihat pizza dengan warna kecokelatan yang sempurna dengan toping paprika, mushroom, irisan beef dan jagung manis yang berwarna-warni.
“Kau ingin makan malam pizza di sini bersamaku, Tom ?” tanyaku pada Thomas yang sedang berdiri dengan menyandarkan lengan kirinya pada jalan masuk pantry.
“Kelihatannya lezat, tapi sudah terlalu malam untuk makan bagi pria seusiaku. Aku harus mengatur diet-ku secara disiplin jika ingin hidup lebih lama lagi di bumi ini,” kata Thomas serius walaupun tetap saja aku tertawa mendengarnya.
“Apa Tania akan datang ?” tanyanya sambil memandang pizza yang mungkin menurutnya agak terlalu besar untuk dimakan oleh satu orang saja. Aku memang biasa memulai sarapan dengan sisa pizza yang dipanaskan yang mana untuk orang seperti Thomas hal itu mungkin tidak akan pernah dilakukannya seumur hidupnya.
“Tidak, ia lembur beberapa malam ini. Hal yang biasa terjadi menjelang Natal … “ jawabku sambil mengeluarkan saus mayo dari kulkas.
Kudengar Thomas menarik napas dengan berat kemudian menghembuskannya dan bertanya lagi, “Bagaimana kau melalui ini semua, Ethan ?”
Aku menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Ia melanjutkan, “Tanpa ada waktu berkualitas yang bisa dihabiskan bersama. Aku yakin kalian masih sangat sedikit berbagi senang maupun duka. Kalian mengambil keputusan yang tepat untuk menunda pernikahan, karena pernikahan hanya akan membuatnya semakin rumit,"
Aku tersenyum samar mencoba menghargai pendapatnya yang sebenarnya tidak sepenuhnya tepat itu dan berkata, “Sebenarnya kami bukan menundanya. Kami hanya merasa tak akan pernah siap dengan pernikahan dan komitmen semacam itu. Kami menikmati hubungan seperti ini karena kami sepakat untuk tidak memberikan batasan atau merubah diri kami maupun pasangan kami,"
Thomas menatapku dengan tatapan seolah-olah akan menelan diriku hidup-hidup. Sepertinya kalimatku itu telah membuatnya merasa sedikit takjub, namun yang keluar dari mulutnya lebih mirip seperti semacam sindiran, “Cinta tanpa pamrih, ya ?”
Aku mengangkat bahuku dengan enggan, “Entahlah, menurutku tidak ada istilah yang terlalu tepat untuk itu,"
Hening sejenak. Thomas berkata lagi, “Kau beruntung tidak mengalami kegagalan dalam pernikahan. Kau tidak perlu merasakan betapa menyakitkannya jika isterimu mengkhianatimu, rasanya jauh lebih buruk jika pacarmu yang meninggalkanmu,"
“Yang benar saja, Tom. Kegagalan ? Kalian hanya perlu membereskan beberapa hal yang tidak berada di tempat semestinya. Aku tidak mengalami semua ini karena aku tak pernah memulainya. Jadi aku tak yakin siapa yang lebih beruntung di antara kita berdua,”
“Yaahh … “ Thomas mendesah dengan cara yang menurutku agak terlalu dramatis namun aku langsung bisa memahami alasannya melakukan itu. Ia melanjutkan, “Sebenarnya itu tidak begitu penting karena kau tidak harus memohon pada seorang teman untuk membantumu melakukan sesuatu untukmu,"
Sindiran itu mengena, namun yang terjadi sebenarnya adalah aku hanya tak ingin kami menghabiskan malam ini dengan terus berdebat mengenai hal tersebut. Aku menarik napas, menahannya beberapa detik lebih lama sebelum menghembuskannya bersama rasio dan dorongan emosional yang saling berdiskusi mengenai hal terbaik yang harus dilakukan. Jika aku mengikuti rasioku, aku percaya sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dan saatnya untuk mencari tahu. Dan jika mengikuti dorongan emosionalku, mencurigai hal tersebut yang belum tentu benar akan menjadi sedikit tidak etis. Dalam dilema yang kuhadapi, aku melemparkan pandangan pada Thomas yang juga sedang menatapku dengan pandangan memohon seolah-olah bahkan saat itu jika aku memintanya untuk berlutut di hadapanku ia akan melakukannya. Rasa-rasanya aku menghabiskan waktu cukup lama untuk memutuskan sebelum akhirnya aku berkata dengan nada yang terdengar toleran, “Baiklah, Tom. Aku akan membantumu, tapi sebenarnya aku hanya akan membantumu melakukannya dengan caraku. Jangan pernah berpikir aku tidak mau membantumu, hanya saja aku tak ingin menempatkan diri di pihak manapun. Aku tidak bisa bersikap kontradiktif padamu maupun Marie. Jadi anggap saja ini sebagai salah satu upayaku untuk membantu kalian berdua,"
Aku melihat senyuman samar di wajah Thomas yang seolah-olah mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terucap. Aku melanjutkan, “Aku memiliki seorang teman yang bekerja di kantor pos. Dengan alasan yang masuk akal menurutku Hayden tidak akan keberatan membantu. Sebenarnya aku bisa saja menelepon dirinya untukmu, tetapi … “
Thomas menunggu jawabanku dengan alis kiri yang terangkat dan sikap menunggu dengan agak tidak sabar. Aku melanjutkan dengan perasaan tidak nyaman, “Jika itu kulakukan maka sama saja dengan aku ikut campur urusan rumah tangga kalian,”
“Oh, ayolah, Ethan !” Thomas berseru dengan gemas.
Aku menggeleng tegas, “Masalahnya, Tom. Aku tak bisa memilih antara kau dan Marie,"
“Tapi aku tidak memintamu untuk memilih salah satu dari kami," potong Thomas dengan cepat. Sebelum memberiku kesempatan untuk bicara lagi ia melanjutkan, “Seperti katamu tadi, anggap saja ini sebagai salah satu upayaku untuk membantu kalian berdua. Kau benar, itu akan sangat membantu. Jika ini tidak segera dilakukan, aku akan selalu mencurigai Marie, aku tak akan pernah bisa mempercayainya lagi. Tapi jika kau tetap tidak ingin membantuku, maka aku tidak akan memaksa lagi. Hanya saja jangan pernah menghalangi perpisahan kami jika memang itu yang harus terjadi,"
Aku merasa seolah ada rantai gaib yang mencekik tenggorokanku sehingga terasa sangat sakit. Aku mencoba untuk berkomentar mengenai hal itu, namun tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili perasaanku saat ini. Bukan tanpa alasan jika aku membenci perceraian. Sebenarnya bukan hanya kisah-kisah tragis yang kudengar dari luar sana, namun sesuatu yang lebih besar dari itu. Kedua orang tuaku bercerai dan saat aku diasuh secara bergantian oleh ayah dan ibuku adalah masa-masa yang paling sulit karena ternyata mereka telah memiliki kehidupan baru yang tak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Mereka masing-masing telah menikah dan memiliki anak-anak yang bukan saudara maupun saudari kandungku. Mereka hanya melihatku tidak lebih dari seorang anak yang terabaikan namun tidak cukup patut untuk dikasihani. Aku tidak ingin menjadi seperti itu. Saudariku bersikap lebih tenang dan seolah-olah ia tidak pernah menganggap serius perlakuan buruk mereka terhadap dirinya. Kupikir saat itu aku bisa berlindung di baliknya, namun baru kusadari beberapa waktu kemudian bahwa aku salah jika berpikir ia akan menjadi malaikat penjagaku. Ia bahkan telah meninggalkanku sebelum sempat menyelamatkanku. Ia meninggalkanku sendirian dalam kesepian dan rasa frustasi yang berkepanjangan. Kalimat terakhir Thomas menjadi seperti déjà vu bagiku.
“Tidak … !” tanpa sadar aku berseru dengan agak terlalu keras sehingga Thomas tampak sedikit terkejut dengan perubahan emosiku yang begitu tiba-tiba. Mencoba memunculkan kembali kontrol diriku yang selama ini selalu berhasil kulakukan aku berkata lagi, “Aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi, Tom. Jangan khawatir, aku akan melakukan apapun untuk mencegah itu terjadi,"
Thomas menatapku seolah-olah ia sedang berhadapan dengan orang asing. Aku tidak tahu apa yang dilihatnya dariku atau apa yang kubiarkan untuk terlihat olehnya. Ia diam beberapa detik lebih lama seperti seseorang yang terkesima atas sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Ya, terima kasih, Ethan. Kau baik sekali," ia berhenti dengan ragu-ragu, kemudian bertanya dengan sangat hati-hati seolah-olah sewaktu-waktu aku akan menyerangnya dan mencabik-cabiknya, “Ethan, apa kau baik-baik saja ?”
Aku menuangkan segelas air untukku dan meminumnya dengan cara yang tak biasa. Rasanya kenangan-kenangan di masa lalu yang hampir tak pernah muncul lagi itu kini perlahan-lahan mulai menyapaku kembali. Bayang-bayang kemarahan ayah dan ibu, pertengkaran dan percobaan untuk saling membunuh satu sama lain, tubuh kaku Jessica yang tergantung seperti boneka usang pada seutas tali, kata-kata jahat yang diucapkan terus menerus untuk membuatku percaya bahwa memang begitulah diriku, bahwa aku memang pantas menerima segala perlakuan buruk itu. Sepertinya aku hampir menghabiskan seluruh isi teko air itu sebelum kemudian kusadari Thomas tampak agak ketakutan dengan sikapku. Ia masih berdiri di tempatnya seperti sebuah patung pualam tua. Aku mengusap wajahku, menyadari bahwa hampir saja aku terbawa kenangan masa lalu yang sudah lama sekali ingin kulupakan itu dan berkata seolah-olah tak ada yang salah dengan diriku, “Eh iya, Tom. Tentu saja, aku akan menelepon Hayden untukmu,"
Thomas tampak ragu-ragu lagi dan berkata lirih, “Sebenarnya tidak apa-apa jika aku yang menelepon. Maksudnya jika itu akan … “
Aku memotong dengan cepat dan entah mengapa terdengar seperti tersinggung atas ucapan Thomas tersebut, “Sudah kubilang aku yang akan melakukannya. Jangan khawatir. Tunggu saja kabar dariku,"
“Baiklah,"
Rasanya suara Thomas terdengar seperti angin di telingaku, begitu jauh dan tidak nyata. Ia memohon diri dengan agak canggung sampai-sampai ia melupakan mantel dan topinya. Aku melihatnya kembali untuk mengambil kedua benda itu dengan terburu-buru tanpa menyapaku atau mengatakan apapun. Aku mengambil potongan pizza yang mulai agak dingin itu dan memakannya satu persatu dengan rakus. Aku tidak bisa merasakan kelezatannya dan aku pun tak peduli bahkan saat aku menemukan piring yang kosong. Aku menghabiskan pizza berukuran besar dengan cara gila yang menurutku tak akan mungkin kulakukan dalam kondisi psikis yang normal.
Setelah terbangun pada keesokan paginya aku merasakan perasaan yang jauh lebih baik. Hal pertama yang kulakukan adalah mulai mencari nama Hayden Worths di buku telepon dan menekan nomor-nomornya. Hayden tidak langsung mengangkat teleponnya dan aku tak tahu harus menunggu berapa lama lagi untuk bisa berbicara dengannya. Aku tidak memiliki kesabaran untuk terus menelepon setiap menit, tepatnya tidak memiliki kegigihan untuk itu. Aku melihat pada jam di kamarku, jam 7.20 pagi. Waktu yang seharusnya tepat untuk menelepon karena aku tahu persis jam kerja Hayden adalah dari jam 9 pagi sampai dengan jam 5 sore. Untunglah hari ini hari Sabtu, jadi aku sedang tidak bekerja hari ini. Aku sedang terlalu malas untuk melakukan sesuatu di luar. Lagipula kulihat melalui jendela bahwa salju semakin menebal. Hanya ada beberapa remaja yang tampaknya menikmati suasana itu dan melakukan banyak kesenangan bersama teman-teman mereka. Bahkan suara tawa mereka terdengar menembus melalui jendela kaca kamarku yang sedikit terbuka.
Akhirnya terdengar juga suara Hayden dari seberang sana yang begitu bersemangat seperti biasanya. Suaranya mengingatkanku pada Ryan Seacrest. Aku membayangkan ia sedang berada di antara mesin espresso dan toaster yang menyala sambil mencoba menjangkau remote control di atas sofa dan pesawat telepon secara bersamaan. Suara Hayden yang mengalir tenang kontras dengan sikapnya yang selalu tampak terburu-buru. Walaupun sebenarnya tidak ada sesuatu yang sedang mengejarnya namun pria itu seolah-olah terlahir sebagai seseorang yang menganggap waktu adalah rival yang harus ditaklukannya setiap saat. Aku tak bisa memahami jalan pikirannya yang selalu mencoba mengungguli waktu walaupun konsekuensi dari sikap disiplinnya itu menimbulkan pujian dan kritik sekaligus. Hayden bukan tipe orang yang peduli pada kedua hal tersebut. Ia hidup di dunianya yang menurutnya selalu memiliki kejutan di setiap sudutnya, di mana tugasnya adalah mencari hal-hal yang tak terduga dari labirin kehidupan tersebut.
Aku membuang banyak bagian basa-basi yang tak penting dari panggilanku yang pertama di bulan Desember untuknya. Langsung pada intinya, aku tak menemukan kesulitan membuatnya mengingat nama Marie Fitzgerald dari sekian banyak surat yang ditanganinya. Ia berkata, “Ya, tentu saja aku bisa mengingatnya dengan baik. Surat itu datang setiap hari dan selalu dibalas pada hari yang sama. Biasanya Mrs. Fitzgerald sendiri yang mengantarkan surat balasan tersebut. Akhir-akhir ini ia meminta kami untuk berhenti mengirimkan surat-surat yang datang untuknya karena ia memutuskan untuk mengambilnya sendiri,"
“Kau tidak keberatan jika aku ingin tahu siapa nama pengirimnya ?” tanyaku dengan perasaan berdebar-debar karena takut akan menemukan apa yang sebenarnya sama sekali tak pernah ingin kutemukan.
“Tunggu, beri aku waktu," Hayden diam sejenak. Sepertinya ia sedang mengambil roti dari toaster dan aku mendengar kebisingan singkat dari persiapan sarapan pagi. Aku membayangkan Hayden sedang duduk di atas kursi makannya dengan secangkir kopi tanpa creamer dan roti selai kacang dan pesawat telepon yang terus menempel di salah satu kupingnya. Karena Hayden kidal menurutku kini ia sedang menjepit benda itu di antara kuping kanan dan pundaknya. Ia kemudian melanjutkan, “Yahh, aku ingat sekarang. Namanya tidak terlalu Amerika, namun kurasa cukup umum di Jerman atau Austria. Wilhelm Ziegler,"
“Wilhelm Ziegler ?” aku mengulangnya hanya untuk memastikan kalau aku tidak salah dengar. Jelas sekali kalau pengirim surat itu bukan orang Amerika maupun Inggris, yang mana hal itu semakin mengundang rasa tertarik pada diriku.
“Ya, Wilhelm Ziegler. Apa aku perlu mengejanya untukmu ?” tanya Hayden mencoba berbaik hati.
“Apakah Wilhelm Ziegler ini, maksudku, surat itu datang dari Jerman ?”
“Tidak," kali ini Hayden menjawabnya lebih cepat dan terdengar yakin dari sebelumnya, “Surat itu datang dari Florida,"
Sekalipun jawaban itu ternyata di luar dugaanku namun aku cukup senang karena dengan cara tertentu aku merasa seperti semakin dekat dengan kebenaran dan mungkin saja jalannya tidak sesulit yang kupikirkan sebelumnya dengan asumsi bahwa Wilhelm Ziegler itu bukan nama samaran. Sambil berharap Hayden tidak menganggapku cukup menyebalkan untuk meminta terlalu banyak darinya aku tetap saja mengutarakan maksudku, “Jika kau tak keberatan, kuharap kau bisa memberiku alamat lengkapnya,”
Reaksi dari Hayden cukup di luar dugaanku yang sebelumnya kuduga ia akan mengajukan beberapa pertanyaan standar mengenai alasanku menanyakan hal tersebut. Dengan cepat seperti seorang agen federal yang terlatih ia menjawab, “Countryside Village, South Jacksonville,"
Ia menggantung kalimatnya di sana beberapa detik kemudian sebelum akhirnya melanjutkan, “Tapi aku tak yakin aku bisa mengingat nomor rumahnya. Tapi menurutku kau tidak akan kesulitan untuk menemukannya,”
Aku merasa seperti baru saja mencetak sebuah angka untuk timku dalam pertandingan futbol dan untuk pertama kalinya aku berharap Hayden benar-benar ada bersamaku sekarang sehingga aku bisa memeluknya. Tampaknya aku tidak mengatakan apapun sebagai bentuk kecil dari penghargaan terhadapnya yang telah membantuku untuk informasi yang mungkin saja dianggapnya sepele tersebut. Walaupun hal itu jelas-jelas tidak akan menyinggung perasaan Hayden yang jauh dari sensitivitas semacam itu, namun rupanya kebungkamanku beberapa detik kemudian mendatangkan pemikiran tersendiri baginya sehingga ia bertanya padaku, “Ethan, apa ini sangat berarti bagimu ?”
Bagiku pertanyaan itu nyaris sama artinya dengan pertanyaan mengapa aku membutuhkan informasi mengenai hal itu. Aku menjawab, "Sebenarnya … "
Tapi aku ragu aku bisa mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Hayden walaupun aku mempercayai pemuda tersebut. Aku mendengar suara bel samar-samar dari seberang sana dan Hayden cepat-cepat berkata, “Ah, ada yang datang. Mungkin petugas kebersihan, walaupun agak terlalu pagi. Bagaimanapun kuharap aku bisa sedikit membantumu,"
Seolah-olah Hayden dapat merasakan kebutuhanku akan alamat tersebut. Kemudian setelah mengatakan kata-kata penyemangat seperti semoga harimu menyenangkan, ia menutup telepon.
Beberapa menit kemudian aku sudah sibuk dengan menelusuri buku telepon, mencari nama Wilhelm Ziegler dengan alamat yang sesuai. Nama itu tidak umum digunakan di negara ini, kecuali jika ia seorang imigran dan tentunya kebanyakan mereka mungkin lebih memilih menggantinya dengan nama Amerika yang baru untuk menghindari kontroversi yang bisa saja timbul berdasarkan latar belakang historis, walaupun di masa sekarang sepertinya hal itu tidak menjadi sepenting berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tiba-tiba aku menyadari kalau bisa saja semuanya tidak seperti tampaknya dan kenyataan bahwa buku telepon itu tidak mencantumkan nama-nama dengan alamat di negara bagian lain adalah hal kedua yang terlambat kusadari setelah kecurigaan bahwa Wilhelm Ziegler tidak lebih dari identitas palsu. Seperti yang kuduga aku tak menemukan nama itu di halaman manapun. Sambil memikirkan hal itu, rasioku mempertimbangkan kemungkinan lain yang dengan cara tertentu mencoba kuyakini sebagai upaya sedikit menghibur diri sendiri. Jika Wilhelm Ziegler, atau siapapun itu, mencoba menyamar, mengapa ia tidak memilih nama lain yang lebih umum ? Nama Amerika yang lazim digunakan sehingga akan lebih menyulitkan untuk menganggapnya penting dan menimbulkan kesan tertentu di benak seseorang. Nama yang tidak akan mudah diingat orang bukan karena kerumitannya namun karena ada begitu banyak orang di dunia yang menggunakan nama tersebut. Jadi probabilitas keaslian nama itu sekarang menjadi lima puluh banding lima puluh dengan rasio yang lebih kecil dari sebelumnya.
Aku melakukan hal yang lain, rencana cadangan yang seolah-olah sedang mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami. Dengan harapan bahwa Mr. Ziegler ini pernah melakukan sesuatu yang cukup penting atau sangat luar biasa sehingga aku tidak akan menemukan banyak kesulitan dalam mesin pencari, aku mulai mengetikkan nama itu pada kolomnya. Dalam waktu kurang dari lima detik aku dihadapkan pada lebih banyak nama itu dan tautan-tautan yang menyertainya. Terlalu banyak informasi sampah, aku memperkecil zona pencarianku dengan menuliskan Countryside Village. Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan karena tidak menemukan informasi apapun yang berkaitan dengan apa yang kubutuhkan, bahkan aku hanya melihat nama-nama itu lebih banyak terkait dengan Perang Dunia II. Aku memikirkan cara lain yang lebih cerdas daripada menggantungkan harapan pada informasi dari mesin pencari atau kantor pos. Tapi aku bukan seorang detektif, agen federal atau siapapun yang kompeten dalam penggalian informasi semacam itu yang selalu memiliki alternatif-alternatif dan rencana cadangan. Aku tidak memiliki kemampuan yang cukup baik untuk mengolah informasi yang ada dan melakukan analisis untuk menganalogikannya pada hal lain sehingga menjadi masuk akal dan menciptakan petunjuk lain maupun benang merah di antaranya. Sehingga untuk hampir empat puluh menit setelahnya aku hanya bisa menatap kosong pada layar komputerku yang masih menyala. Harapanku sedikit demi sedikit mulai menipis, semangatku yang semula menggebu-gebu sehingga aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri bersama adrenalin yang terpicu secara otomatis, kini menjadi seperti api kecil pada lilin yang sedang meleleh.
