MIMPI SANG RAJA
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang raja yang memerintah negerinya secara kejam selama berpuluh - puluh tahun. Ia haus akan perang dan kekuatan yang tak terbatas. Rakyat hidup di bawah bayang - bayang ketakutan akibat penyiksaan dan ayunan pedang. Sebagai akibat dari kekejamannya, maka telah banyak nyawa yang menjadi korban hanya karena ambisinya untuk semakin memperluas kekuasaannya.
Hingga pada suatu malam sang raja bermimpi baju kebesarannya terkoyak. Mimpi ini sangat mengganggunya karena mimpi yang sama selalu datang menghantuinya selama tiga malam berturut - turut. Ia khawatir mimpi ini mengisyaratkan sesuatu yang buruk bagi tahtanya. Maka dipanggillah para ahli tafsir mimpi terbaik pada masa itu. Mereka diminta untuk menafsirkan mimpi sang raja secara terpisah.
Keenam ahli tafsir mimpi memberikan enam tafsir mimpi yang berbeda,namun sikap aneh mereka tak luput dari kejelian mata sang raja. Mereka semua keluar dari ruangan dengan wajah pucat dan keringat di dahi mereka. Jawaban - jawaban mereka berbeda dan kebanyakan terdengar tidak masuk akal sehingga tidak memuaskan sang raja.
Keenam ahli tafsir mimpi memberikan enam tafsir mimpi yang berbeda,namun sikap aneh mereka tak luput dari kejelian mata sang raja. Mereka semua keluar dari ruangan dengan wajah pucat dan keringat di dahi mereka. Jawaban - jawaban mereka berbeda dan kebanyakan terdengar tidak masuk akal sehingga tidak memuaskan sang raja.
Kemudian sang raja memanggil ahli tafsir mimpi yang terakhir dan berkata kepadanya, "Mereka semua memberikan jawaban yang berbeda dan aku yakin mereka sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kau harus memberitahuku yang sebenarnya karena jika kau pun mencoba membohongiku maka aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."
Maka raja kembali mengulangi cerita mengenai mimpi anehnya tersebut. Sang ahli tafsir mimpi mendengarkan dengan seksama. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia tampak jauh lebih tenang dibandingkan dengan para ahli tafsir mimpi sebelumnya. Hal ini membuat raja merasa sedikit lega. Namun tiba - tiba sang ahli tafsir mimpi tersebut berkata, "Yang Mulia, hamba akan menafsirkan mimpi itu untuk Anda jika Anda bersedia menjamin keselamatan hamba,"
Kendati bingung dan merasa tidak senang dengan permintaan itu, namun rasa ingin tahu raja yang lebih besar menyebabkan beliau bersedia memenuhi persyaratan yang diajukan sang ahli tafsir tersebut. Maka akhirnya sang ahli tafsir memberikan jawabannya, "Yang Mulia bermimpi mengenai sesuatu yang akan menghancurkan kekuasaan Anda dan menjadikan Anda kehilangan kejayaan."
Mendengar hal ini, raja menjadi sangat marah dan langsung memerintahkan algojonya untuk memenggal kepala sang ahli tafsir mimpi tersebut. Sang ahli tafsir mimpi bangkit dan berkata dengan lantang, "Yang Mulia telah mengingkari perjanjian untuk menjamin keselamatan hamba!"
Dengan angkuh sang raja berdalih, "Aku hanya akan menjamin keselamatanmu jika kau berkata jujur. Kau hanya sedang mencoba menyebarkan teror bagi kekuasaanku. Satu - satunya hukuman yang pantas untuk pengkhianat adalah hukuman mati!"
"Tapi saya mengatakan yang sebenarnya!" Sang ahli tafsir mimpi yang malang mencoba membela diri. Namun sekalipun ia berlutut untuk memohon belas kasih, upayanya tersebut tetap tak berhasil mengubah keputusan sang raja.
Akhirnya setelah menyadari kalau raja sudah mengingkari janji ia berkata dengan marah, "Sekalipun Yang Mulia membunuh hamba dan seluruh rakyat yang menentang Anda, itu tidak akan merubah takdir yang sedang menanti Anda. Hamba boleh mati hari ini, akan tetapi Anda tidak akan pernah melupakan hari ini. Anda tidak akan bisa lari dari kematian. Ia akan menemukan Anda di mana pun Anda mencoba untuk bersembunyi. Dan saat hari itu tiba, tak akan ada air mata yang pantas untuk menangisi kepergian Anda!"