Sedikit jahil aku mulai mengetikkan nama Wilhelm Ziegler dan mengaitkannya dengan kata perselingkuhan, pembunuhan, pemerasan dan banyak kata-kata lain yang semuanya bersifat amoral. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain perselingkuhan antara Marie dan Mr. Ziegler ini, walaupun sedapat mungkin aku mencoba menepis itu semua dengan memikirkan bahwa selalu ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Mungkin saja pria itu adalah mantan kekasihnya atau sahabat lama ataupun salah seorang anggota kerabat. Aku mencoret kemungkinan yang ketiga karena jika itu benar tak mungkin Marie harus memiliki alasan untuk menyembunyikan itu dari Thomas. Sahabat lama pun tak akan mungkin menjadi sepenting itu, walaupun mungkin sekalipun hal itu benar, satu-satunya alasan Marie menyembunyikan hal itu adalah untuk tidak membuat suaminya cemburu. Namun cara ini justeru semakin menimbulkan kesalahpahaman, hal yang aku percaya di luar dari pemikiran Marie yang terlalu praktis sehingga kadang-kadang gagal dalam mengelola manajemen resiko dalam dirinya. Akan lebih masuk akal jika Mr. Ziegler adalah mantan kekasihnya, akan lebih masuk akal jika Marie menyembunyikan kenyataan itu. Namun ini pun hampir tidak mungkin karena Marie menikahi Thomas karena ia mencintai pria tersebut dan bukan didorong oleh faktor lainnya. Aku memang tak mengetahui kehidupan wanita itu seluruhnya, pada dosa-dosa di masa lalunya atau pria-pria yang pernah menyakiti ataupun tersakiti olehnya. Masalah yang menggangguku adalah aku selalu percaya pada apa yang kulihat di sana dalam diri wanita itu. Marie bahagia dengan menikahi Thomas, bagaimanapun seringnya mereka meributkan hal-hal yang sebenarnya sepele dan beberapa kali nyaris bercerai, namun aku bisa melihat pancaran cinta yang tulus di sana saat ia memandang Thomas secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Ia terlalu bahagia hidup bersama suaminya sehingga rasa-rasanya perlu sebuah kegilaan untuk bisa melepaskan semua itu demi seseorang dari masa lalu. Marie adalah wanita modern, wanita masa sekarang yang menganggap masa sekarang adalah masa yang sangat penting baginya dan satu-satunya masa yang nyata untuknya saat ini. Ia tidak tampak seperti seseorang yang senang membuka album-album lama kemudian membiarkan pikirannya mengembara ke masa lalu. Ia menjalani kehidupannya dengan penuh vitalitas, percaya diri dan cukup bahagia. Ia adalah wanita yang cerewet namun tegar. Sepertinya tak ada masalah yang terlalu besar bagi seorang Marie Fitzgerald.
Thomas tiba di rumahku satu jam kemudian setelah aku meneleponnya dan mengatakan kalau ada beberapa hal yang sebaiknya kami diskusikan. Saat itu ia sedang menemani Marie berbelanja dan aku cukup senang menyadari kalau hubungan mereka kembali membaik seperti biasanya. Aku merasa tidak nyaman harus mengundang Thomas untuk membicarakan hal tersebut, namun seolah-olah bisa membaca pikiranku, ia berkata, “Aku sudah bisa menduganya, Ethan. Mengenai masalah itu aku tetap ingin mendengar kebenaran darimu … “
Sebenarnya bukan sebuah kebenaran karena justeru aku belum menemukan apapun sehingga aku menjadi ragu apakah aku sudah melakukannya dengan benar. Hal yang paling mudah untuk dilakukan daripada duduk berjam-jam sambil terus menduga-duga adalah dengan menemui Mr. Ziegler di rumahnya. Tentu saja alamat itu tidak mungkin fiktif mengingat surat itu diantarkan melalui pos. Sedikit cacat dalam rahasia antara Marie dan Mr. Ziegler adalah bahwa tidak satupun dari mereka yang mencoba saling mengirim surel, sementara hal itu lebih efektif dan tidak mudah terdeteksi. Mungkinkah karena Thomas memiliki kebiasaan menyebalkan tipikal seorang suami pencemburu yang dengan kekerasan hatinya menuntut isterinya untuk memberitahu kata sandi dari akun pribadi miliknya dan sebagai kompensasinya ia juga melakukan hal yang sama dengan dalih prinsip kepercayaan dan kejujuran dalam sebuah pernikahan ? Entahlah, rasanya sulit untuk membayangkan Thomas bisa berbuat sejauh itu karena akhir-akhir ini pria tersebut enggan menunjukkan perasaan sebenarnya pada isterinya. Dengan melakukan itu hanya akan membuat Marie bisa melihat kecemburuan dari dalam dirinya sementara Thomas akan lebih memilih bertahan pada sikapnya yang dingin daripada harus mengakui hal tersebut.
Namun beberapa orang memiliki pemikiran konvensional mengenai kedekatan secara emosional melalui tulisan tangan seseorang, sehingga surat itu menjadi lebih memiliki ‘nyawa’. Aku benci menyadari sisi romantisme semacam ini yang bisa saja sedang terjadi di antara Marie dan Mr. Ziegler. Tapi tentu saja aku harus pandai-pandai menjaga ucapanku agar aku tidak mengungkapkan secara terang-terangan apa yang ada dalam benakku.
“Aku senang hubungan kalian baik-baik saja,” kataku tulus pada Thomas.
Thomas menghadiahiku sebotol Margaritha dengan sedikit lelucon mengenai hadiah Natal yang datang lebih awal. Kukatakan aku sudah terlalu tua untuk menerima hal semacam itu dan ia membalasku dengan mengatakan bahwa tidak akan pernah ada yang terlalu tua untuk semangat Natal.
“Kau akan membawa wanita berkulit gelap itu, kan ?” tanya Thomas.
“Siapa ? Maksudmu Tania ?” tanyaku sedikit tolol, karena sebenarnya saat ia membuat lelucon mengenai semangat Natal itu secara tiba-tiba aku memikirkan Tania. Sepintas pandanganku beralih kepada pohon Natal sederhana yang ada di sana hanya karena sebuah alasan religius. Aku tak yakin akan bisa memiliki semangat Natal seperti yang lainnya, walaupun aku memiliki banyak teman dan tetangga yang baik namun mereka tetap tidak berhasil menggantikan kekosongan dalam rongga jiwaku karena kerinduan dan kekecewaan pada keluargaku yang sejati. Pada Natal tahun lalu Tania menghabiskan waktu bersamaku sepanjang malam, yang mana kuharap hal yang sama akan terjadi di tahun ini. Aku sudah menyiapkan sebuah kado spesial untuknya, bukan sebuah cincin pernikahan ataupun pertunangan karena kami sama-sama tahu bukan itu yang kami harapkan dari hubungan ini. Hanya sesuatu yang menarik perhatianku saat melintasi toko perhiasan. Aku ingat Tania pernah memimpikan bisa memiliki sebuah liontin perak. Sesuatu yang tidak ingin ia dapatkan dengan membelinya, melainkan melalui seseorang yang mencintainya dan dicintainya. Namun kemudian kusadari ada yang salah dengan semua ini. Aku tak yakin aku adalah orang yang tepat untuk memberikan liontin perak itu untuknya.
Kudengar Thomas tertawa dan menjawab, “Ya, tentu saja dia yang kumaksud. Kecuali kau memiliki wanita berkulit gelap lainnya,"
Aku tersenyum mengimbangi tawanya yang menurutku sedikit tidak pada tempatnya tersebut, walaupun aku curiga ia memiliki maksud lain di balik pertanyaannya tersebut. Mungkin ia menduga perkataan terakhirnya itu sedikit menggangguku, sehingga dengan nada permohonan maaf ia buru-buru berkata, “Tapi aku percaya kau bukan tipe pria semacam itu. Kau hanya memiliki satu wanita di hatimu. Apa aku benar ?”
Aku mengangkat bahuku, mengatakan perasaanku yang sebenarnya mengenai Tania pada Thomas adalah hal yang untuk pertama kalinya bagiku bukan hal yang keliru. Paling tidak hal itu cukup sepadan dengan rasa percaya yang telah diberikan Thomas kepadaku, maka tidak ada salahnya jika aku membalasnya dengan cara yang sama.
“Entahlah, sebenarnya akhir-akhir ini aku berpikir kalau mungkin saja ia bukan belahan jiwaku,”
Thomas lebih merasa penasaran daripada terkejut ataupun heran. Kemudian ia bertanya, “Tapi mengapa ?”
Mengapa ? Sebuah pertanyaan sederhana yang seperti gerak refleks menangkap dengan kedua tangan saat bola datang tiba-tiba ke arahmu, kata itu pula yang langsung selalu muncul saat seseorang mendengar sesuatu yang tidak lazim. Sebuah kata sederhana yang justeru lebih sulit untuk dijawab. Mungkin aku terlalu lama membuat Thomas menunggu karena kebimbangan dalam diriku yang sedang memikirkan alasan yang lebih tepat dari sekedar kurangnya waktu yang kami habiskan bersama, dan bagaimana ternyata aku bahkan merasa nyaris tidak mengenal wanita yang sudah kukencani selama bertahun-tahun tersebut. Ada rasa bosan yang tiba-tiba memenuhi diriku, memberikan dorongan padaku untuk melepaskan diri dari Tania, walaupun selama ini wanita itu bahkan sama sekali tak pernah mengikatku ataupun membatasi ruang gerakku. Mungkin aku hanya merasa letih dengan hubungan yang monoton dan kadang-kadang ingin sekali aku mengungkapkan hal itu pada Tania namun selalu saja sedikit rasa kemanusiaan dalam diriku mencegahku melakukan itu. Aku membutuhkan warna dalam hubungan kami, sementara aku tak yakin Tania orang yang tepat yang bisa memberikan warna-warna itu untukku.
Mau tidak mau aku kembali harus membangun figur Tania Corrigant dalam benakku, dimulai saat pertama kali kami bertemu dalam Grup Pembaca. Kami memiliki banyak kesamaan minat dan obsesi, dan walaupun kami juga terlibat dengan anggota grup lainnya namun kemudian kami menyadari bahwa kami selalu mencari cara dan waktu untuk bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua. Aku menyukai vitalitas dan energi Tania yang seolah tidak ada habisnya, menghargai kecerdasan yang dimilikinya dan mengagumi kecantikan tersembunyi di balik dirinya yang independen dan jauh dari kesan feminim. Aku menginginkan wanita seperti Tania, tidak, tepatnya aku membutuhkan wanita seperti dirinya. Sikapnya yang berani dan ucapannya yang blak-blakan namun dibungkus oleh selera humor yang bagus sehingga bahkan orang lain tidak akan sempat merasa tersinggung. Sebelumnya aku memulai dengan gadis-gadis feminim dan manja, namun hal itu ternyata hanya menyenangkan saat aku jauh lebih muda. Kini aku kehilangan minat pada tipe gadis-gadis seperti itu, yang akan dengan mudahnya menunjukkan kerapuhan mereka dan meneteskan air mata tanpa alasan yang jelas. Aku tidak menyukai sensitivitas semacam itu, dan seiring bertambahnya usiaku dan metamorfosis yang menyertaiku, tiba-tiba aku menemukan diriku menjadi individu yang lebih serius dalam memandang kehidupan. Aku merasa aku tidak akan mendapatkan apapun dari seorang gadis cengeng. Aku memerlukan seorang wanita yang memiliki otak, yang memiliki kedewasaan untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan untuk dirinya maupun orang lain. Seorang wanita di atas rata-rata, aku memberikan julukan tersendiri untuk tipe baru wanita yang ingin kukencani selanjutnya.
Dan kemudian aku menemukan Tania, setelah beberapa kali mencoba kencan buta yang tidak berhasil dengan baik karena aku selalu saja menemukan kekurangan dalam diri wanita-wanita tersebut. Aku bahkan memiliki banyak kartu nama yang berisi nomor-nomor telepon pribadi mereka dan sebagian besar adalah para pemegang posisi penting dalam sebuah perusahaan. Wanita berkelas yang menggunakan nama samaran sebagai tindakan berjaga-jaga. Sayang sekali aku tak pernah menelepon satu pun dari mereka. Tidak pernah ada kencan kedua setelah pertemuan dengan wanita-wanita yang sebenarnya menurutku tidak seharusnya mereka menemukan kesulitan dalam mencari pasangan hidup. Salah satu hal yang paling banyak diutarakan oleh wanita-wanita tersebut secara sadar maupun tidak adalah keinginan mereka untuk membangun sebuah keluarga yang sebenarnya dari pernikahan. Aku memang tidak menggambarkan diriku sebagai anti pernikahan karena aku ingin seorang wanita yang menunjukkan kepada diriku mengenai dirinya yang sebenarnya tanpa ada kepura-puraan. Aku menginginkan seorang wanita yang memiliki pendapat pribadi tanpa harus terpengaruh oleh keinginanku yang mungkin saja sebenarnya bertentangan dengannya. Mereka semua cantik, bahkan harus kuakui beberapa lebih cantik daripada Tania, dan kadang-kadang aku merasa kalau aku adalah seorang pria yang jahat karena kurang bisa menghargai sebuah komitmen dari pernikahan.
Namun sayang, cintaku yang semula menggebu-gebu pada Tania akhirnya menemukan titik jenuh. Tanpa kusadari aku mulai membenci kesibukannya, membenci keterlambatannya membalas pesan yang kukirimkan, membenci kebiasaannya yang hampir selalu mengabaikan panggilan telepon yang kubuat untuknya. Bahkan pada suatu hari Tania pernah mengingatkanku pada kesepakatan kami untuk tidak saling mengganggu kesibukan masing-masing. Aku tidak terlalu menyukai istilah mengganggu yang ia gunakan sebagai pengganti dari perhatian yang sebenarnya kucoba untuk menunjukkan kepadanya dengan cara yang menurutku sangat lazim. Maksudnya, aku tidak selalu mengganggunya, aku hanya melakukannya pada saat-saat tertentu, saat aku benar-benar merasa sendirian dan memerlukan seseorang untuk berbagi. Jika aku harus berpendapat, hal itu sudah sepatutnya dilakukan oleh sepasang kekasih. Namun cara Tania menggambarkan itu seolah-olah hanya pantas dilakukan oleh sepasang kekasih yang jauh lebih muda dari kami, dan ia tertawa oleh leluconnya sendiri yang untuk pertama kalinya sama sekali tidak terdengar lucu di telingaku. Ia menekankan kalau kami sudah cukup bersenang-senang dengan cinta monyet semacam itu di masa lalu, saat-saat kami masih di sekolah dan universitas. Sekarang saatnya cinta mengikuti kedewasaan usia dan pola pikir pelakunya. Saat itu aku mencoba meredam rasa sakit hati yang tiba-tiba timbul dalam diriku dan mengalihkannya pada topik lain dengan harapan kami akan bisa memperbaiki ini suatu hari nanti. Akan tetapi sepertinya hal itu tak akan pernah terjadi karena Tania tidak pernah bisa melihat kesalahan yang dilakukannya, seolah-olah segala kekacauan yang pernah terjadi selalu disebabkan olehku. Pada awalnya, hormon testosterone dalam diriku memaksaku untuk mengalah, karena kebanyakan itulah yang diinginkan wanita dan bahwa sudah sepantasnya seorang pria sejati tidak memulai pertengkaran dengan wanita. Akan tetapi pada akhirnya aku menyadari bahwa hubungan semacam itu tidak akan berhasil. Hanya saja aku memerlukan waktu yang tepat untuk mengutarakan hal itu pada Tania.
Sepertinya Thomas menyadari kalau pertanyaan itu seperti sebuah pertanyaan jebakan yang mustahil untuk kujawab, sehingga ia berkata, “Well, bagaimanapun sepertinya bukan ini yang ingin kau diskusikan denganku, kan ?”
Aku menatap Thomas yang juga sedang menatapku dengan serius, dan bertanya dengan hati-hati, “Apakah nama Wilhelm Ziegler berarti sesuatu untukmu ? Apa kau pernah mendengarnya sebelumnya ?”
“Aku cukup sering mendengar nama tersebut, tapi aku tak yakin aku mengerti," Thomas tampak merenung sejenak, kemudian dengan sorot mata yang kekanak-kanakan ia bertanya padaku, “Kau tidak sedang bertanya mengenai sejarah, kan ? Kukira nama itu cukup populer pada masa Reich Ketiga, atau mungkin masih terdengar menarik di masa sekarang. Memangnya kenapa ?”
Bukannya menjawab pertanyaannya aku malah balik bertanya, “Nama itu tidak biasa digunakan di Amerika, kan ? ”
Kali ini sepertinya Thomas membutuhkan waktu beberapa detik untuk menjawab, “Tidak juga. Beberapa orang memiliki nama itu, bahkan kudengar salah seorang pengacara dari Atlanta bernama Wilhelm Johann Ziegler. Tapi tentu saja tidak menutup kemungkinan kalau mereka adalah imigran Austria yang telah mendapatkan kewarganegaraan di Amerika. Kebanyakan orang Austria merasa percaya diri dan bangga pada nama mereka, sehingga mereka enggan untuk menggantinya. Well, walaupun tentu saja memang seharusnya mereka tidak mengganti namanya mengingat dokumen-dokumen yang menyertai mereka. Merubah namamu tanpa alasan yang benar-benar kuat hanya akan membuatmu dicurigai sebagai mata-mata,"
Walaupun kalimat terakhirnya itu ada benarnya, namun terdengar sedikit menggelikan bahwa pemikiran semacam itu lahir dari benak pria tua tersebut secara tidak terduga. Aku bahkan hampir menganggapnya sebagai lelucon semata. Aku sedang mempertimbangkan tindakanku selanjutnya. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya tentang Wilhelm Ziegler ini pada Thomas ? Aku cukup senang mengetahui hubungannya dengan Marie berangsur-angsur membaik dan aku tak pernah ingin menghancurkan itu semua. Aku sadar tidak seharusnya aku menelepon Thomas sebelum ia memintaku sekali lagi untuk mencari tahu mengenai surat-surat rahasia Marie. Seharusnya aku berpura-pura lupa saja tentang itu sehingga pada akhirnya kami tidak akan membahasnya karena dengan usianya itu bisa saja Thomas sudah melupakan apa yang pernah diucapkannya kemarin.
Untuk beberapa detik kemudian tak satu pun dari kami yang berbicara. Tiba-tiba Thomas berseru, “Astaga, Ethan ! Apa kau sedang memberitahuku mengenai nama penerima surat Marie ?”
“Uhmm … sebenarnya aku sendiri tak yakin, “ jawabku dengan enggan.
Tanpa mempedulikan itu, Thomas menggerutu, “Sudah kuduga, Marie menyembunyikan seorang pria lain dalam hidupnya. Demi Tuhan, ia telah menyimpan rahasia ini dengan rapinya selama ini,"
Kulihat wajah Thomas menjadi lebih merah daripada sebelumnya dan kerutan di wajahnya semakin banyak dan tampak rumit. Lagi-lagi aku mencoba menjadi konsultan pernikahan yang baik dengan mengatakan sesuatu yang sebenarnya aku sendiri meragukan kebenarannya, “Mungkin tidak seperti itu, Tom. Kita harus mencoba melihat ini dari sudut yang berbeda. Bisa saja Mr. Ziegler ini hanya seorang kawan lama, kerabat atau rekan bisnis, mungkin ?”
Aku tahu aku telah membuat kesalahan yang justeru semakin memicu kecurigaan Thomas. Ia menatapku dengan tajam dan bertanya skeptis, “Rekan bisnis ? Kau bilang tadi rekan bisnis ?”
“Aku tahu ini akan terdengar konyol, tetapi kau tahu di zaman modern seperti ini setiap orang tampaknya ingin terlibat ke dalam industri tertentu, mereka ingin ambil bagian di dalamnya. Bukan tidak mungkin Marie juga berminat dan Mr. Ziegler sedang membantu mewujudkan keinginannya itu,"
“Tetap saja itu terdengar sangat absurd. Aku tahu Marie bahkan tidak pernah tertarik pada bisnis apapun. Ia tidak memiliki jiwa spekulasi, Ethan. Ia bahkan terlalu takut untuk memasuki area itu, ia memiliki perhitungan yang cermat dalam mengelola keuangan sehingga lebih sering hal itu hampir membuatku merasa menjadi manusia paling miskin di dunia ini. Tidak, Ethan. Aku tidak yakin memang itu yang sedang terjadi,"
“Akan tetapi… “ aku membela diri, teringat pada fakta yang pernah diungkapkan Thomas, "Kau sendiri pernah mengatakan kalau Marie mulai menjual perhiasan yang ia miliki satu persatu. Bukankah akan lebih terdengar masuk akal jika ia memerlukan modal untuk investasi tersebut ?”
Kali ini Thomas tampak mempertimbangkan perkataanku tersebut. Ia diam beberapa saat dengan wajah yang tampak berpikir keras. Menurutku Thomas pastilah seseorang yang luar biasa pada masa mudanya dulu karena memiliki kemampuan menganalisa sesuatu dengan cepat. Cara pikir Thomas kadang-kadang memiliki gairah dan ketajaman seorang laki-laki muda. Bahkan ia beberapa kali pernah mengalahkanku dalam permainan catur. Aku memang tidak terlalu pandai dalam permainan strategi seperti itu karena biasanya aku cenderung bertindak gegabah dan terburu-buru. Aku selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan, walaupun kadang kala saat permainan itu berakhir dalam waktu singkat bukan berarti karena aku menyerah. Samar-samar ia berkata, nyaris menyerupai sebuah gumaman, “Kau benar, aku memang pernah mengatakan itu,"
Aku mencoba mencari cara untuk memperbaiki kesalahanku dengan berkata, “Aku tahu aku tidak berhak mengaturmu, Tom. Tapi kuharap kau berpikir dua kali sebelum meneruskan penyelidikan ini. Maksudku, sebenarnya kau tidak harus melakukannya. Lagipula hubungan kalian tampaknya baik-baik saja. Sebaiknya kau melupakan surat-surat itu dan mulailah semuanya dari awal lagi,"
Thomas mendelik dengan cara yang kurang menyenangkan dan berkata, “Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun membodohiku, Ethan. Aku tak akan pernah bisa membiarkan orang melakukan kebohongan dan penipuan padaku. Aku ingin kebenaran, bahkan aku bersedia mengorbankan apapun untuk mendapatkannya. Aku tahu kau tidak pernah setuju jika aku harus mencurigai Marie, karena itu mari kita buat semuanya menjadi jelas. Kau harus membantuku mewujudkan itu. Kita harus mencari tahu siapa Wilhelm Ziegler itu sebenarnya,"
"Tapi … " aku protes, mencoba mengenyahkan segala perasaan tak nyaman sebagai seorang teman baik, “Aku sudah melakukan tugasku. Maaf aku tak bisa menemanimu, kau tahu aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku. Lagipula …”
“Aku mengerti," potong Thomas cepat. Kuduga ia sedikit merasa terganggu dengan penolakanku tersebut, namun aku sudah melatih diriku untuk terbiasa dengan reaksi semacam itu. Aku mencoba untuk tidak terpengaruh dan tetap pada pendirianku untuk berhenti bertindak lebih jauh lagi. Sebenarnya dengan memberitahukan sedikit informasi semacam ini pada Thomas telah menimbulkan perasaan bersalah dalam diriku. Bagaimanapun aku berharap semuanya akan baik-baik saja dan prasangka buruk itu adalah hal yang keliru.
“Aku akan memberimu alamatnya, meskipun tak terlalu lengkap, tapi kuharap ini akan sedikit membantu," kataku kemudian.
Aku tak yakin Thomas sedang benar-benar mendengarkanku sekarang. Kedua matanya sedang tertuju pada lukisan replika Mona Lisa yang tergantung dengan anggun di dinding rumahku yang berwarna kuning gading. Aku bisa memahami alasan setiap orang tertarik untuk berhenti di hadapan lukisan tersebut dengan alasan-alasan dan dorongan tertentu yang timbul dari perasaan pribadi mereka. Padahal tentu saja karya Leonardo Da Vinci yang saat ini kumiliki bukan orisinil walaupun tetap saja aku membelinya dengan harga yang tidak murah. Namun kali ini persepsi Thomas menurutku agak berbeda, hal itu jelas tergambar dari pancaran matanya dan senyum misterius tersungging di bibirnya seolah-olah ia sedang mencoba meniru ekspresi yang menimbulkan berbagai macam pendapat dari lukisan Mona Lisa tersebut. Aku tidak tertarik untuk menanyakan alasan mengapa ia tidak berhenti menatapnya selama hampir lima menit lamanya. Kuduga lukisan itu mungkin mengingatkannya pada sebuah peristiwa penting di masa lalu. Akan tetapi kemudian aku merasa sedikit terganggu karena sebuah gagasan baru dalam benakku, yang mana hal itu bertentang dengan apa yang kupikirkan sebelumnya. Senyum itu tampak palsu, bukan senyum seseorang yang sedang mengenang masa-masa indah di masa lalunya. Sepertinya senyum itu tampak agak manipulatif.
Thomas berkata dengan nada nyaris tanpa intonasi, “Bukankah senyum Mona Lisa itu terlihat sangat palsu ?”
Aku mengangkat bahu, membiarkannya mengetahui kalau aku tidak memiliki kompetensi untuk melihat sisi tak terungkap dari sebuah karya seni. Aku tidak memiliki kriteria khusus sebuah karya seni walaupun aku mengetahui beberapa aliran seni, namun aku membeli beberapa benda bernilai seni hanya karena alasan fashion yang sederhana. Aku tidak bisa menafsirkan arti dari senyum misterius Madame Lisa del Giocondo dalam lukisan Mona Lisa, pesan tersembunyi dari sebuah coretan pada lukisan abstrak, dan bagaimana aku selalu merasa terganggu pada patung marmer David karya Michaelangelo tanpa bisa memberikan sedikit pun interpretasi seni sebagai apresiasi dari hasil kerja keras seniman tersebut. Walaupun aku percaya sejak dibuatnya mahakarya tersebut kelompok gereja di Vatikan dan kaum konservatif sudah menjadikannya sebagai hal yang kontroversial. Pemahamanku mengenai sebuah karya seni sangat terbatas pada nama-nama seniman dan karya-karya yang dihasilkan oleh mereka. Memiliki replika lukisan Mona Lisa bagiku tidak lebih sebagai kegemaranku pada resolusi warna yang menurutku tampak seperti sebuah elegi, seolah-olah ada banyak tragedi yang menyertai penciptaannya. Itu bukan pendapat profesional dari seorang pakar seni, melainkan hanya pikiran yang melintas begitu saja di benakku.
“Wanita memang begitu pandai bersandiwara. Mereka akan tampak bahagia di hadapanmu, namun mereka menyembunyikan kebencian di dalam dirinya setenang seekor singa yang sedang tidur,” kata Thomas lambat-lambat.
Aku menatapnya, mencoba menerka-nerka seberapa besar prasangkanya itu mempengaruhi penilaiannya pada Marie. Ia nyaris tidak terbaca dan kekosongan di wajahnya adalah hal yang selalu membuatku khawatir. Aku membiarkannya menguraikan segala kerumitan yang ada di benaknya dengan tak memberikan pendapat apapun. Aku akan membiarkannya mendominasi percakapan ini karena menurutku hal itu lebih baik dilakukan agar memberikan ketenangan tersendiri pada dirinya. Aku akan berhenti mendebatnya karena aku mendapat firasat jika hal itu kulakukan maka aku seperti sedang menyerahkan sebuah revolver dan mendorongnya untuk menarik pelatuknya.
“Seharusnya aku bisa menduga kalau surat-surat itu pastilah bukan surat biasa. Yang harus kulakukan seharusnya adalah membuntutinya dan memaksanya untuk menyerahkan semuanya kepadaku. Sekarang aku sangat tidak menyukai ini. Sungguh, Ethan, aku benar-benar sangat tidak menyukai ini. Aku tidak menyukai kenyataan kalau aku terlambat menyadari ketidakberesan ini, terlambat mencegah semuanya terjadi. Kali ini tak ada yang bisa mencegahku membuat perhitungan pada siapapun pria itu,"
Kali ini aku tidak tahan untuk tidak berkomentar, “Tapi, Tom, akan lebih baik jika kau bisa bersikap objektif. Singkirkan dulu prasangka burukmu itu karena aku khawatir hal itu akan menyebabkan bias dalam penilaianmu. Kau bisa mencari tahu dan mempelajari siapa pria itu sebenarnya dan bagaimana ia bisa mengenal Marie. Kadang kala hubungan yang terjadi di antara seorang wanita dengan pria yang ditemuinya secara diam-diam tidak harus selalu melibatkan perselingkuhan dan hubungan cinta yang terlarang. Ada beberapa intrik yang lebih rumit daripada itu semua,"
Thomas melengos dengan cara yang kurang menyenangkan namun aku bisa memahami suasana hatinya saat ini. Kupikir ada saatnya aku harus menganjurkan sebuah terapi manajemen amarah untuknya. Secara perlahan namun pasti pria itu mulai meninggalkan sikapnya yang tenang, ia mulai menunjukkan sikap kekanak-kanakan, sebuah anti klimaks dari fase perkembangan manusia yang mana hal itu adalah sesuatu yang normal terjadi pada usia tersebut.
Kukira ia akan mengatakan sesuatu, namun ternyata ia hanya diam saja dengan kedua alis yang bertaut di tengah-tengah dan wajah murung yang sedang berpikir keras. Untuk mengisi kekosongan dan kecanggungan yang tiba-tiba muncul di antara kami aku bertanya, “Apa yang akan kaulakukan padanya ? Jika kau berhasil menemukan Mr. Ziegler ini,"
“Entahlah, saat ini belum terpikirkan olehku. Tapi aku yakin aku akan segera mengetahuinya begitu aku bertemu dengannya,"
Itu adalah percakapan terakhir kami di bulan Desember. Hari Natal tiba lebih cepat dari saat aku menantikannya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Aku tidak merasakan kekecewaan seperti sebelumnya saat Tania meneleponku dan mengatakan penyesalannya tidak bisa menghabiskan malam Natal bersamaku. Mereka tidak memberinya pilihan untuk menolak tugas meliput berita perayaan malam Natal di Paris dan tanpa pemberitahuan sebelumnya sebuah tiket penerbangan telah mendarat di mejanya. Kukira Tania tidak takut untuk mempertahankan pendapat dan prinsipnya walaupun hal itu membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Kadang-kadang kubayangkan ia menerobos masuk ke ruang pemimpin redaksi dengan membawa surat pengunduran diri dan memprotes jam lembur yang melebihi batas toleransinya, kemudian ia akan datang menemuiku dan memutuskan bahwa mulai saat itu tak ada yang berhak memaksanya melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Namun di satu sisi itu adalah hal yang tidak kuharapkan terjadi, karena bagaimana pun aku tidak akan membayangkan sosok Tania yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Ia memiliki pekerjaan yang bagus dengan masa depan yang cukup menjanjikan dan aku tak ingin ia melepaskan begitu saja apa yang sudah dimilikinya.
Sebenarnya saat Tania mencoba menunjukkan sedikit perhatiannya dengan menanyakan apakah ada yang ingin kukatakan, aku sudah akan memberitahunya bahwa hubungan kami sebaiknya diakhiri. Namun akhirnya aku hanya mengucapkan selamat natal dan berdoa semoga ia menikmati waktu-waktu yang menyenangkan di sana. Aku tahu aku tak boleh mengacaukan semangat Natal tahun ini, terlebih lagi ia akan menghadapi pekerjaan yang sebenarnya tidak mudah. Seharusnya aku sudah cukup malu tidak bisa melakukan banyak hal untuknya dan aku tak akan memperburuknya lagi dengan keegoisan dalam diriku. Aku akan memberinya waktu, tidak, lebih tepatnya aku akan memberi diriku sendiri waktu untuk memikirkan kembali semua ini. Bagaimana pun aku tak pernah ingin pada akhirnya aku harus menarik ucapanku kembali karena ternyata aku masih menginginkan kehadiran Tania dalam hidupku.
Walaupun tanpa kehadiran Tania aku tetap dapat menghabiskan malam Natal yang menyenangkan bersama rekan-rekan kerja dan para tetangga yang baik hati. Mereka adalah keluargaku dan aku tahu dengan cara tertentu mereka akan selalu ada untukku, sebagaimana aku pun mencoba hal yang sama. Malam ini ada hal yang sedikit berbeda karena Dexter memperkenalkanku pada seorang gadis manis yang sedang magang sebagai asisten dosen di UCLA. Aku tak percaya ia telah berkendara seorang diri untuk bisa tiba di sini, dan yang lebih gila lagi adalah ia hanya akan menghabiskan satu malam di tempat ini. Namanya Amber Kincaid, dan pada awalnya kupikir ia berpacaran dengan Dexter namun ternyata mereka tak lebih dari sahabat pena. Mereka telah berteman selama kurang lebih delapan bulan, dan walaupun aku bisa melihat Dexter tampak begitu tertarik pada Amber, namun secara mengejutkan di dapur saat aku sedang mengambil tambahan Martini ia berkata dengan setengah berbisik kepadaku, “Sebenarnya aku sudah berjanji pada Amber untuk memperkenalkannya padamu,"
“Benarkah ? Tapi mengapa ?” tanyaku acuh sambil dengan linglung mencoba mencari pembuka tutup botol yang lupa kuletakkan di mana. Dexter membantuku menemukan benda itu dengan cepat, yang mana baru kusadari betapa anehnya aku bisa meletakkan benda itu di tempat yang tidak biasanya namun tak luput dari perhatiannya.
“Sepertinya ia menyukaimu," jawab Dexter sambil menyeringai, kemudian kedua matanya menelusuri ujung rambut hingga kakiku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah ia sedang berkata yang benar saja.
“Itu tidak mungkin. Kami baru saja bertemu,"
“Rupanya kau tidak sadar kalau kalian sudah cukup lama saling mengenal di facebook. Maksudku, setidaknya ia telah mengenalmu cukup baik," potong Dexter cepat, kemudian mengambil alih botol Martini dan pembuka tutupnya yang sepertinya sudah agak terlalu lama berada dalam genggamanku. Sebelum aku sempat menanyakan beberapa hal sebagai penjelasan atas sesuatu yang tak terlalu kupahami, ia sudah bergerak meninggalkanku dan bergabung kembali dengan para tamu yang sedang tertawa mendengar lelucon Stiffler. Selama bertahun-tahun pria itu selalu menceritakan lelucon yang sama pada orang-orang yang berbeda kecuali diriku. Tapi aku selalu mencoba untuk tertawa hanya karena aku merasa ia layak mendapatkan apresiasi dari upayanya tersebut, dan terlebih lagi aku tidak pernah ingin mempermalukan dirinya saat tak seorang pun tertawa dengan hal tersebut. Bagiku Stiffler cukup menyenangkan walaupun ia sedikit eksentrik dengan komentar-komentar spontan yang tidak jarang membuat orang-orang menaikkan alis mereka.
Saat aku sedang mengamati kegembiraan orang-orang tersebut dari tempatku berdiri sekarang, aku baru menyadari tampaknya Amber adalah satu-satunya yang merasa kehilangan diriku. Walaupun ia tetap melibatkan diri ke dalam pembicaraan dan lelucon mereka namun perhatiannya tidak sedang benar-benar tertuju ke sana. Ia seperti sedang mencari-cari seseorang, dan tak lama kemudian sepertinya ia mengatakan sesuatu pada Dexter yang hanya mengangkat bahunya kemudian secara tidak terduga melemparkan pandangan jauhnya ke arahku. Ia mengerling dengan cara yang agak kurang menyenangkan dalam penilaianku. Aku berpura-pura tidak melihatnya dan mencari-cari alasan untuk menghindar dengan menyibukkan diri pada pekerjaan-pekerjaan remeh apapun yang bisa kutemukan saat itu untuk dilakukan. Sebenarnya aku memang menyadari kalau Amber dengan cara-cara tertentu yang tidak kentara mencoba menggali lebih dalam mengenai diriku, ia secara tidak sadar menunjukkan bahwa ia hanya peduli pada diriku dan bukan pada tamu-tamu yang lain.
Suara telepon yang berdering sepertinya telah menyelamatkanku dari kecanggunganku akibat tatapan Amber. Dengan agak terlalu bersemangat aku mengangkat telepon. Ternyata yang menelepon adalah Thomas, dan begitu mendengar suaranya aku seperti ingin membunuhnya. Dengan cara tertentu aku merindukan kehadiran pria tua yang menyebalkan ini dan aku tak akan membiarkannya meneleponku hanya untuk mengucapkan Selamat Natal lalu menutup telepon begitu saja. Aku meminta waktu beberapa detik agar ia menahan teleponnya untuk mengatakan kepada tamu-tamuku kalau aku mungkin akan menghabiskan waktu sedikit lebih lama di telepon dan terpaksa meninggalkan mereka sebentar untuk ke bagian lain dari rumahku yang lebih bersifat pribadi. Sepertinya mereka sedang terlalu bersenang-senang sehingga rasa-rasanya keberadaanku tidak terlalu penting di sana, atau paling tidak begitulah yang kupikir. Saat semua orang larut dalam kegembiraan mereka bagiku merasa sedikit terabaikan bukanlah hal yang menyakitkan. Lagipula kegembiraan seperti itu tidak datang setiap saat.
“Kau gila,Tom. Rasanya ingin sekali aku membunuhmu. Apa yang kaulakukan di sana ?” tanyaku dengan cepat. Sebenarnya menurutku kepergian Thomas agak terlalu lama dan aku khawatir ia telah melakukan sesuatu yang bodoh. Apalagi ia tidak pernah membalas telepon maupun pesan-pesan yang kukirimkan padanya.
“Melakukan pekerjaanku," jawab Thomas singkat. Aku sudah akan bertanya lagi tapi ia langsung melanjutkan, “Aku sudah bertemu dengan pria itu. Ia menggunakan nama samaran, sebenarnya aku hampir percaya kalau itu adalah nama aslinya kalau saja seseorang tidak membeberkannya kepadaku. Nama sebenarnya adalah Larry Coulthard, setidaknya itu yang mereka katakan walaupun naluriku mengatakan ia bisa saja menggunakan banyak nama. Usianya memasuki tiga puluh tahun, pria yang menarik namun tampak manipulatif. Pekerjaannya tidak istimewa dan tak pernah bertahan lama pada satu pekerjaan. Ia pernah bekerja sebagai kasir di sebuah toko kue namun mereka memecatnya karena ia kedapatan mencuri dua puluh bucks dari cash register. Pernah keluar masuk penjara karena kejahatan-kejahatan kecil namun selalu dibebaskan oleh uang tebusan. Di sini sudah jelas kalau ia memiliki seseorang yang menjamin keselamatan dirinya,"
“Apakah ia masih tinggal bersama orang tuanya ?” tanyaku.
“Sayangnya tidak, dan mungkin kalau pun salah satu dari mereka masih hidup, walaupun tinggal bermil-mil jauhnya dari Larry, aku tidak akan memiliki kecurigaan sebesar ini. Ia pernah tinggal seorang diri di sebuah flat murahan, namun tak akan ada yang bisa menduga kalau ia tinggal di tempat seperti itu,"
“Mengapa ?”
“Ia tidak tampak seperti itu, Ethan. Ah, seandainya kau ada di sini, kau akan tahu kalau kau bahkan berpikir ia jauh lebih kaya dari yang seharusnya,"
“Ia memiliki selera yang mahal, ya ?” tanyaku mencoba menduga-duga.
“Bisa jadi, tapi tidak tepat seperti itu. Penampilannya sama sekali tidak mengesankan, satu-satunya hal yang mungkin akan membuat seorang wanita tertarik padanya hanyalah wajahnya yang tampan. Ia juga tidak kelihatan seperti orang yang suka membelanjakan uangnya, menurutku ia lumayan ekonomis. Hanya saja ia membayar penuh sewa flat untuk satu tahun, kemudian melunasi semua hutang-hutangnya. Ia juga memiliki seorang dokter pribadi. Well, agak terlalu mencolok untuk seseorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap sepertinya, kan ?”
“Mungkin ia baru saja menerima warisan atau memenangkan lotere,“ aku mencoba mengajukan kemungkinan yang masuk akal.
“Ayahnya tidak meninggalkan apapun untuknya. Mereka hidup sangat kekurangan dan ia cukup beruntung mendiang ayahnya tidak mewariskan hutang padanya. Menurut mereka yang mengenalnya cukup baik, ia tidak suka bertaruh. Ia tidak pernah beruntung dalam spekulasi,"
“Bagaimana dengan ibunya ?” tanyaku lagi dengan ketertarikan yang semakin besar, walaupun aku tidak bisa mengharapkan akan mendapat jawaban yang kuinginkan karena sudah pasti Thomas telah menggali informasi mengenai ini begitu dalam. Aku tak bisa menerka metode apa yang telah digunakan pria itu, namun harus kuakui ia cukup hebat untuk seorang pria seusianya. Atau mungkin saja itulah keuntungan yang dimilikinya, karena tak ada yang tertarik untuk mencurigai seorang pria tua yang sama sekali tak mencolok dan tampak tidak tahu apa-apa. Orang bisa dengan mudahnya berbagi rahasia dengan seorang pria tua yang tak dikenal, dan mungkin di sana ia telah bertemu beberapa orang yang telah membantunya menyediakan informasi itu padanya tanpa ia harus memintanya.
“Tidak banyak informasi mengenai itu, mereka hanya tahu saat Larry pindah ke kota itu, mereka hanya tinggal berdua. Tidak ada saudara, mereka benar-benar menjalani kehidupan yang membosankan. Ayahnya dulu bekerja sebagai tukang leding dan karena usia dan kesehatannya yang semakin memburuk akhirnya pekerjaan itu diambil alih oleh puteranya. Tak banyak yang mengetahui kematian Mr. Coulthard karena mereka memang tidak terlalu suka bersosialisasi. Sepertinya Larry tidak memiliki keuletan seperti ayahnya karena beberapa saat kemudian para tetangga mulai mengeluhkan kerusakan saluran air dan keran yang semakin parah dan mereka juga protes karena Coulthard, Jr. itu menuliskan tagihan yang agak terlalu mahal. Akhirnya ia melepaskan pekerjaan itu dan diterima bekerja di toko kue, namun seperti yang tadi kukatakan sebelumnya kepadamu, akhirnya ia berhenti dan kemudian diterima bekerja sebagai kurir barang pecah belah. Namun entah apa yang salah pada dirinya, ia hanya perlu membawa mobil pengangkut barang-barang tersebut dan mengirimkan pesanan-pesanannya tepat waktu dan aman. Ia pun gagal melakukannya dan menyebabkan perusahaan itu mengalami kerugian yang lumayan banyak karena kecelakaan akibat kecerobohan pembawa mobil tidak di-klaim oleh pihak asuransi. Mungkin karena wajahnya yang tampan jadi tidak terlalu sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan lagi setelah itu. Ia diterima bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah toko swalayan dan lagi-lagi kebiasaan buruknya muncul. Mereka memergokinya mencoba mencuri sekotak sereal dan sekaleng biskuit pada hari ketiga, dan dalam dunia kerja semacam itu pencurian adalah kesalahan yang sangat fatal dan tidak memberikan pilihan apapun pada pelakunya selain dari melaporkannya kepada pihak berwajib. Ada masih banyak perjalanan hidup Larry Coulthard yang mungkin akan membuatmu tidak tahu apakah harus tidak menyukainya atau justeru mengasihaninya,”
“Lalu apa yang terjadi ?” tanyaku kemudian setelah beberapa detik lamanya Thomas tak mengatakan apapun.