Akhirnya setelah menyadari kalau raja sudah mengingkari janji ia berkata dengan marah, "Sekalipun Yang Mulia membunuh hamba dan seluruh rakyat yang menentang Anda, itu tidak akan merubah takdir yang sedang menanti Anda. Hamba boleh mati hari ini, akan tetapi Anda tidak akan pernah melupakan hari ini. Anda tidak akan bisa lari dari kematian. Ia akan menemukan Anda di mana pun Anda mencoba untuk bersembunyi. Dan saat hari itu tiba, tak akan ada air mata yang pantas untuk menangisi kepergian Anda!"
Raja hanya menjawab dengan wajah garang, "Kuanggap itu adalah kalimat terakhir menjelang kematianmu."
Maka sang ahli tafsir mimpi itu pun menghadapi kematiannya yang tragis dengan kepala terpenggal. Masih belum cukup dengan itu semua, raja memerintahkan agar kepala sang ahli tafsir mimpi dipamerkan di pusat keramaian sebagai peringatan bagi siapapun yang mencoba menentang kekuasaannya.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Sang raja tak pernah mendapatkan lagi mimpi aneh tersebut, namun kata-kata terakhir sang ahli tafsir mimpi masih saja menghantui malam - malamnya seperti lonceng yang terus berbunyi di telinganya setiap saat. Lama kelamaan ia mulai mempercayai ramalan sang ahli tafsir mimpi pada takdirnya tersebut. Ia menjadi ketakutan dan tidak mempercayai siapapun termasuk sang ratu maupun pangeran dan puterinya.
Ketakutan tersebut sedemikian besarnya sehingga sang raja tidak bisa memikirkan urusan negara ataupun hal-hal lain yang lebih penting daripada kecurigaannya pada sesuatu yang sedang mengintainya di suatu sudut yang gelap. Ia tidak melakukan apapun yang menurutnya bisa menyebabkan ia terbunuh dengan cara tidak terduga. Ia tidak pergi berburu karena takut akan terbunuh oleh panah dan tidak berkuda karena takut akan terjatuh. Ia juga mulai menolak makanan dan minuman yang datang kepadanya dengan alasan seseorang mungkin sudah memasukkan bubuk racun ke dalamnya.
Seiring dengan kejayaannya yang mulai memudar, sang raja menjadi gila oleh ketakutannya sendiri sebelum akhirnya jatuh sakit. Kendati para tabib terbaik telah dipanggil untuk mengobati sang raja namun kesehatan beliau semakin memburuk.
Hingga pada suatu hari, raja yang lalim tersebut menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia tidak mati oleh pedang dan anak panah. Ia tidak terbunuh oleh racun. Ia juga tidak terjatuh dari tangga seperti yang dikhawatirkan oleh dirinya. Ia terbunuh oleh rasa takutnya sendiri. Bahkan menjelang kematiannya, ia terlambat menyadari kalau ia tidak akan pernah bisa lari dari kematian. Ia hanya berharap ia memiliki sedikit saja kemurahan hati.
Namun wajah kematian sudah datang padanya, meninggalkan jasadnya dengan wajah yang ketakutan dan penuh penyesalan. Sesuatu yang sayangnya hanya bisa dilihat oleh sebagian kecil mereka yang hidup.
Ketakutan tersebut sedemikian besarnya sehingga sang raja tidak bisa memikirkan urusan negara ataupun hal-hal lain yang lebih penting daripada kecurigaannya pada sesuatu yang sedang mengintainya di suatu sudut yang gelap. Ia tidak melakukan apapun yang menurutnya bisa menyebabkan ia terbunuh dengan cara tidak terduga. Ia tidak pergi berburu karena takut akan terbunuh oleh panah dan tidak berkuda karena takut akan terjatuh. Ia juga mulai menolak makanan dan minuman yang datang kepadanya dengan alasan seseorang mungkin sudah memasukkan bubuk racun ke dalamnya.
Seiring dengan kejayaannya yang mulai memudar, sang raja menjadi gila oleh ketakutannya sendiri sebelum akhirnya jatuh sakit. Kendati para tabib terbaik telah dipanggil untuk mengobati sang raja namun kesehatan beliau semakin memburuk.
Hingga pada suatu hari, raja yang lalim tersebut menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia tidak mati oleh pedang dan anak panah. Ia tidak terbunuh oleh racun. Ia juga tidak terjatuh dari tangga seperti yang dikhawatirkan oleh dirinya. Ia terbunuh oleh rasa takutnya sendiri. Bahkan menjelang kematiannya, ia terlambat menyadari kalau ia tidak akan pernah bisa lari dari kematian. Ia hanya berharap ia memiliki sedikit saja kemurahan hati.
Namun wajah kematian sudah datang padanya, meninggalkan jasadnya dengan wajah yang ketakutan dan penuh penyesalan. Sesuatu yang sayangnya hanya bisa dilihat oleh sebagian kecil mereka yang hidup.
Komentar
Posting Komentar