“Aku berbicara padanya, namun sepertinya ia lumayan cerdik juga. Sepertinya ia mencurigaiku dan seharusnya aku memang lebih berhati-hati. Akhirnya aku terpaksa harus melepaskannya begitu saja, itu lebih baik untuk dilakukan daripada aku harus merusak seluruh rencana awalku,"
Kelihatannya Thomas merasa jengkel sekali karena merasa kalau Larry telah mengunggulinya. Kendati demikian bagiku Thomas mungkin sudah melakukan banyak hal luar biasa tanpa disadarinya. Dengan hati-hati aku bertanya, “Apa rencanamu ?”
“Tentu saja mendapat pengakuan darinya, secara langsung maupun tak langsung," jawab Thomas cepat.
“Kau tentunya tidak bisa memaksanya melakukan itu dalam keadaan sadar, kan ?” aku menukas dengan nada geli dalam suaraku yang tanpa kusadari ternyata telah menambah kejengkelan dalam diri Thomas. Seharusnya aku memang lebih peka memahami benturan-benturan emosional yang mungkin sedang dialaminya, hanya saja entah mengapa aku memikirkan sebuah gagasan menggelikan mengenai rencana Thomas. Karena sebuah alasan tertentu aku menduga ia akan menggunakan pendekatan secara psikologis melalui sebuah hipnotis atau semacamnya. Aku pernah membaca beberapa orang yang telah menemukan jalan buntu akhirnya harus menggunakan cara ini yang mana kebanyakan memberikan hasil yang tidak terduga. Walaupun untuk beberapa kasus penemuan semacam ini tidak bisa dijadikan bukti yang menjamin keberhasilan di pengadilan, namun pada kenyataannya cukup efektif.
“Maaf,aku hanya menduga kau akan mencoba semacam … hipnotis ?” aku tidak memalsukan nada permohonan maaf dalam suaraku saat mengungkapkan gagasan yang muncul di benakku tersebut kepada Thomas.
“Astaga, Ethan ! Aku tak menyangka ternyata kau tidak lebih rasional dibandingkan diriku,” Thomas berseru dengan cara yang mengejutkan, kemudian ia mengoreksi, “Well, sebenarnya aku tidak sedang mengatakan kalau aku tidak rasional atau semacamnya. Hanya saja cara seperti itu sama sekali tidak metodis dan kau tahu aku bekerja dengan caraku. Aku tak akan terintimidasi oleh hal-hal semacam itu, bagaimanapun aku yakin pada akhirnya ikan itu akan memakan umpan dari kailku,”
Aku tersenyum, menertawakan sedikit kenaifan dalam diriku tanpa ada rasa tersinggung sedikit pun. Kemudian aku berkomentar, “Aku tahu kau meneleponku bukan untuk mengajakku berdebat mengenai ini, bukan ?”
Thomas kembali pada topik pembicaraan kami yang karena sedikit perdebatan mengenai hipnotis tersebut telah membuatnya seolah-olah mencapai anti-klimaks.
“Aku berhasil mendapatkan informasi kalau Larry secara rutin mendapatkan kunjungan dari dokter pribadinya. Aku tidak terlalu ingat nama dokter itu dan aku belum mendapatkan alasan untuk bisa menemuinya walaupun aku yakin suatu saat kesempatan itu akan datang. Hanya saja yang kukhawatirkan aku akan harus menunggu begitu lama untuk bisa mendapatkan kesempatan itu, kecuali terjadi sesuatu yang luar biasa yang akan mengubah seluruh jalan cerita dari misteri ini,"
Aku mendengar seolah-olah Thomas sedang mengakhiri ceritanya dengan kalimat penutup yang dramatis seperti dalam serial-serial detektif yang pernah kubaca. Menurutku ia sedikit dipengaruhi oleh hal semacam itu, semacam obsesi yang agak aneh untuk pria seusianya. Tanpa bermaksud menyepelekan ketajaman instingnya, aku hanya merasa kadang-kadang dengan cara tertentu Thomas sepertinya mencoba menciptakan suasana normal menjadi sesuatu yang tampak tak normal, menyulapnya menjadi semacam misteri untuk memuaskan dirinya akan hal tersebut, yang mana seolah-olah ia sudah menanti sangat lama untuk menyaksikan sesuatu yang diharapkannya benar-benar terjadi. Aku ingat pada suatu hari, kira-kira dua tahun yang lalu saat kepolisian mendapatkan laporan mengenai pencurian di rumah Mr. Osmard, seorang kolektor seni yang tinggal beberapa blok dari rumah kami. Thomas bersikeras untuk membantu dan mulai mengemukakan hal-hal yang saat itu lebih terdengar seperti sesuatu untuk membuat terkesan dibandingkan detail-detail yang mendekati fakta. Saat mereka tidak mengacuhkannya, dalam sekejap Thomas berubah menjadi seseorang yang memiliki kebencian besar pada polisi dan para penegak hukum. Ia mengatakan hal tersebut berkali-kali kepadaku sehingga kupikir ia tidak akan pernah menghubungi 911 lagi apapun yang terjadi. Sepertinya ia memang membuktikannya, walaupun pada kenyataannya ia tidak pernah harus terlibat dalam keadaan darurat yang memerlukan bantuan semacam itu.
“Dengan cepat Larry pindah dari flat yang disewanya dengan uang muka secara penuh selama satu tahun ke Countryside Village. Walaupun tidak semewah apartemen, namun tempat itu adalah hunian yang cukup menyenangkan. Sesuai dengan namanya, jika kau menginginkan lebih banyak sentuhan pedesaan yang tenang, di sanalah tempatnya. Perumahan itu tidak bisa dibilang murah, “
“Tapi aku tidak berpikir Marie … " aku sadar secara tak sengaja telah mengungkapkan apa yang ada di benakku dengan cara yang menurutku kurang etis, namun sudah terlambat untuk menghentikannya, "Maksudku, ini tidak seperti dirinya, kan ? Ia tidak akan menghambur-hamburkan uangnya untuk gaya hidup seperti itu,"
Perlu menunggu beberapa detik lebih lama sebelum mendengar suara Thomas yang nyaris menyerupai angin, “Kuharap begitu. Karena itu hanya ada satu cara untuk membuktikannya. Pada akhirnya aku berhasil membuatnya setuju untuk tinggal beberapa malam di rumah kami. Tentu saja itu tidak semudah yang kaubayangkan karena menurutnya aku harus menjanjikan sesuatu yang akan membuatnya merasa cukup senang,"
Aku bersiul sambil mencoba membayangkan bagaimana tampang Larry Coulthard ini sebenarnya. Apakah ia pemuda yang memiliki senyum menawan yang licik atau seseorang yang tampaknya bahkan tak akan sanggup membunuh seekor lalat pun ? Hanya dalam beberapa menit percakapan kami tentang dirinya, seolah-olah aku sudah mengetahui hampir seluruh sifat buruk yang melekat padanya. Atau mungkin karena kecurigaanku yang menyebabkan aku tak bisa melihatnya dari sudut yang lain. Aku sadar aku tak memiliki sudut lain untuk diamati dari pria tersebut, karena sejak awal Thomas menggambarkannya seperti seorang manusia yang bersedia melakukan berbagai cara kotor demi uang.
“Seolah-olah kau harus membayarnya untuk melakukan itu," aku tak bisa menyembunyikan nada tak suka dalam suaraku, kemudian bertanya, “Lalu apa yang kautawarkan padanya ?”
“Seorang wanita," jawab Thomas dengan nada serius.
“Apa ?” tanyaku tak percaya.
“Seorang wanita, Ethan. Apa kau tak bisa mendengarnya ?” tanya Thomas dengan nada jengkel.
Aku buru-buru berkata, “Tidak, Tom. Maksudku, kau bahkan … well, aku tak yakin kau bisa mengajukan calon yang tepat,"
“Itu tidak penting," potong Thomas cepat, “Selama ia memakan umpannya, itu tidak akan menjadi sesuatu yang terlalu penting,"
Seolah-olah aku sedang melihat bagian yang cacat dalam rencana tersebut, aku langsung menukas, “Sebenarnya aku tak yakin itu adalah ide yang bagus, Tom. Kau tidak bisa menganggap remeh pria itu. Sepertinya ia lebih cerdik dari yang kita duga,"
Dengan nada tersinggung Thomas bertanya, “Apa kau bisa memikirkan ide lain yang menurutmu lebih brilian ?”
Aku mengakui kalau aku bahkan tidak memiliki ide apapun. Kemudian aku bertanya lagi, “Bagaimana reaksinya ? Maksudku, jika ia memang memiliki … kau tahu, jika memang kecurigaanmu itu benar, seharusnya ia cukup terkejut saat kau mengajukan seorang wanita, kan ?”
Tarikan napas Thomas kini terdengar jelas di telingaku dan ia menghembuskannya dengan enggan, dan berkata, “Itulah masalahnya, Ethan. Aku sama sekali tidak menyukai fakta bahwa ia ternyata seorang aktor yang hebat. Ia berhasil mengelabuiku dengan tidak menunjukkan emosi apapun,”
“Bagaimana jika ia memang tidak sedang berpura-pura ?” tanyaku.
“Percayalah, aku tahu apa yang kulihat, dan aku yakin, benar-benar yakin kalau ia memiliki banyak rahasia dalam hidupnya. Rahasia yang kotor, jika kau tahu maksudku. Well, Ethan. Selamat Natal, semoga malammu menyenangkan,"
Aku mengungkapkan harapan yang sama kemudian menutup telepon. Aku sangat ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Seolah-olah aku merasakan diriku berada begitu dekat dengan sebuah petualangan yang mendebarkan.
Enam hari kemudian pagi - pagi sekali seseorang menekan bel pintu rumahku. Aku terkejut sekaligus senang menemukan Thomas yang berdiri di belakang pintu dan menyambutku dengan sebuah undangan makan malam di rumahnya. Aku tahu kalau inilah saatnya di mana Thomas ingin mengajakku untuk bertemu dengan Larry. Walaupun tanpa alasan itu pun aku sudah pasti akan tetap datang kapan pun Thomas maupun Marie mengundangku.
Aku bisa merasakan jantungku berdebar - debar saat berdiri di depan pintu rumah Thomas seperti seorang mempelai pria yang sedang menunggu pengantinnya di altar. Aku diperkenalkan pada seorang pria muda yang sangat menarik bernama Larry Coulthard. Saat berhadapan langsung dengan Larry aku bahkan untuk beberapa waktu lupa betapa brengseknya pria tersebut. Menurutku Larry orang yang lumayan menyenangkan dan rasanya sulit dipercaya ini adalah orang yang sama dengan yang digambarkan oleh Thomas beberapa hari yang lalu. Sepanjang makan malam berlangsung kuamati Marie tampak lebih khawatir dari biasanya. Sepertinya kehadiran Larry sedikit mengganggunya karena tidak lama setelah hidangan penutup dihidangkan wanita itu mohon diri untuk meninggalkan meja makan lebih awal dengan alasan sakit kepala yang sudah menyerangnya sejak siang tadi.
"Jadi apa yang kau lakukan ?"
Aku merasa semakin tertarik pada kehidupan Larry dan ingin mencari tahu apakah ia mengatakan yang sebenarnya mengenai dirinya.
Larry menjawab, "Aku bekerja sebagai teknisi freelance. Kau bisa mengandalkanku memperbaiki komputer, telepon atau mesin fax-mu yang rusak. Saat aku baru tiba di sini aku langsung tahu kalau ada yang salah dengan penghangat ruangan dan aku berhasil memperbaikinya. Kadang - kadang aku juga dipanggil untuk memasang penyadap pada telepon. Apa semua milikmu baik - baik saja ?"
Aku menjawab kalau semua barang elektronik yang kumiliki baik - baik saja. Larry menawarkan untuk memeriksa barang - barang itu apabila diperlukan maintenance terhadap mereka. Sepertinya dengan berbagai cara Larry mencoba memaksaku untuk menggunakan jasanya sehingga akhirnya Thomas terpaksa menyela, "Larry, Ethan tadi sudah mengatakan kalau tak ada yang salah dengan semua miliknya. Kau tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan hal yang menurut orang itu tak perlu dilakukannya,"
Larry mengangkat pundaknya lalu menggumam dengan agak jengkel, "Terserah saja," ia memainkan gelasnya yang kosong lalu melanjutkan, "Tapi asal kau tahu saja, Ethan, kadang - kadang kita baru menyadari betapa sakitnya diri kita setelah semuanya terlambat,"
Thomas sudah akan berbicara lagi namun aku buru - buru menukas, "Mungkin kau bisa melakukannya kapan - kapan,"
"Mengapa harus menunggu ? Kata kapan - kapan itu biasanya memiliki akhir cerita yang tidak terlalu bagus," Larry berkata dengan tidak sabar. Membuat seseorang sebal sepertinya bagi Larry sama mudahnya dengan membuat seseorang memiliki kesan yang baik terhadap dirinya.
"Mari kita nikmati winenya," kataku sambil melemparkan pandangan pada Thomas yang tampak jauh lebih jengkel dibandingkan diriku. Tak lama kemudian kami menikmati red wine berusia seratus lima puluh tahun dari gelas masing - masing. Aku tahu dari cara Thomas menatap Larry yang mulai setengah mabuk karena gaya minumnya yang gila - gilaan bahwa ia mengharapkan akan mudah menggali lebih banyak informasi darinya jika pria muda itu dalam keadaan sudah benar - benar mabuk.
Tiba - tiba dengan cara mengejutkan Marie keluar dari kamarnya dan menyambar botol minuman dari tangan Larry sambil memaksanya untuk berhenti. Bagiku Marie tidak seperti seseorang yang mengalami sakit kepala, kecuali jika aspirin itu bekerja lebih cepat dari biasanya. Larry mengerang dengan nada memprotes. Marie berkata padanya, "Pesta sudah berakhir, Larry. Jika kau masih ingin menjadi lebih mabuk dari sekarang maka sebaiknya kau mencari tempat lain,"
"Aku tahu bar terbaik di sekitar sini," aku langsung berkata pada Larry. Namun hanya diperlukan waktu tidak lebih dari lima detik untuk menyadari bahwa kini Marie juga marah padaku karena tawaranku tersebut. Aku yakin kalau ia sedang sangat marah pada Thomas, mungkin kemarahannya melebihi kemarahan padaku dan Larry. Dengan Thomas ia berpura - pura tidak melihat pria tersebut. Menurutku saat seseorang sudah berhenti melihat kepadamu maka itu artinya orang itu sudah menganggap dirimu lenyap dan tak perlu waktu lama untuk membuatnya akhirnya benar - benar meninggalkanmu.
"Aku hanya minum sedikit," Larry masih mencoba merebut kembali botol wine dari tangan Marie namun kalah cepat.
"Marie, asal kau tahu saja ini masih termasuk dalam menu makan malam jadi sebaiknya kau tidak mengacaukannya," Thomas berkata dengan hati - hati.
Marie menuding wajah Thomas dengan sangat marah, "Kau bahkan tak pernah melibatkan pendapatku dalam hal ini. Meminum wine sampai mabuk tidak termasuk dalam pembicaraan kita,"
Saat Thomas tampak akan kehabisan kata - kata entah mengapa aku tak bisa menjaga lidahku untuk menukas, "Ini adalah salah satu cara pria bersenang - senang,"
Sebenarnya niatku baik namun tentu saja hal itu tidak akan terlihat jika dilakukan pada waktu dan tempat yang salah. Marie malah menyuruhku diam karena aku tidak berhak ikut campur. Ia memang benar. Aku merasa tak nyaman dan ingin sekali cepat - cepat meninggalkan meja makan saat mereka bertengkar semakin hebat sementara Larry yang walaupun terperangkap di antara kedua orang itu namun masih tetap bertahan di atas kursinya dengan kedua mata yang setengah tertutup. Sekarang aku mengerti mengapa Thomas merasa hidupnya seperti neraka. Marie benar - benar tampak mengerikan jika sedang marah. Aku juga mencemaskan tangannya yang masih menggenggam botol minuman itu.
Sambil mencoba untuk didengar aku berkata, "Maaf, sepertinya aku harus pergi. Terima kasih untuk undangan makan malamnya. Semuanya sangat lezat,"
Thomas masih mencoba menahan kepergianku namun tetap saja tak berdaya menghentikan kemarahan Marie yang tampaknya kini mulai merambat pada hal - hal lainnya. Aku tidak bodoh. Aku tak akan mengambil resiko jika suatu saat botol minuman itu melayang ke arah kepalaku.
Larry masih cukup sadar untuk mengantarku ke pintu. Setelah menjabat tanganku ia berkata, "Kuharap kau tidak akan menolak jika kami mengundangmu lagi,"
Aku mencoba tersenyum mengimbanginya dan menjawab, "Makan malam yang hebat,"
"Ya, benar - benar hebat dan tak terlupakan,"
Tiba - tiba aku berkata padanya, "Lain kali jangan mengacau lagi, ya ?"
Larry menanggapinya dengan tertawa lirih lalu berbisik, "Wanita selalu melihat pria seperti kita bisa bersikap sangat memalukan di meja makan. Tapi kau lihat sendiri, kan ? Pertunjukan itu jelas - jelas bukan datang dari ide seorang pun dari kita,"
Sepertinya aku memiliki alasan yang masuk akal jika langsung menyukai pria ini. Aku tertawa dan berharap kami bisa lebih sering bertemu. Sebelum aku mengatakan keinginanku untuk bertemu lagi dengannya dalam situasi yang jauh lebih baik, Larry terlebih dahulu berkata, "Senang bertemu denganmu. Kalau kau tak keberatan aku akan mengunjungi rumahmu. Tidak perlu menyambutku dengan perjamuan makan malam dan semacamnya. Aku akan datang sebagai teman barumu, bukan tamu yang harus kau perlakukan dengan penuh rasa hormat,"
Larry menepati janjinya. Ia datang menemuiku pada malam selanjutnya. Kali ini ia datang dengan membawa botol - botol wine yang aku tahu itu adalah wine terbaik yang hanya bisa dibeli dengan harga yang tidak murah. Aku tak tahan untuk tidak berkomentar, "Hei, ini semua adalah wine terbaik yang langka dan sangat mahal. Tidakkah ini sangat berharga bagimu ?"
Larry menyodorkan botol wine itu dan menunjukkan padaku tahun produksi yang tertera pada labelnya. Dibuat tahun 1786, itu artinya sudah mencapai hampir tiga abad. Aku penasaran darimana ia mendapatkan wine berkualitas tinggi seperti itu.
"Aku memiliki banyak teman yang memastikan aku selalu bisa memiliki beberapa wine terbaik. Kau tidak harus menjadi seorang milyuner untuk bisa menepuk pundak para pengusaha terbesar di negeri ini. Sekalipun kau tidak bersekolah selama kau bisa menunjukkan sikap terpelajar dan terhormat kau tidak akan menemukan kesulitan untuk bergabung dalam komunitas mereka. Hanya saja kau harus jeli mengamati kapan harus berhenti membuat lelucon. Aku banyak membaca dan bertanya mengenai wine terbaik di seluruh negeri. Mudah sekali memulai pembicaraan dan menarik minat mereka dengan itu,"
Aku membenarkan dalam hati. Seperti rokok, wine sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan hampir setiap orang. Bertanya mengenai siapa yang tidak mencintai sebotol wine sama dengan bertanya mengenai siapa yang tidak mencintai sekotak cokelat. Aku kagum dengan pemikiran Larry yang menurutku jauh lebih kritis dari yang kuduga. Aku jadi bertanya - tanya apakah ini adalah pria yang sama yang dikatakan Thomas waktu itu sebagai seseorang yang tak pernah bisa diandalkan dalam pekerjaan apapun. Rasanya sulit dipercaya kalau pria ini hanya membual. Ia memiliki beberapa wine terbaik itu dan hampir tidak ada alasan untuk meragukan pengetahuannya. Bagaimana mungkin pria ini mencuri hanya untuk dua puluh bucks dari cash register ?
Larry berkata lagi sambil membuka penutup botol wine yang pertama, "Dan alasan aku membawa ini semua kepadamu adalah karena kuanggap kau adalah teman terbaikku,"
Aku tertawa, merasa seperti Larry sedang mencoba menyanjungku dan rasanya aneh sekali. Aku berkata padanya, "Kau bahkan belum mengenalku sebaik itu,"
"Aku tidak peduli," jawab Larry dengan wajah serius, "Aku hanya mengikuti kata hatiku. Aku tahu kalau kita akan cocok,"
"Dengan karisma yang kau miliki kupikir semua orang akan merasa cocok denganmu,"
Larry menuangkan wine itu ke gelasku terlebih dahulu baru kemudian ke gelasnya, "Kau benar. Tapi seperti kubilang tadi, aku percaya pada naluriku. Kau tahu mengapa wanita mengalami lebih sedikit kecelakaan dibandingkan para pria ? Itu karena mereka mendengarkan apa yang dikatakan hati kecil mereka. Mereka tidak akan mengemudikan mobil mereka jika merasakan sesuatu yang aneh ..."
Kali ini aku benar - benar tertawa. Betapa anehnya pemikiran semacam itu bahkan mungkin tak pernah melintas sekalipun di benak Thomas maupun diriku. Namun pria muda ini benar - benar mempercayai paradigmanya terhadap hal menggelikan ini. Larry tak menghiraukanku dan mengangkat gelas winenya. Kami bersulang untuk pertemanan pertama kami. Sambil menikmati wine dari gelas masing - masing kami mulai bertukar cerita mengenai banyak hal. Sampai pada akhirnya aku tertarik untuk bertanya pada Larry, "Kau punya pacar ?"
Larry meminum winenya dan tampak merenung sambil mengamati fotoku bersama Tania lalu berkomentar, "Foto itu pasti diambil di Salzburg dua tahun yang lalu,"
Aku masih saja dibuat takjub oleh kepandaian Larry melakukan observasi terhadap beberapa hal yang menarik perhatiannya. Aku berkata, "Jangan bilang kau menebaknya dengan benar karena perasaanmu yang mengatakan hal itu,"
Larry tersenyum, "Ya, tetapi bukan berarti aku tak pernah benar - benar mengamati sesuatu. Percayalah, aku tidak sedang menebaknya. Aku melihatnya,"
Aku mengangkat bahu, menyerah jika harus berdebat dengannya, "Terserah kau saja. Tapi harus kuakui kau memang benar - benar seorang pengamat yang hebat. Apa kau juga belajar ini dari teman - temanmu ?"
"Tidak," jawab Larry cepat seolah - olah sudah memprediksi pertanyaan itu akan muncul, "Aku memiliki bakat,"
"Hei, pernah mencoba bekerja untuk kepolisian ? Mereka membutuhkan orang - orang dengan bakat luar biasa sepertimu," aku menyarankan. Sayang sekali jika Larry tak bisa menjadi lebih baik dengan bakat itu.
"Mereka sudah memiliki detektif - detektif terbaik. Lagipula aku tak sehebat itu. Aku hanya mengamati hal - hal kecil,"
"Tapi kita sering melewatkan hal - hal kecil. Dan kadang - kadang sesuatu yang besar bersembunyi di balik sesuatu yang lebih kecil. Tak akan ada yang menduganya,"
Larry tersenyum dan wajah tampannya menjadi semakin memikat di balik senyuman itu. Benarkah senyuman itu yang sanggup meluluhkan kekerasan hati Marie ? Aku merasa tidak nyaman dengan pemikiran itu. Mengingat apa yang terjadi pada malam itu semakin memperkuat dugaanku. Siapapun yang berada di sana pada malam itu pasti akan bisa melihat Marie lebih peduli pada dampak minuman itu terhadap Larry dibandingkan pada Thomas yang notabene adalah suaminya sendiri. Lagipula pria ini masih tak memberikan jawabannya saat aku bertanya mengenai kekasihnya. Ia tampak cukup terbuka untuk hal lain di luar kehidupan percintaannya.
"Pasti ada daftar wanita yang panjang dalam kehidupan cintamu," aku mencoba memancingnya lagi.
"Bagaimana denganmu ?"
Lagi - lagi ia tampak berkelit dari pertanyaan itu. Aku menjawab dengan enggan, "Pada akhirnya aku menjalani hubungan jangka panjang dengan seorang wanita,"
"Mau tambah winenya lagi ?" Larry menawarkan saat melihat gelasku yang sudah kosong. Aku bahkan tak menyadari hal itu.
Keesokan harinya Thomas datang menemuiku dengan wajah merah padam karena kemarahan. Aku sudah terbiasa menghadapi pria tua yang malang ini dalam kondisi seperti itu. Hanya saja apa yang terjadi saat perjamuan makan malam itu sepertinya membuat Thomas benar - benar merasa tak nyaman sekalipun aku masih juga tak mendengar permohonan maaf keluar dari mulutnya. Seperti biasanya aku memaklumi pria ini.
"Saat aku bangun pagi - pagi sekali kau tahu apa yang kutemukan ? Sisi tempat tidur yang kosong, sarapan yang belum dihidangkan di meja makan dan dua alien itu menghilang begitu saja seperti ditelan bumi,"
"Maksudmu Marie dan Larry ?"
"Ya, memangnya siapa lagi ? Aku tak tahu apakah Larry sengaja mengubah namanya agar lebih terdengar seperti Marie ..." Thomas menggerutu dan mulai tidak masuk akal. Aku mencoba untuk menahan tawa. Walaupun aku bersimpati dengan apa yang sedang menimpa Thomas namun menurutku pria ini sudah menciptakan suasana humor bahkan saat ia baru saja memasuki rumahku dan berputar - putar tak karuan seperti seekor ayam yang baru saja kehilangan kepalanya.
"Mungkin mereka pergi ke suatu tempat," kataku tak yakin apa yang harus kukatakan dan kulakukan untuk membantu Thomas.
"Tentu saja ! Aku tahu itu, Ethan ! Bisakah kau mengatakan sesuatu yang lebih baik dari kesimpulan yang sudah jelas ?"
"Yang aku tidak mengerti adalah mengapa kau selalu datang kemari dengan membawa masalahmu ? Kau bisa mempermudahnya dengan langsung bertanya pada Marie. Kau tak pernah bisa melakukan itu, Tom,"
Thomas menatapku tidak percaya kalau akhirnya aku harus berteriak kepadanya. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan sangat berat. Sambil mengusap wajahnya ia bertanya padaku, "Kau punya whiskey ?"
Aku masih memiliki tiga botol wine sebagai hadiah dari Larry semalam yang jelas-jelas lebih berharga daripada beberapa botol whiskey. Aku mengambilkan sebotol untuk Thomas dan membiarkannya menyesap wine tersebut dengan harapan hal itu akan membuatnya lebih rileks dan melupakan sejenak masalahnya.
"Wine ini rasanya sangat unik," Thomas berkomentar kemudian mengamati labelnya dan berseru tak percaya, "Tahun 1853 ! Yesus, kau tidak pernah memberitahuku kalau kau memiliki wine sebagus ini !"
Aku membayangkan bagaimana reaksi Thomas jika mengetahui kalau ia sedang menikmati wine pemberian Larry. Aku menjawab, "Kupikir menyimpannya lebih lama lagi akan menambah keistimewaannya,"
"Aahh, Ethan ..." Thomas mengeluh seolah - olah sesuatu baru saja menyakiti dirinya, "Seharusnya kau tak menyajikan wine ini begitu saja padaku. Aku sudah mengacaukannya. Mungkin sebelumnya kau bermaksud menggunakannya dalam suatu perjamuan yang istimewa,"
"Tidak ada alasan untuk tidak menikmatinya bersama teman terbaik," kataku.
Thomas menatapku seolah - olah aku sedang mengatakan kalau ia baru saja menyelamatkan dunia. Lalu katanya lirih, "Terima kasih sudah membuatku merasa istimewa. Kau tahu aku kadang - kadang bisa bersikap menyebalkan dan harus kukatakan kalau itu bukan diriku. Aku pun selalu melupakan kesalahan - kesalahanmu padaku,"
Pendapat itu menurutku tidak sepenuhnya benar. Thomas langsung melanjutkan, "Kau lihat sendiri kan kalau Marie lebih peduli pada Larry dibandingkan diriku ?"
"Hal yang biasa terjadi saat kita mencoba bersikap baik terhadap tamu kita," kataku.
"Ini berbeda. Jika sedang bersamaku sikap mereka seperti dua orang manusia yang tak pernah sepakat dalam apapun. Namun aku tahu sebenarnya mereka menyusun sebuah rencana di belakangku. Mungkin mereka sedang mulai menjalankan rencana itu sekarang,"
"Memangnya apa yang melintas di benakmu sekarang tentang semua ini ?"
"Perselingkuhan, Ethan ! Tidakkah semua ini menjadi lebih jelas sekarang ? Mereka pergi berdua pagi - pagi sekali dan mungkin sedang bercumbu di suatu tempat atau memikirkan bersama cara untuk menyingkirkanku. Kau masih ingat dokter pribadi Larry yang kuceritakan kepadamu waktu itu kan ? Mari kita berasumsi kalau kepentingan Larry adalah bukan mengenai dirinya melainkan bagaimana caranya ia mendapatkan sebuah obat tertentu untukku. Mudah saja orang seperti dia menggunakan karisma yang dimilikinya untuk mendapatkan rasa percaya dari dokter itu dengan mengatakan kalau ia mengeluhkan suatu penyakit tertentu di tubuhnya. Walaupun dokter yang malang itu tidak menemukan apapun yang salah pada pasiennya bagaimanapun ia tetap harus meresepkan sebuah obat. Kau bisa bayangkan bagaimana jika kau mengobati penyakitmu dengan obat yang salah ? Mungkin ia akan menukar botol-botol obatku dengan obat lain,"
Sejujurnya walaupun kupikir Thomas tampak gila namun apa yang baru saja kudengar itu tetap saja membuatku takjub. Luar biasa bagaimana kecurigaan Thomas bisa mencapai batasan yang menembus segala kemustahilan yang mungkin tak akan terpikirkan oleh pria seusianya. Aku membayangkan Thomas bisa saja menjadi seorang penulis novel fiksi kriminal yang cukup berhasil. Akhirnya aku berkata padanya sambil menahan senyum, "Tidakkah sebaiknya kau mencari tahu yang sebenarnya sedang terjadi ? Kau bisa menanyai mereka secara terpisah ..."
"Mereka bukan orang bodoh, Ethan ! Aku yakin mereka sudah menyiapkan sebuah jawaban yang akan menemukan kecocokan jika harus diverifikasi," Thomas menolak saranku.
Harus kuakui hal itu ada benarnya. Lagi - lagi aku bertanya apa yang akan ia lakukan. Setelah tampak berpikir keras selama beberapa menit akhirnya Thomas memberitahuku kalau ia sudah mengantongi kartu nama dokter pribadi Larry dan sekarang ia ingin menemuinya. Ternyata rencananya tersebut sama sekali di luar dugaanku. Aku berkata dengan hati - hati, "Tapi, Tom, aku khawatir kalau kau sedang menelusuri jejak yang keliru. Rasanya mereka tidak mungkin pergi sejauh itu ..."
"Tidak ada salahnya mencoba, kan ?" Thomas tampak menjadi lebih bersemangat dari setengah jam yang lalu saat ia menerobos masuk ke rumahku tadi. Tanpa meminta persetujuan dariku, dan memang menurutku itu tak perlu, pria tua yang eksentrik itu berlalu begitu saja dari hadapanku.
Harus kuakui kalau kadang - kadang saat Thomas memilih mengikuti gagasan yang secara tiba - tiba muncul di benaknya biasanya membawanya tidak hanya berjalan cukup jauh melainkan juga mengungkapkan beberapa hal yang tak terduga. Namun satu - satunya yang kusesalkan dari kegigihannya tersebut adalah sikapnya yang tidak sabar dan kegemarannya berspekulasi pada kesimpulan - kesimpulan yang kebanyakan terdengar tidak masuk akal walaupun tidak jarang ia juga berhasil mendekati kebenaran atau bahkan menemukan kebenaran itu sendiri. Seperti yang ia katakan kepadaku beberapa hari lalu bahwa sesuatu memanggil dirinya untuk menemui dokter pribadi Larry yang sejauh yang kuingat bernama Ryan Bakers. Untuk itulah alasan ia meneleponku saat aku baru saja kembali dari kantor dan sedang bersiap - siap untuk mandi.
"Kau tak akan percaya apa yang kutemukan," suara Thomas terdengar sedikit berbeda di telingaku atau mungkin itu hanya karena banyaknya bunyi klakson dan terompet yang berteriak kepadaku sepanjang hari ini. Sudah lewat enam hari dari tahun baru namun ada saja segelintir orang yang masih merayakannya, tidak terkecuali Collin, rekan sekerjaku yang memang selalu lebih bisa mengingat keberadaan miniatur - miniatur superhero Marvel di dalam tasnya dibandingkan dengan laporan ataupun notebook miliknya.
"Apa ini berita bagus yang harus kudengar atau sebaliknya ?"
"Berita bagusnya adalah aku menemukan mereka di tempat yang memang sudah kupikirkan sebelumnya. Berita buruknya adalah aku melihat apa yang sebenarnya tak pernah ingin kulihat. Marie sangat marah menyadari aku telah membuntutinya dan tiba - tiba saja aku tak bisa menahan diri untuk tidak melepaskan tembakanku ..."
Aku bertanya dengan terkejut, "Tembakan ? Maksudmu kau menyimpan senjata ?"
"Aku memiliki sertifikatnya jadi aku tidak melakukan pelanggaran apapun kecuali melukai seorang pria brengsek secara tak sengaja, hanya sebuah luka ringan di tangan kirinya. Ia pantas mendapatkan sesuatu yang lebih buruk dari itu, sayang sekali gerakannya cepat juga,"
"Tunggu dulu," aku memotongnya dengan cepat, "Apa kau sudah gila ? Kau bisa saja berhadapan dengan hukum,"
"Ah, Ethan ! Jangan katakan kalau kau sama sekali tak pernah berurusan dengan para polisi itu," Thomas mulai mencoba menyudutkanku.
"Surat - surat tilang yang kuterima sama sekali berbeda dengan yang kau hadapi, Tom," jawabku membela diri.
"Apa kau sudah membayar semuanya ?"
Aku memang mengakui kalau aku sudah memiliki hutang dua kali tilang. Beberapa orang yang kukenal melakukan hal yang lebih buruk dari itu. Mereka menjejalkan surat - surat tilang itu ke dalam dasbor bersama barang - barang lainnya yang sepertinya tidak lama lagi akan masuk ke dalam tempat sampah. Kendati begitu aku memang berencana membayar semua tilang itu paling lambat bulan depan setelah aku menerima gaji. Aku jadi bertanya - tanya kemana semua uangku pergi. Semua itu baru kusadari saat ini. Saat pikiranku sedang berjalan menuju hadiah natal Tania yang belum juga kuberikan kepada wanita itu sampai hari ini, kudengar Thomas melanjutkan, "Sebenarnya aku tak pernah ingin melukai seseorang apalagi sampai membunuhnya. Aku hanya berpikir untuk membuat perhitungan dengannya,"
"Ya, itu cukup adil, walaupun aku tak habis pikir mengapa kau harus menempuh cara yang jauh lebih sukar daripada sekedar bertanya,"
"Sudah kubilang aku harus mencari tahu kebenarannya sendiri. Aku tak bisa mempercayai Marie maupun Larry saat ini. Firasatku mengatakan aku semakin mendekati kebenaran,"
"Kuharap begitu, kecuali kau tidak melepaskan tembakan yang mengejutkan hewan buruanmu sehingga ia berlari semakin jauh ke dalam hutan ..."
Tampaknya Thomas memikirkan ucapanku sebagai sesuatu yang sebelumnya berada di luar penalarannya. Dengan nada yang mengandung sedikit kekecewaan ia berkata, "Kau benar. Aku benci harus mengatakan kalau kau bisa jadi benar. Kalau begitu aku harus bertindak cepat. Memberinya lebih banyak waktu akan memberinya kesempatan untuk menyusun rencana baru,"
Aku mencoba tidak kehilangan bagian yang menurutku jauh lebih penting, "Tom, apa kau sudah memastikan ia tidak apa - apa ?"
"Tentu saja, kau pikir luka ringan di lengan bisa menjadi lebih buruk ?" Thomas menjawab dengan nada tersinggung.
"Selalu ada kemungkinan baik dan buruk dalam hidup ini," kataku dengan enggan. Sebenarnya aku merasa mulai menyukai Larry. Dengan cara tertentu aku cukup mempercayainya dan bukan tidak mungkin aku akan lebih mempercayainya lagi seandainya kami diberi kesempatan menghabiskan waktu bersama lebih lama. Tanpa harus mengutarakan apa yang sedang berbicara di benakku kepada Thomas sekarang, dengan cara tertentu aku merasa bagaimana pun profil Larry tidak cocok dengan gambaran yang dilukiskan Thomas kepadaku. Namun saat ini aku hanya mempercayai kata hatiku. Aku belum benar - benar melihat dengan kedua mataku. Waktuku bersama Larry masih terlalu sedikit untuk benar - benar mengenal dirinya.
"Lalu bagaimana dengan Marie ? Mereka tidak melaporkan perbuatanmu, kan ?"
"Tentu saja tidak. Mereka tahu itu hanya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri karena aku akan mengungkapkan skandal yang terjadi di antara mereka. Sekalipun aku harus menjawab beberapa pertanyaan dari polisi mereka tak akan bisa menahanku karena aku tidak bersalah," Thomas menyombongkan diri.
"Lalu di mana kau sekarang ? Apa kau akan pulang sekarang ?"
"Pulang ? Yang benar saja ! Aku belum selesai dan mengapa aku harus pulang ?"
"Tapi saat ini kupikir tak ada yang bisa kaulakukan. Maksudku, bukankah lebih baik kau menenangkan diri ? Bukan tidak mungkin polisi akan menyelidiki hal ini lebih jauh lagi. Kita tidak pernah tahu bagaimana mereka bekerja,"
"Aku akan hadapi itu !" Thomas menjawab cepat. Lagi - lagi aku harus dibuat gemas dengan sikap keras kepalanya yang masih juga belum berkurang sedikit pun.
"Lalu untuk apa kau meneleponku ? Aku bahkan tak merasa senang sedikit pun dengan kabar bagusmu itu," aku menggerutu.
"Kupikir kau akan tertarik untuk mengetahui perkembangannya," jawab Thomas naif.
Sebenarnya saat Thomas mengatakan itu aku mendapat kesan kalau ia merasa kecewa karena berpikir bahwa aku tidak benar - benar peduli. Aku hanya tidak menyetujui ide Thomas walaupun harus kuakui yang terjadi sebagian kecil juga merupakan kesalahanku yang telah menunjukkan jalan bagaimana semua ini harus dimulai. Tujuan muliaku sebelumnya kini nyaris tidak memiliki arti. Aku merasa aku malah semakin memperkeruh suasana. Alih - alih membantunya berhenti, justeru aku mendorongnya untuk melangkah lebih jauh lagi ke dalam masalah lain yang ternyata lebih besar dan di luar perkiraanku.
"Kau hanya harus menghentikan semua kegilaan ini," kataku akhirnya.
"Mudah sekali mengatakannya saat ini tidak terjadi padamu,"
"Aku tahu seperti apa rasanya. Percayalah, aku tahu bagaimana. Kau boleh membenciku karena tidak melakukan apapun untuk menolongmu. Tapi asal kau tahu saja, sebenarnya aku sedang menolongmu dengan cara seperti ini,"
"Ahh, hentikan ! Aku tak butuh khotbah darimu. Sudahlah, seharusnya aku tahu kalau aku sudah membuang - buang waktuku dengan seseorang yang tidak akan pernah bisa memahami diriku,"
Setelah menutup teleponnya pada hari itu, Thomas memang tak pernah mengirimkan kabarnya lagi kepadaku. Saat aku melintasi rumah pasangan Fitzgerald tidak ada yang berubah di sana sejak hari ia ditinggalkan. Tidak ada tanda - tanda salah seorang dari mereka telah kembali. Saat hari telah mendekati akhir Februari, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Terpikir olehku untuk mencari tahu apa yang terjadi, namun kemudian aku lebih disibukkan pada urusan - urusan pribadiku. Aku menghabiskan malam - malam bersama Tania dalam hubungan yang pasang surut sampai akhirnya kami memutuskan berpisah sementara waktu untuk menjernihkan pikiran masing - masing. Selanjutnya aku lebih sering terlihat bersama teman - teman priaku di bar, berkenalan dengan beberapa gadis yang kemudian tiba - tiba saja berlanjut di tempat tidur. Aku bahkan tak bisa mengingat nama mereka semua dan mungkin aku bahkan tidak mengetahuinya sama sekali. Aku tidak terlalu peduli selama aku tidak merasa kedinginan di malam hari. Namun hampir setiap pagi saat aku berdiri di depan cermin kamarku, aku merasa tidak bisa mengenali diriku sendiri. Tidak jarang aku juga membenci apa yang sudah kulakukan.
Pada suatu hari di awal Juni sepulangnya dari Walmart aku tidak sengaja bertubrukan dengan seorang pria kurus yang baru saja keluar dengan tergesa-gesa dari sebuah toko obat. Beberapa bungkus obat tercecer bersama dengan dua lembar kertas kecil yang kuduga adalah resep dan kuitansi pembelian obat - obat tersebut. Aku meminta maaf sambil membantunya mengumpulkan kembali beberapa obat yang berserakan. Saat aku telah berhasil mengumpulkan semua obat itu yang tak kupercaya pria itu harus menelan semuanya dalam beberapa hari, aku menyerahkannya pada pria malang tersebut. Saat pandangan mata kami beradu, kami sama-sama terkejut karena ternyata kami sudah saling mengenal.
"Larry, tak kupercaya kita bisa bertemu lagi di tempat ini," kataku merasa gembira. Namun begitu melihat pada obat - obat di tangannya dan bagaimana betapa tampak berbeda dirinya dibandingkan dengan terakhir kali aku melihatnya, aku merasa tak nyaman. Sepertinya Larry juga merasakan kecanggungan yang sama walaupun ia tetap terlihat gembira bertemu kembali denganku.
Larry mencoba bersikap biasa dan menjawab, "Yeaahh, menyenangkan sekali dan memang tidak terduga,"
Hening sejenak di antara kami. Aku mencoba untuk tidak melihat kembali pada kantung obat di tangan Larry sambil berharap kalau obat - obat itu bukan untuknya. Akhirnya setelah satu menit berlalu tanpa seorang pun dari kami yang berbicara, Larry memecah keheningan dengan bertanya, "Bagaimana kabarmu ? Kau masih tinggal di rumah itu ?"
"Tentu saja ! Memangnya di mana lagi aku bisa tinggal ?"
Larry tersenyum tipis menanggapi leluconku. Aku balik bertanya padanya, "Bagaimana denganmu ?"
"Aku tinggal di sekitar sini," jawab Larry.
Aku melihat pada sekeliling tanpa mendapatkan arah yang jelas di mana tepatnya Larry tinggal. Aku ingin bertanya namun ada sesuatu yang menahan keinginanku tersebut. Sepertinya Larry menangkap rasa penasaranku yang tersembunyi dan berkata ramah, "Kalau - kalau kau ingin mampir. Aku sedang tidak sibuk. Mungkin kita bisa mengobrol sambil minum teh,"
Rumah Larry bisa dibilang lebih bagus dan asri dibandingkan milikku. Tempatnya cukup jauh dari keramaian kota dan aku tidak percaya ternyata saat Larry mengatakan ia tinggal di sekitar tempat kami bertemu sebenarnya tidak sependek jarak yang kuduga sebelumnya. Saat akhirnya aku berhasil mencapai tempat itu adalah saat yang tepat bagi Larry untuk menghidangkan sepoci teh dan sekaleng Oreo. Sambil menikmati camilan sore hari kami di beranda rumahnya, kami mengobrol seperti kawan lama yang terpisah selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dipertemukan kembali.
"Aku penasaran ingin melihat gudang anggur bawah tanahmu," kataku padanya.
"Kau ingin melihatnya sekarang ?"
"Jika kau tak keberatan," jawabku.
Tentu saja Larry tak akan keberatan dan selama kami mengobrol beberapa kali ia menyinggung kebanggaannya pada pengetahuannya tentang anggur - anggur terbaik yang masih tak berkurang sedikit pun. Namun ia juga berhenti di tengah - tengah dengan berkata, "Beberapa hal sebenarnya menjadi cukup sulit untuk diingat,"
"Kita tidak harus mengingat semua hal," kataku mencoba mengusir kecemasannya.
"Namun masih ada bagian yang lebih besar yang tak kulupakan sampai saat ini. Aku tidak tahu berapa lama akhirnya mereka juga pergi meninggalkanku sampai tak menyisakan apapun lagi. Mungkin sebaiknya aku sudah mulai menuliskan semuanya sebelum aku benar-benar kehilangan ingatanku,"
Larry semakin terlihat aneh di mataku dan pada akhirnya aku tidak bisa berpura - pura tidak peduli pada apa yang sedang terjadi. Aku bertanya dengan was-was, "Sudah berapa lama, Larry ?"
"Apa ?" Larry menatapku bingung. Kedua mata itu masih memiliki cahaya pengetahuan yang semakin meredup. Wajah tampannya yang tirus dan pucat membuatku bertanya-tanya dalam hati apakah Thomas masih sanggup membenci pria ini seandainya kawanku itu melihat musuhnya dalam kondisi seperti ini ? Aku teringat pada cerita Thomas mengenai peluru yang mengenai lengan kiri Larry. Adakah sedikit saja ketakutan dan belas kasih di hatinya saat melihat bagaimana hal itu berlangsung tepat di depan kedua matanya ? Tiba - tiba aku merasa takut pada Thomas. Aku takut ia sudah lupa bagaimana rasanya mencintai dan bersimpati pada kepedihan yang dirasakan orang lain. Aku takut Thomas hanya peduli pada apa yang diinginkannya. Aku takut Thomas menjadi begitu dibutakan oleh rasa cemburunya yang semakin berkobar dalam hatinya sehingga nuraninya selalu harus mengalami kekalahan dalam peperangan batinnya tersebut. Aku tidak siap jika suatu saat aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa kawanku mungkin telah menjelma menjadi monster.
"Sudah berapa lama kau sakit ?"
Larry tidak menjawabku melainkan berkata sambil berdiri, "Kau masih ingin melihat - lihat gudang anggurku, kan ?"
Hanya untuk menghargai upayanya menyimpan masalah pribadinya untuk dirinya sendiri dan mencoba memahami bahwa lebih banyak orang yang mengetahui betapa sakit dirinya sebenarnya akan menambah beban menjadi semakin berat untuk ditanggung olehnya, maka aku setuju untuk menghentikan pertanyaanku dan berjalan mengikutinya menuju ruang bawah tanah tempat persediaan anggur - anggur terbaik miliknya.
Saat Larry mengangkat palang dan membuka pintu besarnya lebar - lebar, walaupun aku sebelumnya sudah menduga apa yang akan kulihat pastilah sesuatu yang luar biasa, namun tetap saja aku berhasil dibuat takjub oleh peti - peti yang tersusun rapi mengisi hampir seluruh gudang yang sebenarnya luasnya kuperkirakan mencapai delapan puluh persen dari keseluruhan rumah. Aku membayangkan Larry seperti seorang bajak laut yang baru saja mendulang kemenangan dari beberapa kapal yang berhasil dijarahnya. Jika semua peti itu menyimpan berbotol - botol anggur terbaik, tidak bisa dibayangkan berapa nilai kekayaan yang sebenarnya sedang dimiliki oleh pria tersebut jika Larry mendapatkan harga terbaik dalam penjualannya. Aku tak tahu apakah bisnis itu sudah berjalan atau belum, namun yang jelas Larry tidak tampak seperti seseorang yang kekurangan uang. Ia tidak menjalani kehidupan yang mewah kecuali jika sebagian orang menganggap menikmati anggur - anggur terbaik setiap hari bisa dibilang adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang - orang kaya dan dari kalangan jetset. Namun seperti yang pernah dikatakan Larry, ia hampir tak mengeluarkan sepeser pun untuk bisa memiliki anggur - anggur terbaik itu. Walaupun sulit dipercaya jika kedatangan peti - peti bermuatan anggur itu tidak melalui suatu bisnis tertentu. Dengan kata lain hampir mustahil jika semua anggur itu hanya merupakan hadiah cuma - cuma dari beberapa orang yang bermurah hati.
"Wow, ini sungguh luar biasa ! Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membangun bisnis sebesar ini ?"
Larry memandang dua rak penuh berisi botol - botol anggur yang diletakkan seperti penyumbat tutup botol di mana kami sedang berdiri di tengah - tengahnya. Ia mengambil salah satunya dengan hati - hati dan membuka penutupnya kemudian membiarkanku menikmati aromanya yang sangat eksotis. Sambil menahan keinginanku untuk segera mencicipi anggur itu, sebagaimana yang dilakukan oleh pecinta anggur sejati, Larry kali ini lebih mendorongku untuk menikmatinya dan sedikit menguji pengetahuanku dalam menebak dari mana anggur berasal. Dikelilingi oleh kenikmatan luar biasa seperti ini membuatku tak bisa berpikir dengan jernih sehingga terus menerus memberikan jawaban yang keliru. Akhirnya Larry memberikan jawabannya, "Kau tak akan percaya jika kukatakan kandungan air di dalamnya didatangkan langsung dari laut Mediterania. Itulah yang menjelaskan mengapa rasanya begitu berbeda dan aromanya seperti kau berada sangat dekat namun tidak cukup dekat untuk bisa mengenalinya,"
Cara bagaimana Larry menilai setiap kualitas anggur yang dimilikinya seperti Shakespeare menulis puisi dan sastra - sastra bergaya romantisme yang tinggi. Aku menyadari betapa Larry bisa menjadi sangat hidup di sekeliling anggur - anggur miliknya. Betapa berbeda ia dengan pria yang kulihat tampak sangat menyedihkan beberapa menit yang lalu.
"Kau bisa memilikinya. Silakan melihat - lihat dan pilih saja apapun yang kau suka," kata Larry padaku.
Aku tertawa kecil antara merasa senang dan tidak percaya bahwa tawaran itu benar - benar nyata. Kemudian aku berkata, "Ini benar - benar gila ! Maksudku tentu saja kegilaan yang menyenangkan. Bagaimana jika aku mengambil sepuluh atau bahkan dua puluh botol anggur ini ? Kau tahu ini akan menjadi awal bisnis yang bagus,"
Sebenarnya aku bermaksud bercanda dan sebelum Larry memberikan jawabannya aku buru - buru berkata, "Aku hanya bercanda. Ini memang sangat menyenangkan dan akan menjadi hadiah terindah yang pernah kumiliki. Tapi aku tak ingin setiap kali aku datang kau akan berpikir aku harus membawa sesuatu keluar dari tempat ini kembali ke rumahku,"
"Aku tidak pernah melihatmu dengan cara seperti itu. Sungguh, kau bisa memilikinya berapa banyak pun yang kau inginkan," kata Larry serius. Kedua matanya lurus menatapku dan cukup memberikan penjelasan kepadaku kalau ia tidak sedang berbohong.
Aku menggeleng, merasa tidak nyaman dengan kemurahan hati Larry tersebut sambil menjawab, "Aku menghargai itu, Larry. Tapi bagiku persahabatan kita sudah lebih dari cukup. Aku tidak mungkin meminta lebih banyak lagi darimu,"
Persahabatan ? Aku tak menyangka kata itu keluar begitu saja dari mulutku walaupun aku tak memungkiri kalau aku mengucapkannya dengan tulus. Tanpa sadar aku mengungkapkan apa yang sedang berbicara dalam benakku. Larry menatapku dalam sekali sehingga seolah - olah akan menelan diriku ke dalam kedua bola matanya yang berwarna biru cerah tersebut. Dengan cara tertentu aku tahu kalau Larry juga merasakan hal yang sama. Kendati kami tidak menghabiskan lebih banyak waktu bersama, namun kami bisa merasakan kalau kami terikat oleh sesuatu yang lebih kuat.
Bisa kulihat Larry sangat gembira mendengar itu namun tak bisa menutupi kecanggungan yang tiba - tiba datang menyelimutinya, membuatku berpikir kalau mungkin saja tak satu pun dari kawan - kawannya yang melihatnya dengan cara aku melihat dirinya. Aku percaya Larry memiliki lebih banyak kawan dibandingkan dengan yang kumiliki dulu maupun saat ini. Namun ia tak memiliki seorang sahabat pun dan itulah mengapa bagaimana pun ia bisa tampak sangat kesepian dan murung.
Akhirnya ia mampu juga berkata - kata, "Terima kasih, Ethan. Itu sangat berarti bagiku. Senang sekali bisa memiliki seorang sahabat seperti dirimu,"
Entah mengapa tiba - tiba aku menukas, "Kulihat Marie bisa menjadi sahabat yang cukup baik untukmu,"
Wajah Larry berubah. Kegembiraan di wajahnya seperti tersapu pergi begitu saja meninggalkan awan gelap yang menyelubunginya. Sambil berjalan lambat - lambat dengan membelakangiku Larry berkata, "Sebenarnya kami lebih dekat dari itu,"
Aku menelan ludah dari tenggorokanku yang mendadak terasa kering. Jadi selama ini yang dipikirkan Thomas itu benar. Sekarang aku mulai mengerti mengapa Thomas sampai kehilangan kendalinya pada hari itu. Larry bahkan sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah dari hubungan gelap mereka tersebut. Sejenak aku bimbang antara mencoba untuk mempercayai Thomas atau mengabaikan hal itu dan tetap tidak merubah penilaianku terhadap Larry. Sepertinya berpura - pura tidak peduli apa yang sedang terjadi adalah cara terbaik untuk membuatku tetap bisa menempatkan diriku di antara Thomas maupun Larry. Bagaimana pun aku tidak siap jika harus kehilangan salah seorang dari mereka. Tak masalah bagaimana mungkin Thomas sekarang membenciku. Aku tahu suatu hari ia tetap akan datang kepadaku dan meminta pendapatku dalam beberapa hal. Hal ini sudah biasa terjadi maka sebenarnya bagiku ini tidak terlalu aneh lagi.
Aku mencoba membahas hal lain yang bersifat netral dengan berkata, "Aku tertarik bagaimana kau memulai semua ini,"
Larry menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan - lahan. Ada jeda yang lumayan panjang sebelum ia menjawab, "Ceritanya panjang. Aku baru mulai berbisnis kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Seorang teman Belgia-ku yang memperkenalkanku pada dunia bisnis yang sebelumnya tak pernah menarik minatku sedikit pun. Pada awalnya aku tak tertarik saat ia memintaku menanam sejumlah modal tertentu. Asal kau tahu saja, keberuntunganku selalu buruk dalam spekulasi. Tapi Nestor melalui upaya yang terus menerus akhirnya berhasil meyakinkanku. Aku menarik hampir seluruh rekening bank milikku dan hanya menyisakan sedikit saldo yang sempat membuatku bertanya-tanya apakah aku sudah gila. Kupikir mengapa aku tidak sekalian mencobanya saja ? Uang datang dan pergi. Bukan sesuatu yang aneh jika kau hampir selalu bisa kehilangan uangmu dengan cara apapun, sementara kesempatan emas seperti itu bisa jadi hanya datang sekali dalam hidupmu. Beberapa bulan berlalu dan aku tidak pernah bertemu dengan Nestor lagi. Hal itu sempat membuatku gila dan aku menduga ia sudah menipuku dan hampir saja aku melaporkan perbuatannya tersebut ke polisi ketika pada suatu hari ia tiba - tiba datang menemuiku sambil membawa beberapa lembar saham dengan wajah cerah. Itu adalah hari yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku saat Nestor memberitahuku bahwa investasi itu telah menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda. Aku tak pernah bertemu lagi dengannya walaupun tak ada masalah dalam hubungan kami. Terakhir kali kudengar Nestor menjual seluruh saham miliknya untuk sebuah proyek rahasia. Bisnis anggur adalah bisnis yang sangat menguntungkan dan tak menjadi masalah jika kau tak menjual habis semuanya karena justeru harganya akan semakin tinggi bertahun - tahun kemudian. Walaupun begitu aku tetap menyisihkan sebagian untuk mencoba peruntungan melalui bisnis logam mulia. Jumlahnya memang tidak banyak namun kau memang tidak bisa menggantungkan bisnismu pada satu bidang saja. Selalu ada kemungkinan - kemungkinan yang tidak terduga dan itu tidak selalu menjadi berita bagus,"
Aku memandangnya dengan penuh rasa kagum. Teringat pada salah satu pembicaraan kami di meja makan dalam perjamuan makan malam di rumah Thomas waktu itu aku tertarik untuk bertanya, "Mengapa pada waktu itu kau mengatakan kepadaku kalau mesin dan elektronika adalah minat terbesarmu ? Kau tidak pernah menyinggung soal anggur - anggur tersebut. Kau bahkan membuatku hampir percaya kalau kau benar - benar menyebalkan dan sedikit bodoh,"
Larry tertawa lalu menjawab, "Kau tidak berpikir kalau seorang teknisi itu tidak lebih pintar dari seorang pengusaha anggur, kan ?"
"Bukan begitu, aku tahu elektronika tidak selalu mudah bahkan aku tak pernah bisa memahaminya sejak dulu hingga sekarang. Hanya saja apakah kau tidak ingin kami mengetahui yang sebenarnya ?"
"Tak seorang pun pernah bertanya padaku tentang itu. Padahal aku tak akan berbohong jika kalian menanyakannya,"
"Kau memang tidak tampak seperti itu," aku menahan senyum. Tidak diragukan lagi kalau aku memang menyukai pria ini. Kini tak penting lagi bagaimana dosa - dosa masa lalu maupun masa kininya, bagiku ia tetap pribadi yang sangat menyenangkan. Ia tidak pernah memamerkan kekayaan yang dimilikinya. Namun gambaran - gambaran Thomas mengenai dirinya sebelum ini masih menjadi sebuah misteri besar yang kuharap bisa mengungkap semuanya pada hari ini agar tidak ada lagi kebingungan dalam pikiranku setiap kali harus mencoba mempercayai dua hal sekaligus. Nyaris semua gambaran itu menyimpang dari kesimpulan yang kudapat mengenai Larry Coulthard.
Akhirnya setelah berpikir keras aku menemukan cara untuk memulainya secara halus, "Pasti kau juga menciptakan musuh - musuh bisnis yang selalu ingin melihatmu hancur. Pernahkah kau merasa sangat tidak aman sehingga terpikir olehmu untuk melakukan sesuatu yang gila untuk mengantisipasi kemungkinan - kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi ?"
Larry tampak memikirkan ucapanku sebentar lalu menjawab lambat - lambat, "Ya, sering sekali. Namun tidak cukup gila juga, hanya seperti aku pernah mencoba menjadi orang lain, mengganti identitasku dan bekerja pada orang lain dengan cara yang ceroboh, membiarkan semua orang berpikir kalau aku sangat bodoh," ia tertawa sebentar lalu melanjutkan, "Kau tahu ? Semakin bodoh dirimu maka semakin banyak yang bisa kau dengar,"
Aku mencoba untuk ikut tertawa bersamanya dan menimpali, "Itu cukup licik,"
"Orang - orang yang mengenalku lebih baik mengatakan kalau itu adalah warisan ayahku," ia menunjuk pelipisnya, "Otak ini berpikir seperti cara ayahku berpikir,"
"Berguna jauh lebih banyak. Lihat saja bagaimana kau bisa berhasil dengannya," kataku bersungguh- sungguh.
"Ya, kau benar," jawab Larry singkat.
Aku tergoda untuk bertanya lagi, "Apa Larry ini salah satu nama samaranmu ?"
Larry hanya memberikan senyuman misteriusnya yang memberitahuku bahwa aku tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanku tersebut. Dengan wajah yang kembali berubah menjadi serius ia berkata, "Sebenarnya aku yakin pertemuan kita ini bukan sebuah kebetulan. Seperti yang pernah kukatakan kepadamu kalau aku selalu mempercayai naluriku. Saat ini naluriku mengatakan kalau kau adalah orang yang tepat,"
Aku menatapnya dengan bingung pada arah pembicaraan yang berubah dengan cepat itu, "Apa maksudmu ?"
Larry tersenyum ganjil dan menjawab lirih, "Kau bertanya padaku berapa lama aku sakit. Aku akan menjawabnya dengan mengatakan kalau waktuku tak cukup banyak. Leukimia akan membunuhku lebih cepat. Aku sudah lama menikmati hidup dan aku tak akan menangis jika harus melepaskannya kapan pun. Pada akhirnya semua orang juga akan menemui kematian mereka. Ini akan lebih baik daripada aku harus mengalami kematian yang tragis, bukan ? Aku akan memilih kematianku dengan cara yang anggun dikelilingi oleh botol - botol anggur terbaik milikku. Hanya saja saat aku pergi mereka tidak akan ikut pergi bersamaku. Mereka harus tinggal bersamamu,"
Kupikir Larry pasti sudah gila dan tak benar-benar menyadari apa yang sedang ia katakan. Ia tampak melemah dan aku membantunya untuk tidak terjatuh sambil berkata, "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Kau tampak kurang sehat, mari kubantu ke kamarmu. Kau harus beristirahat,"
Larry membiarkan aku membantunya keluar dari gudang anggur dan menikmati udara yang lebih segar. Sesampainya di atas ia mencoba melepaskan diri dariku dan menolak masuk ke kamarnya. Ia berkata lagi padaku, "Aku tidak memiliki keraguan sedikit pun untuk mewariskan semua ini kepadamu,"
"Larry ..." aku memperingatkan dengan lembut, "Kau terlalu letih sehingga tak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Sebaiknya aku pulang sekarang agar kau bisa beristirahat,"
Saat aku sudah akan mencapai pintu keluar sebelum Larry sempat menahan kepergianku dan mulai meracau lagi, tiba - tiba langkahku terhenti oleh seseorang yang menerobos masuk. Aku tercekat. Kulihat Marie menatapku dengan wajah pucat.
"Ethan ! Apa yang kau lakukan di sini ?" ia bertanya kepadaku dengan gugup.
Aku tidak bisa menutupi rasa tidak sukaku dan menjawab dingin, "Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu,"
Marie dan Larry saling melemparkan pandangan. Saat Larry hampir ambruk dengan cepat wanita itu berlari untuk menggapainya. Yang kulihat beberapa detik kemudian adalah Marie yang memeluk tubuh Larry yang seperti hampir kehilangan seluruh tenaganya dengan penuh cinta. Aku merasa ingin muntah melihat pemandangan seperti itu dan yang kuinginkan adalah ingin secepatnya pergi dari tempat itu. Bahkan sepertinya mereka langsung lupa kalau aku masih berada di antara mereka. Sepertinya Marie sudah gila dan tak lagi melihat diriku sebagai kawan dekat suaminya.
"Kau harus beristirahat," kata Marie lembut sambil mengusap wajah Larry.
"Aku baik - baik saja. Aku sedang memberitahunya," jawab Larry.
"Memberitahunya ?"
Marie langsung berbalik menatapku dengan cemas. Ingin sekali rasanya aku meludahi wanita murahan ini namun untungnya aku masih bisa menahan diri. Baiklah, aku akan pergi dan lebih baik menganggap ini tak pernah terjadi. Bagaimana pun aku tak akan pernah sanggup memberitahu Thomas mengenai hal ini. Lagipula kawanku yang malang itu sudah mengetahui kebenarannya. Sekarang aku merasa muak pada diriku sendiri karena sempat berpikir kalau Marie sebenarnya adalah seorang wanita yang baik dan hanya Thomas yang tak bisa melihat kebaikan darinya.
"Mengapa kau memberitahunya ?" Marie bertanya pada Larry dengan marah.
"Ia harus mengetahui kebenarannya. Tapi aku belum sampai pada bagian itu,"
"Kau bahkan tak mengenalnya sebaik itu, dear ..." Marie mulai histeris.
Larry mencoba menenangkannya dengan berkata, "Kukira kau mengenalnya jauh lebih baik dariku,"
Marie mencoba menemukan kata - kata yang tepat untuk menggambarkan karakterku, "Iya, itu memang benar. Tetapi bukan berarti aku bisa mempercayainya begitu saja,"
Aku tidak tahan menjadi orang bodoh lebih lama lagi di antara mereka. Aku tidak akan berpura - pura tidak peduli lagi pada apa yang sedang terjadi. Mencoba melupakan di mana aku sedang berada dan dengan siapa aku sedang berbicara, aku berseru pada mereka, "Hentikan semua omong kosong ini ! Kau kira aku tidak mengetahui semuanya ?"
"Kau tidak tahu apapun !" Marie menjerit menantangku.
"Aku tidak cukup bodoh untuk mengetahui kalau kau meniduri pria yang lebih pantas menjadi anakmu !"
Tampak sekali kata - kataku telah melukai perasaan Marie. Aku melihat genangan air mata di kedua kelopak matanya. Larry menatapku dengan terkejut seolah - olah tidak percaya kalau aku sanggup memuntahkan kata - kata penuh penghinaan seperti itu kepada seorang wanita yang seharusnya kuhormati seperti seorang ibu bagiku. Aku jadi teringat saat aku memergoki ibuku sedang berbaring di atas tempat tidur di kamarnya bersama seorang pria yang bukan ayahku. Itu terjadi sebelum mereka akhirnya benar - benar bercerai. Kenyataan yang kusadari beberapa tahun kemudian kalau ibu gemar berselingkuh sehingga ayah sudah tidak sanggup mempertahankan pernikahan mereka. Marie tidak berbeda dengan wanita jalang yang telah melahirkanku tersebut. Setelah kejadian itu aku jadi semakin yakin kalau ada alasan mengapa aku tampak sangat berbeda dengan saudariku Jessica. Cara ayah dulu memperlakukanku semakin memperjelas semuanya kalau aku mungkin bukan putera biologisnya. Aku adalah anak yang terlahir dari hasil perselingkuhan.
"Ini bahkan sama sekali bukan urusanmu !" Marie mendesis sambil menatapku penuh kebencian. Kulihat Larry mencoba mengatakan sesuatu namun wanita itu sudah terlebih dahulu mengangkat sebelah tangannya untuk membungkamnya.
Tiba - tiba sesuatu yang lebih buruk mengambil alih ketegangan yang tercipta di antara kami. Thomas menerobos masuk dengan cara yang dramatis. Yang mengejutkan adalah wajahnya tampak mengerikan di mataku dan sepertinya baik Marie maupun Larry melihat hal yang tak berbeda dari apa yang kulihat dalam kedua mata Thomas. Thomas sedang mabuk dan kulihat wajahnya memerah dan berkeringat sementara kedua matanya dipenuhi kobaran api kemarahan yang membuatku berpikir kalau ia bisa saja membunuh karena itu. Secara intuitif aku bergerak mundur dan entah mengapa aku mengambil posisi berdiri di hadapan Marie dan Larry seolah - olah sedang mencoba melindungi mereka dari amukan kemarahan Thomas yang hanya menunggu untuk meledak seperti sebuah bom waktu.
"Tom, bagaimana kau bisa kemari ?"
Itu adalah pertanyaan paling konyol dan aku yakin hanya akan menambah kemarahan Thomas. Ia menatapku dengan penuh kebencian, "Jadi kau pun ingin menutupi perbuatan kotor mereka ? Sejak kapan kau tidak memihakku ?"
"Aku tidak memihak siapapun," aku menjawab dengan panik begitu kulihat sesuatu yang menyembul di balik jaket Thomas. Itu adalah revolver bersertifikat yang pernah dibicarakan Thomas dan baru kali ini aku bisa merasakan kehadirannya begitu nyata dan menakutkan. Selama ini tak masalah berapa banyak revolver ataupun senjata pembunuh yang kusaksikan melalui layar televisi atau berapa banyak pembicaraan langsung mengenai hal itu, aku tak pernah benar - benar memiliki alasan untuk merasa takut. Namun kali ini sepertinya benda itu sedang berbicara padaku bahwa kematianku bisa saja terjadi hari ini jika ia menginginkannya. Aku tidak pernah berada sedekat ini dengan teror yang sebenarnya sebelum ini. Aku merasa jantungku berdebar - debar. Aku tidak tahu berapa lama jantung ini akan dapat kurasakan debarannya. Akankah ini menjadi hari terakhirku ? Bagaimana mungkin takdirku harus diakhiri di tangan kawan baikku sendiri ? Berbagai pikiran aneh terus berbicara tanpa henti di benakku dan semakin lama semakin terdengar menggila.
"Tom, aku bisa menjelaskan," Marie mencoba bergerak maju menghadapinya namun tanganku menghentikannya. Sesaat aku melupakan kemarahanku padanya dan berbisik, "Ia memiliki senjata. Sebaiknya kita tidak mencari masalah dengannya,"
Thomas tertawa aneh dan seperti yang kukhawatirkan sebelah tangannya bergerak ke balik jaketnya. Ia menatap Marie dan Larry bergantian seolah - olah sedang mempertimbangkan apakah akan membunuh atau mengampuni mereka. Atau mungkin yang lebih buruk adalah mempertimbangkan siapa yang akan mendapatkan tembakan pertama di antara mereka berdua. Kendati demikian aku tetap merasakan ancaman besar pada setiap orang tidak terkecuali diriku. Aku tahu ini saatnya aku harus berpikir cepat dan cerdas, namun di bawah todongan senjata yang semakin mendekat dalam pandanganku aku bahkan tak bisa memikirkan apapun selain kematianku sendiri.
"Tom, jangan gila ! Letakkan senjata itu ! Jika kau menembak mereka sekarang kau tak akan pernah menemukan kebenarannya," aku mencoba upaya terbaikku untuk bernegosiasi dengan Thomas yang tampaknya sedang menjelma menjadi seseorang di luar dirinya. Kemarahan dan kadar alkohol yang tinggi dalam darahnya adalah kombinasi yang sangat buruk.
"Kebenaran ? Biar aku tunjukkan bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan kebenaran !"
Aku mendengar suara letusan yang menyebabkan dengingan panjang di telingaku. Kupikir sesuatu sudah mengenaiku dan sedang membunuhku secara perlahan - lahan. Namun saat aku melihat pada sekujur tubuhku tak ada luka apapun di sana. Aku masih hidup ! Beberapa detik yang lalu aku masih berdiri tepat di hadapan Thomas yang menggila dengan revolver yang mengarah kepada Marie di belakangku. Aku merasa tubuhku menggigil begitu aku memutar tubuhku untuk melihat pada Marie, tak siap melihat hal buruk yang baru saja terjadi. Marie masih berdiri di sana dengan jari-jari tangan kiri menutup mulutnya yang terbuka tanpa suara. Ia hidup ! Aku tidak melihat Larry di sana.
Begitu melihat wajah Thomas yang berubah menjadi sepucat mayat aku langsung memahami tragedi yang baru saja terjadi. Perlu waktu beberapa menit lebih lama untuk benar-benar menyadari bahwa Larry sedang terbaring di antara kami dengan dada kiri yang berlubang dan berdarah. Aku tidak melihat betapa cepatnya Larry mengambil alih posisiku, menjadi perisai bagiku saat peluru itu melesat menuju ke arahku. Padahal rasanya baru satu detik yang lalu aku melihat Thomas tampaknya berniat membunuh Marie. Untuk itulah aku berdiri di hadapan wanita itu demi melindunginya. Tak kusangka kalau Larry juga berdiri di hadapanku untuk melindungiku.
"Yesus ! Cepat ! Kita membutuhkan paramedis di sini !"
Rasanya suaraku datang dari tempat yang jauh sekali. Aku mencoba sedapat mungkin dengan pengetahuan medisku sekedarnya yang kuperoleh dari pelatihan Palang Merah saat masih di SMU untuk mencegah lebih banyak pendarahan yang terjadi pada Larry. Kudengar tarikan dan hembusan napasnya yang pendek - pendek dan saat cengkeraman Larry pada lenganku semakin melemah aku mencoba untuk tidak menangis dan meyakinkan diriku kalau ia akan bertahan.
"Larry ... tenanglah, Sobat. Kau akan baik-baik saja. Ambulans sedang dalam perjalanan kemari," aku menoleh pada Marie yang tampaknya terlalu gugup untuk menyampaikan maksud sebenarnya lewat ponsel miliknya sehingga ia hanya berputar-putar dengan panik.
"Demi Tuhan ! Tidak bisakah kau memberitahu mereka kalau ada seseorang yang sedang terluka di sini ?" aku bertanya dengan tidak sabar.
Marie menjerit histeris kepadaku masih dengan ponsel di tangannya, "Berhentilah berteriak kepadaku, keparat ! Mengapa harus aku yang melakukannya ? Pria itu yang telah membunuhnya !" ia menuding pada Thomas yang hanya terpaku di tempatnya sedang menyerap semua yang terjadi lalu dengan beringas menerjang pria itu dan memukulinya sambil menangis. Thomas masih tidak bergeming. Saat kedua matanya menatap tubuh Larry yang bersimbah darah, aku tak yakin ia benar - benar memahami apa yang sedang terjadi. Ia mengalihkan pandangannya pada senjata di tangannya dengan bingung dan ketakutan sekaligus.
"Ia kehilangan banyak darah ! Ada nyawa seseorang yang harus diselamatkan dan kita tidak mempunyai banyak waktu !" aku berteriak dengan gemas melihat Marie yang sama sekali tak membantu mengatasi situasi ini.
Denyut nadi Larry semakin melemah sehingga aku hampir dibuat gila karena takut kehilangannya. Aku bahkan tak ada waktu untuk menuding pada wajah Thomas dan menyalahkannya. Akan ada waktunya bagi pria itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut di mata hukum. Hal lain yang lebih penting untuk dilakukan adalah mencoba menyelamatkan Larry dan membantunya bertahan selama mungkin sampai pertolongan medis sebenarnya tiba.
"Kau gila, Tom ! Aku tidak percaya aku sudah menikahi seorang psikopat sepertimu ! Kau baru saja membunuhnya !" Marie masih saja seperti mencoba menumbangkan tubuh Thomas yang masih berdiri kaku di tempatnya. Aku benci melihat wanita itu hanya terus menerus berkutat pada masalahnya sendiri dengan mengabaikan hal lain yang lebih penting. Sekarang aku benar - benar mengerti mengapa Thomas pernah mengatakan kepadaku kalau hidupnya seperti di neraka. Tak akan ada yang sanggup bertahan lebih lama lagi dengan seorang wanita seperti Marie.
"Larry, kumohon bertahanlah ! Kau belum memberiku jawaban apakah Larry itu namamu yang sebenarnya atau bukan," aku bahkan masih mencoba untuk membuatnya terdengar seperti lelucon di antara kami.
Larry tertawa lirih dan bisa kulihat wajahnya semakin pucat kemudian ia menjawab lirih, "Harvey, itulah namaku sebenarnya. Kau tak perlu mengetahui nama belakangku karena itu tidak penting,"
Aku mencoba ikut tertawa bersamanya namun yang dapat kurasakan aku sedang mengkhianati perasaanku sendiri. Saat Harvey mencegahku untuk menghubungi paramedis aku terlalu takut untuk melihat ke dalam kedua matanya yang telah menyerah. Aku tak pernah tahan pada tatapan dari seseorang yang sedang menyongsong kematiannya. Air mataku jatuh ke atas dahi Harvey yang berkeringat. Ia tersenyum lemah dan masih mencoba bergurau denganku sambil berkata, "Kau benar - benar pria besar yang bodoh dan berhati wanita,"
Aku mengusap air mataku sambil menelan ludah dari tenggorokanku yang sakit, "Terserah kau mau menyebutku apa,"
"Aku ingin kau memiliki semuanya, Ethan," kata Harvey semakin lirih.
"Kau tidak akan mati sekarang," kataku pedih. Ini tidak adil, aku baru mengenalnya dan Tuhan sudah akan mengambilnya dariku.
"Aku tetap akan mati walaupun tanpa peluru ini. Waktuku hanya tersisa sedikit," Harvey hampir kehabisan napasnya, namun ia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan, "Sebelum kau pergi aku ingin kau tahu sebuah kebenaran. Aku ingin meninggalkan itu di sini untukmu. Aku juga ingin kau tahu kalau aku tak menyesal harus pergi dengan cara seperti ini,"
Sepertinya daya tangkap Marie yang lamban terhadap situasi yang sedang berlangsung di sekelilingnya menyebabkan wanita itu lebih tampak kebingungan daripada memahami bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang menyedihkan. Saat ia melihat pada aku dan Harvey barulah ia benar-benar menyadari bahwa seharusnya ia melakukan lebih banyak hal yang berguna daripada hanya meratapi apa yang sudah terjadi. Dari cara Marie menatap Harvey, menurutku wanita itu mengalami guncangan yang cukup hebat untuk menekan dirinya ke dalam depresi. Ia bahkan tak bisa membedakan apakah Harvey masih hidup atau sudah mati. Ia berlutut dan menangis sambil mengusap wajah pucat Harvey dengan lembut dan gemetar.
Thomas akhirnya berjalan menghampiri kami dan dengan terbata - bata berkata lirih, "Maafkan aku. Aku tak pernah benar - benar bermaksud melukainya,"
Marie kembali menjadi emosional dan menatap Thomas geram, "Kau bahkan berniat menghabisi nyawaku. Mengapa tidak sekalian saja kau melakukannya padaku ???"
Thomas kehabisan kata - kata. Saat ini aku sangat marah pada apa yang sudah dilakukan pria itu namun aku juga merasa kasihan padanya. Ia memang bersalah, namun Marie memberinya alasan untuk melakukan hal itu. Saat mereka sudah akan bertengkar lagi, aku terpaksa harus kembali berteriak, "Hentikan ! Tidak bisakah kalian bersikap dewasa sekali ini saja ? Kalian bahkan tak tahu kalau ia ingin kalian mendengar sesuatu darinya !"
Akhirnya saat perhatian kami semua benar-benar tertuju padanya, Harvey mulai berkata dengan suara dan napas yang seolah-olah menjadi miliknya yang terakhir, "Hanya karena seorang ibu pernah meninggalkan puteranya dan memutuskan untuk tidak mencintainya bukan berarti aku akan membencinya selamanya. Aku menyesal belum melakukan banyak hal untukmu, Mom. Aku mencintai kalian semua,"
Saat kulihat Marie menganggukkan kepalanya sambil menangis aku baru sadar betapa hal ini telah menjadi begitu mengerikan. Aku terpana menyaksikan Harvey akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dengan tangan kanan yang memegang tanganku dan tangan kirinya yang memegang tangan Marie. Sementara aku sedang mencoba untuk benar-benar memahami seberapa nyata kebenaran yang diungkapkan di hadapan kami semua ini dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan, kulihat Marie akhirnya perlahan-lahan berhasil mengumpulkan kekuatan dan semangat hidupnya kembali. Ia mengangkat wajahnya untuk menatapku dan tanganku yang masih berada dalam genggaman dingin Harvey lalu berkata dengan penuh perasaan, "Ia selalu mengatakan kepadaku jika suatu saat kematian datang kepadanya, ia akan menggenggam tangan satu-satunya orang yang ia percaya dengan tangan kanannya. Entah apa yang kau lakukan padanya namun ia lebih mempercayaimu dibandingkan dengan diriku,"
Ada nada perih dalam suara Marie saat ia mengucapkan kalimat terakhir. Aku merasakan wajahku menegang saat aku menggumam, "Memang menyakitkan jika puteramu tak mempercayaimu bahkan di saat - saat terakhirnya. Namun semua itu pasti memiliki alasan, kan ?"
Jelas sekali kalau Marie merasa sedang diadili. Aku menatap wajah pucat Harvey dengan kedua mata yang menutup tenang menghadapi kematiannya. Seperti ada ribuan pisau yang menusuk ke jantungku sekaligus. Setelah berpuluh - puluh tahun berlalu aku hampir lupa bagaimana rasanya kehilangan. Sekarang saat ini rasa sakitnya tak tertahankan. Aku tak yakin aku ingin mendengar alasan Marie menyembunyikan kenyataan ini. Bagaimana pun hal itu telah menimbulkan tragedi yang tak akan kulupakan sepanjang hidupku. Penyesalan dalam bentuk apapun tak akan pernah bisa mengembalikan kehadiran Harvey di antara kami.
Aku mendengar bunyi sesuatu yang berat dijatuhkan ke atas lantai. Thomas yang baru berhasil menyerap semua yang terjadi jatuh berlutut setelah revolver miliknya terlebih dahulu menghantam permukaan lantai. Dengan suara bergetar dan pandangan tak dilepaskan dari tubuh tak bernyawa Harvey, ia berkata pada Marie dengan pedih, "Kupikir sebelumnya kita sepakat untuk tidak memiliki rahasia,"
Wajah Marie basah oleh air mata. Thomas terlalu terguncang untuk bisa menangis sedangkan aku mencoba untuk tidak mendengar apapun karena aku tahu itu akan menjadi lebih menyakitkan lagi. Ingin sekali rasanya aku pergi dari tempat ini namun kedua kakiku terlalu lemas untuk digerakkan. Aku mencoba mematikan perasaanku dari mengasihani Marie yang mungkin akan mulai mengumbar cerita hidupnya yang menyedihkan menurut versi dirinya.
"Aku tidak pernah berselingkuh darimu. Peristiwa itu terjadi sebelum aku menikahimu. Saat itu aku hanyalah seorang gadis desa belia yang sedang jatuh cinta. Sebelum aku mengenal Dwayne, aku hidup dalam duniaku yang monoton sampai - sampai pernah terpikirkan olehku mungkin suatu hari aku akan mati karena bosan. Orang tuaku memiliki peraturan yang ketat dan itu mengekangku lebih kuat daripada cara mereka memperlakukan saudara-saudara laki - lakiku. Tidak mudah menjalani kehidupan sebagai anak perempuan dalam keluarga. Kami tidak kaya namun orang tuaku cukup mampu menyekolahkan dua orang saudara laki-lakiku sedangkan mereka tidak melakukan hal yang sama terhadapku dan Adelaide hanya karena pemikiran kolot mereka pada saat itu bahwa tak ada tempat dan alasan bagi perempuan manapun untuk menempuh pendidikan seperti para pria. Tugas kami hanyalah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Kami tidak harus bisa membaca dan menulis."
"Kemudian Dwayne membuka kedua mataku pada dunia yang benar - benar baru bagiku. Aku baru tahu kalau ada lebih banyak warna dalam hidup ini. Ia mengajariku membaca, menulis dan berhitung. Tidak hanya itu, aku juga secara diam - diam mulai mengikuti pesta - pesta dansa yang pada waktu itu adalah sesuatu yang tabu untuk dilakukan oleh seorang gadis desa. Pemuda kota yang tampan itu menarik perhatian banyak gadis namun aku merasa beruntung saat ia menciumku pertama kali pada malam perayaan 4 Juli di bawah warna - warni kembang api,"
"Perlukah aku mendengar keseluruhan cerita ini ?" Thomas bertanya dengan jengkel.
"Sebaiknya kita segera menguburkan jenazah ini sebelum terjadi hal yang lebih buruk lagi," aku mengingatkan Marie dan Thomas.
"Kau benar," Thomas kembali pada kesadarannya mengenai bahaya yang sedang mengancamnya. Dengan gerakan cepat ia mengitari ruangan seperti sedang mencari sesuatu sambil berkata pada dirinya sendiri, "Aku harus menyembunyikan benda sialan ini,"
Marie berkata lirih sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak percaya kau akan melakukannya. Aku tidak percaya kau memutuskan untuk lari dari masalah ini,"
Thomas menghentikan langkahnya dan menatap Marie dengan tajam, "Kau yang menimbulkan kekacauan ini dan sekarang pun kau ingin aku membereskan semuanya ? Kau memang wanita yang kejam ! Bahkan kau sama sekali tak mencoba menolongku keluar dari masalah ini !"
"Kuharap Harvey mendapatkan keadilan yang sepantasnya ! Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya harus kehilangan puteramu untuk kedua kalinya !"
"Lalu apa yang sebaiknya kulakukan ? Menelepon polisi dan menyerahkan diriku begitu saja seperti seorang warga negara yang baik ?" Thomas menggeleng dan tertawa getir, "Warga negara baik seperti apa yang menjadi pembunuh karena kebohongan isterinya ? Tak akan ada yang mempercayai ceritaku !"
Sesuatu tiba - tiba menyentakkan diriku ke belakang. Aku menatap pada kedua tanganku yang berdarah dalam upayaku mencoba menghentikan pendarahan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Aku bergerak mundur dengan ketakutan, terlambat menyadari betapa besar bahaya yang sedang kuhadapi jika aku tidak segera melakukan sesuatu. Dengan suara gemetar aku berkata, "Kita harus menelepon polisi. Bagaimanapun kita harus melakukannya,"
"Aku tidak akan melakukan itu jika menjadi dirimu," Thomas menodongkan revolver di tangannya ke arahku.
"Tom, kau tak akan mengulangi kesalahan yang sama, kan ?" aku mencoba untuk tidak terpengaruh oleh ancaman senjata tersebut.
"Membunuh untuk kedua kalinya tidak akan sesulit yang pertama. Kau tahu itu," Thomas mendesis sambil berjalan mendekat ke arahku dengan ujung revolver yang masih mengarah kepada diriku.
"Jangan lakukan ! Tom, kau sudah gila !" Marie menjerit histeris.
"Letakkan ponsel itu sekarang juga !" Thomas memerintahku.
Sebenarnya aku masih mengharapkan keadilan untuk Harvey namun aku tahu aku sedang membahayakan diriku sendiri jika tidak menuruti perintahnya. Aku meletakkan ponselku pada lantai. Thomas memberikan perintah yang lainnya lagi padaku untuk menendang pelan benda itu agar meluncur ke arahnya seolah - olah ponselku adalah senjata berbahaya yang sewaktu - waktu bisa kugunakan untuk menghabisi nyawanya. Aku menuruti perintahnya hanya karena tak ingin menimbulkan bahaya yang lebih besar lagi. Rasanya sulit dipercaya kalau ini benar - benar terjadi. Seperti mimpi saja melihat Thomas dalam keadaan seperti ini. Aku tidak bisa mengenali kawan baikku ini. Aku hanya melihat orang asing yang sedang menjelma menjadi mesin pembunuh.
Mungkin yang dikatakan Thomas ada benarnya saat ia mengatakan yang kedua tidak akan sesulit yang pertama. Kedua tangannya tidak lagi gemetar saat menodongkan revolver itu ke arahku. Aku dapat melihat kepercayaan dirinya meningkat. Ia tidak lagi peduli pada tubuh tak bernyawa bersimbah darah yang tergeletak di antara kami. Ia sedang menertawakan kemenangan kecilnya dan tampak bersenang - senang. Thomas yang kukenal telah benar - benar pergi. Kini aku sedang berhadapan dengan seorang pria gila yang sedang menyiapkan dirinya untuk menjadi eksekutor untuk kedua kalinya.
Aku mendengar suara letusan dan sesuatu yang hangat pada lengan kananku. Marie menjerit. Aku melihat darah yang mulai merembes keluar dari kemeja yang kukenakan. Aku merasa pusing dan entah mengapa aku tidak bisa merasakan sakit pada luka tersebut. Mungkin beberapa detik lagi aku akan merasakannya. Namun aku tahu tidak lama lagi aku juga akan kehabisan darah.
"Tom, kau baru saja menembakku," aku berkata padanya dengan nada tak percaya.
Untuk beberapa detik yang singkat bisa kulihat Thomas mencoba mengatakan sesuatu, namun tiba - tiba dua orang petugas polisi menerobos masuk dan memerintahkannya untuk meletakkan revolver miliknya. Ia tidak tampak terkejut dengan kedatangan yang sama sekali tak diharapkannya itu. Salah seorang dari petugas itu segera mengalihkan perhatiannya padaku dan mayat Harvey lalu berseru melalui pintu yang terbuka, "Paramedis ! Ada yang terluka di sini ! Forensik, kami menemukan mayat !"
"Letakkan senjatamu !" Opsir Leigh masih tidak berhasil menciutkan nyali Thomas dengan todongan senjatanya. Saat petugas Forensik dan beberapa staf paramedis bergerak masuk aku melihat salah seorang dari petugas polisi wanita menghampiri Marie yang masih terguncang dan mengatakan sesuatu sebelum kemudian membawa wanita itu pergi bersamanya. Aku merasa agak malu harus ditangani oleh beberapa orang paramedis hanya karena sebuah luka tembak di lengan kanan, lalu sambil berjalan menuju ambulans bersama mereka aku berkata, "Hanya luka ringan. Aku baik - baik saja,"
"Anda harus segera diobati. Kami harus mengeluarkan peluru itu sebelum terjadi infeksi yang bisa merenggut nyawa Anda," kata salah seorang dari mereka yang tampak lebih cantik dibandingkan yang lainnya. Sekilas aku melihat pada kartu pengenalnya. Sharon.
"Anda bisa meminta nomor teleponku nanti," kata Sharon padaku dengan nada bercanda. Aku tahu ia memergokiku yang sedang berusaha membaca kartu pengenalnya. Aku merasakan wajahku memanas karena malu.
"Tentu saja Anda akan baik - baik saja. Sebaiknya Anda tak mengkhawatirkan apapun. Kami memiliki dokter terbaik," kata rekannya yang berwajah bintik - bintik sambil diam - diam memelototi Sharon seolah - olah sedang mengatakan berhentilah menakutinya.
Sebelum aku benar - benar melangkah masuk ke dalam ambulans tersebut, samar - samar di antara raungan sirine ambulans dan mobil polisi aku mendengar suara tembakan. Saat mobil kami bergerak pergi aku mendengar suara tembakan lagi. Aku merasakan jantungku seolah - olah sedang ditarik keluar. Tubuhku benar - benar lemas dan kini aku dapat merasakan kebas pada lenganku. Bukan rasa sakit akibat luka tembak yang kini sedang kurasakan, melainkan rasa pedih di hatiku. Aku memejamkan mata, berharap ini semua hanyalah mimpi dan tak lama lagi aku akan terbangun. Entah bagaimana aku tetap berharap tidak ada sesuatu yang lebih buruk lagi yang akan menimpa Thomas.
Pada akhirnya aku tahu kalau Tuhan tidak menjawab doaku atas keselamatan Thomas pada malam itu. Opsir Leigh terpaksa harus melepaskan tembakannya karena Thomas mencoba menembak dirinya. Pada sore hari menjelang senja yang dingin, Thomas Fitzgerald menemui kematiannya hanya berselang beberapa menit dari kepergian seorang pria malang yang menandai perbedaan tipis takdirnya pada cara ia meninggalkan dunia ini. Harvey tak sempat memilih kematian yang anggun di antara botol - botol anggur tercintanya. Ia hanya berada sedikit lebih dekat dengan itu.
Itu adalah satu hari yang mengubah seluruh takdirku. Aku tak ingin mengetahui lebih banyak kebenaran yang Marie coba tunjukkan kepadaku. Aku sudah tidak peduli lagi pada apa yang terjadi di masa lalu wanita itu. Aku tidak tahu apakah aku harus membenci atau mengasihaninya. Apapun yang terjadi itu tak akan pernah bisa membuat Harvey hidup kembali. Itu tak akan bisa memutar ulang waktu sehingga aku bisa mengerahkan segala upayaku untuk mencegah Thomas melepaskan tembakannya. Mungkin aku bisa berharap kalau takdirku sebaiknya tidak pernah mempertemukanku dengan Marie sehingga aku tidak perlu harus menjalani hari - hari dan malam - malamku yang panjang di bawah bayang - bayang tragedi yang menghantuiku.
Kendati begitu selalu ada pelangi setelah hujan. Saat aku sedang mencoba melupakan segala peristiwa yang sudah terjadi dan memulai hidupku yang baru bersama Sharon yang kini menjadi tunanganku, seorang pengacara datang menemuiku di suatu pagi yang cerah yang untuk pertama kalinya benar - benar bisa kunikmati kembali kehangatan dan keindahannya. Mr. Kingsley menunjukkan wasiat yang ditandatangani secara sah dan berkekuatan hukum oleh Harvey Stockeners yang mewariskan perusahaan Stockeners Winery, Co. kepadaku.
Aku terhenyak di atas sofaku saat membaca surat wasiat itu berulang - ulang hanya untuk memastikan kalau semua itu nyata. Mr. Kingsley mendongak ke arahku sambil bertanya, "Jadi ?"
"Jadi ? Apa ini benar - benar Stockeners Winery yang itu ?" aku bertanya tak tahu harus merasa beruntung atau bodoh.
"Mr. Wade, hanya ada satu Stockeners Winery di kota ini. Dan itu menjadi milik Anda," jawab Mr. Kingsley sambil mengeluarkan beberapa kertas yang berisi pasal - pasal yang lebih membingungkan aku dan Sharon dari tasnya. Ia dengan sabar memberi waktu kami untuk membacanya perlahan - lahan dan mencoba memahaminya.
"Tapi saya sungguh tak mengerti," kataku padanya, "Saya tak mengerti bagaimana mungkin tiba - tiba perusahaan itu menjadi miliknya,"
Sharon menyentuh tanganku dengan lembut, mencoba memahami kebingunganku yang tampaknya hampir membuatku gila itu. Mr. Kingsley menjawab, "Itu tidak diperoleh secara tiba - tiba, Sir. Tapi secara hukum itu memang menjadi miliknya. Dulu. Dan sekarang itu telah menjadi milik Anda,"
Ia berdiri, menyeruput teh yang dihidangkan untuknya lalu berkata, "Well, tak perlu terburu - buru. Anda bisa mempelajari pasal - pasal itu. Saya akan kembali besok," ia tersenyum ramah, "Semoga hari Anda semakin menyenangkan. Wah, benar - benar pagi yang luar biasa dan tak terduga, ya ?"
Sampai saat ini, sepuluh tahun setelah pagi tak terduga itu, bahkan saat aku untuk kesekian kalinya berbicara pada Harvey di atas batu nisannya, aku masih tak bisa menyingkap misteri yang menyertai kehidupan kawanku itu. Marie sudah meninggalkan dunia ini selama - lamanya enam tahun yang lalu, tepat satu hari setelah kelahiran Travis, putera pertamaku hasil pernikahanku dengan Sharon. Aku pun tak pernah mencoba bertanya padanya bukan karena aku tak peduli, melainkan aku tak siap jika aku harus mendengar hal - hal yang tak pernah ingin kudengar. Aku menghormati dan berterima kasih pada Harvey dengan caraku.
Pada suatu Sabtu sore di pertengahan bulan September seseorang membunyikan bel rumah kami. Travis berlari membukakan pintu dengan bersemangat. Ini adalah dua hari menjelang ulang tahunnya yang ke delapan tahun dan ia selalu menduga salah satu di antara kami akan mengirimkan kado ulang tahunnya melalui pos. Aku memang pernah melakukan itu tahun lalu. Tak lama kemudian Travis masuk kembali menemui kami yang sedang sibuk menghitung jumlah topi kerucut berwarna emas dan perak yang akan digunakan untuk pesta ulang tahun nanti.
Kehidupan kami sudah jauh berubah menjadi lebih baik. Dengan beralihnya kepemilikan Stockeners Winery, Co. kepada diriku, hal - hal tak terduga lainnya ikut serta bersamanya. Saat kau memiliki banyak uang orang - orang yang kau kenal maupun tak kau kenal akan datang kepadamu seperti semut mengerubungi gula. Sedapat mungkin aku mencoba segalanya tetap berada dalam keseimbangan. Bisnis yang sedang berjalan, keluargaku, kesenangan pribadiku maupun kehidupan sosialku. Aku menyadari tak mudah di awal maupun untuk seterusnya namun aku tahu kami semua harus belajar bertahan dengan semua ini. Bagaimanapun selalu ada akhir dari sesuatu. Selalu ada proses menuju titik jenuh di mana mungkin semut - semut akan berhenti mengerubungi gula di suatu tempat untuk mencari petualangan baru di tempat lainnya. Sekarang aku benar - benar mengerti alasan Harvey memilih berpura - pura menjadi orang lain dan menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda. Namun yang membuatku tak habis pikir adalah bagaimana ia bahkan tetap menjaga rahasia ini sampai mati.
"Dad, seseorang bernama Martin ingin menemuimu," Travis memberitahuku.
"Siapa Martin ?" Sharon bertanya padaku.
"Entahlah, aku tidak mengenalnya," jawabku enggan. Sudah tidak terhitung berapa kali seseorang tak dikenal membunyikan bel rumahku atau mencegatku di jalan dengan berpura - pura mengenaliku sebagai teman lama atau salah satu kerabat jauh mereka yang sudah lama mereka cari - cari selama bertahun-tahun.
"Travis, ayahmu tidak mengenal seseorang bernama Martin," kata Sharon. Kulihat ia agak sebal karena putera kami tampaknya tak pernah benar - benar mendengarkan saat kami memberitahunya untuk melihat pada lubang pengintai terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membuka pintu dan mempersilakan seseorang masuk begitu saja.
"Tenanglah, aku akan menemuinya. Siapa tahu aku melewatkan sesuatu," aku mengusap lengan Sharon dengan lembut kemudian berjalan menuju ruang utama untuk menemui tamuku yang bernama Martin. Ternyata seperti biasanya tamu asingku sudah duduk dengan nyaman di sofa sebelum aku mempersilakannya masuk. Aku menoleh pada Travis yang langsung menyadari kalau aku sedang mempertanyakan tindakan cerobohnya tersebut dan menyangkal dengan gerakan mulutnya kalau ia bersumpah tidak pernah mengundang pria asing itu masuk.
"Maaf kedatangan saya yang tiba - tiba ini, Mr. Wade. Saya tahu kalau seharusnya saya menelepon dulu. Semoga saya memilih hari yang tepat. Anda sedang tidak terlalu sibuk, bukan ?" Ia berdiri dengan sopan lalu menyodorkan tangannya, "Martin Cohlen,"
Aku menjabat tangannya. Kami berdua duduk. Travis masih mengawasi kami dari sudut ruangan. Kadang - kadang sikap ingin tahu dan sok penting Travis bisa jadi menyebalkan, terutama pada saat - saat seperti ini di mana sepertinya sudah menjadi kegemarannya ingin melibatkan diri ke dalam pembicaraan dua orang dewasa. Aku berkata padanya, "Ibumu memerlukan bantuan di sana, datanglah padanya,"
Dari cara Travis menatapku ia tahu kalau kehadirannya sedang tidak diharapkan pada saat itu. Untunglah ia bersedia menyingkir dan membiarkan aku dan Martin memulai pembicaraan kami.
"Saya tahu waktu Anda tidak banyak, Sir. Karena itu saya tidak akan memperlambatnya untuk Anda," Martin berhenti sejenak untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyodorkan sebuah buku yang menyerupai album foto usang berusia puluhan tahun. Namun tentu saja setelah diamati lebih baik itu tidak tampak seperti album foto melainkan sebuah buku catatan.
Sambil mempersilakan aku untuk membuka lembaran - lembarannya seperti sedang mencoba membawaku pada kenangan - kenangan lama pemiliknya, ia berkata, "Sebenarnya pada awalnya kami tidak ingin mempermasalahkan catatan tua itu karena tujuan utama kami hanyalah merobohkan bangunan tua tersebut,"
"Bangunan tua ?" aku masih tak mengalihkan perhatianku dari tulisan - tulisan tangan yang tampaknya telah mengalami perjalanan panjang sehingga hampir menghapus seluruh huruf - huruf di dalamnya. Namun beberapa tulisan masih terbaca dengan cukup baik.
"Ya, kami sudah membayar dengan harga yang pantas. Pengacara itu bilang kalau rumah itu tidak termasuk ke dalam apa yang seharusnya menjadi milik Anda. Jadi semuanya beres kecuali saya harus mengembalikan sesuatu itu kepada Anda sebagai bagian dari keinginan pemilik sebelumnya,"
"Apa yang Anda maksud Harvey Stockeners ?"
"Ya, Anda benar. Itu permintaan yang terlalu mudah dan bagaimana mungkin saya menolaknya ? Sekarang bangunan tua itu akan tergantikan oleh masa depan dari anak - anak tunagrahita sebagaimana yang dituliskan ke dalam isi wasiat itu," Martin menjelaskan.
Aku menatap sedih tulisan tangan Harvey dan berharap ia ada di sini bersamaku saat ini. Aku memerlukan waktu yang khusus untuk benar - benar membacanya karena aku bisa merasakan di sinilah jawaban yang selama ini aku cari. Jawaban dari sebuah kebenaran. Masih perlukah ? Itu tidak akan memutar kembali waktu dan mencegah hal - hal yang tak diinginkan yang terjadi di masa lalu. Tapi kebenaran hanya memiliki satu wajah, yaitu kebenaran itu sendiri. Adakah yang lebih berharga dari sesuatu yang benar - benar kau yakini dalam hidup ? Kebenaran adalah suatu prinsip hidup yang harus dihargai sebagaimana mestinya. Mungkin ini akan menjadi kejutan terakhir Harvey, sebuah lelucon janggal yang akan membuatmu harus menertawakan dirimu sendiri. Aku tak tahu apakah aku merasa senang atau terlalu takut untuk menghadapinya.
Sepertinya Martin bisa melihat kabut di mataku sehingga pria itu berkata dengan nada bersimpati, "Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dekatnya Anda dengan mendiang. Maafkan saya jika ini sedikit mengganggu ketenangan Anda,"
Aku menelan ludah dari tenggorokanku yang tiba - tiba menjadi kering. Aku tidak pernah berhenti merindukan Harvey. Kenyataan bahwa Thomas telah pergi untuk selama - lamanya dengan cara yang tragis di saat seharusnya bisa memiliki jalan cerita yang berbeda tetap menjadi sesuatu yang menyakitkan bagiku.
Setelah kepulangan Martin, pada malam harinya saat Sharon dan Travis sudah tidur aku masih belum memejamkan kedua mataku. Aku berencana untuk membaca habis seluruh isi buku catatan Harvey tersebut. Marie benar dengan mengatakan kalau Harvey lebih mempercayai diriku dibandingkan dengan siapapun yang pernah dikenalnya. Ia mempercayakan kisah hidup dan rahasia - rahasianya pergi bersamaku.
Buku itu adalah kehidupan kecil yang pahit dan manis. Bahkan saat aku telah selesai membacanya aku seolah - olah menyerap semua luka dari mereka yang telah pergi. Aku hanya berharap rahasia ini terungkap lebih awal sehingga aku tak perlu merasakan penyesalan seperti ini.
Marie muda berkenalan dengan Dwayne Stockeners yang menghasilkan seorang bayi laki - laki di luar pernikahan. Pada masa itu hal tersebut adalah aib yang sangat besar terutama bagi keluarga Alleys yang notabene merupakan penganut Katholik yang religius. Nilai - nilai agamis tersebut menyelamatkan Marie dari keharusan melakukan aborsi namun ia harus menerima konsekuensi yang tidak kalah menyakitkan, yaitu meninggalkan Harvey kecil ke panti asuhan. Keluarga Stockeners yang terpandang lebih memilih menyelamatkan reputasi mereka dibandingkan menerima kehadiran bayi di luar pernikahan tersebut, apalagi bayi itu terlahir dari rahim seorang wanita yang mereka anggap tidak sederajat. Dwayne harus melupakan cinta monyetnya dan memulai kehidupan baru sebagai suami dari seorang wanita kaya yang menurut Huge Stockeners sudah pasti juga terhormat. Kehidupan pernikahan mereka tidak sebahagia apa yang mereka coba perlihatkan di depan banyak orang. Tidak ada anak dari hasil pernikahan itu. Namun mereka tetap menjalani kehidupan sebagai suami isteri sampai maut memisahkan keduanya.
Dwayne dan Marie masih tetap mencoba mencari tahu keberadaan putera mereka yang hilang secara diam - diam selama bertahun - tahun sebelum akhirnya upaya keras itu membuahkan hasil. Dwayne dan Marie memang kembali dekat karena itu namun tidak ada romansa yang terjadi di antara mereka sekalipun Josephine,isteri Dwayne sudah meninggal tiga tahun sejak mereka bertemu. Marie pun sudah menikahi Thomas dan menyimpan rahasianya bersama Dwayne.
Harvey memerlukan waktu untuk bisa menerima alasan kedua orang tuanya meninggalkan dirinya di panti asuhan. Ia bahkan masih belum memaafkan Dwayne sampai pria itu meninggal dunia dan mewariskan perusahaan anggur yang ia miliki kepadanya. Aku terkejut saat menemukan tulisan bahwa Harvey sama sekali tak pernah menggunakan kekayaan ayahnya. Ia mewarisi hal yang berbeda, tidak berbentuk materi melainkan ketajaman naluri bisnis Stockeners. Ia memilih menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga Coulthard yang sudah mengasuhnya sejak ia masih bayi dan bekerja untuk mereka. Ia memang tidak pernah bertahan lama pada suatu pekerjaan tertentu namun cukup telaten dalam mengelola keuangannya. Walaupun waktu telah sampai pada akhirnya ia bersedia memaafkan dan menerima kehadiran Marie namun ia masih saja menolak pemberian wanita itu. Setiap sen uang yang dikirimkan Marie kepadanya selalu dikembalikannya. Jadi dugaan kami selama ini keliru. Ia tak pernah mencoba memanfaatkan wanita itu atau siapapun sekalipun ia berhak melakukan itu mengingat apa yang sudah Marie lakukan padanya.
Kini rahasia gelap itu terkubur bersama masa lalu Marie, Dwayne dan Harvey dalam batu nisan mereka. Dan aku pun sudah bersumpah untuk menjaga rahasia itu bersamaku sampai ajal menjemputku.
Excellent !!! Love to read :)
BalasHapus