BELLE




Tidak ada kebodohan yang paling pantas untuk ditertawakan selain mempercayai satu kebenaran di antara sembilan puluh sembilan kebohongan. Seperti saat Sang Adonis Alexis mengeliminasi gadis-gadis berkaki jenjang dengan bentuk tubuh proporsional demi seorang Belle __ yang demi seluruh konstelasi di langit__, bahkan tidak cukup pantas menyandang gelar kompetitor.
Barangkali Alexis mengalami fase anti klimaks dalam hidupnya. Ya, saat kesempurnaan menemukan titik kebosanan hebat dan berniat melakukan misi bunuh diri. Atau dalam konteks yang sedikit lebih bermoral, melempar seluruh uang ke lautan dan memilih kehidupan terasing di mana kau bahkan harus bertahan hidup dengan naluri berburumu.
Beruntung Belle tetap memastikan rasionya berjalan di jalur yang benar. Mustahil pria itu bisa jatuh cinta padanya. Ini bukanlah dongeng pengantar tidur yang menjual mimpi pada kepolosan anak-anak, melainkan kenyataan yang bersandar pada logika. Gelembung mimpi yang menerbangkan negeri khayalan hanya bertahan hingga usiamu sepuluh tahun, walaupun beberapa anak memilih untuk memecahkannya lebih awal. Belle tak hidup di dunia mimpi dan tak akan pernah tertidur bersamanya.
Amber dan semua hipokrit itu bisa saja mendukung kebohongan Alexis bahwa Belle tercipta sebagai pasangan sempurna untuknya. Tetapi cermin tak memiliki kadar kelicikan yang cukup untuk memanipulasi pandangan dan kebahagiaan orang lain. Lihatlah kedua gundukan besar yang membenamkan hidung bulat kemerahan menyerupai tomat miliknya! Bahkan siapapun akan kesulitan menemukan pergerakan kedua bola mata Belle yang tersembunyi di balik garis pipih sedikit mencuat. Gelambir di dagunya ikut menari setiap kali ia berbicara.
Dan Alexis buta dari semua itu. Atau mungkin sedang memainkan sebuah permainan kotor yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Belle tak berhasil menemukan alasan pria itu memberikan tempat istimewa untuknya di hati, selain dari kegilaan yang telah mencapai titik paling depresif.
"Kumohon menikahlah denganku, Belle." Alexis membawa kuntum mawar ke lima puluh tujuh. Ia tak peduli Belle membiarkan semua bunga itu layu. Bahkan menimbulkan aroma tak sedap yang menguar ke sekeliling ruangan. Sepertinya gadis itu bersungguh-sungguh saat berkata akan mati di antara tumpukan mawar tersebut. Dan itu membuat Alexis sangat cemas.
"Kau tahu aku tidak seperti gadis-gadis sempurna itu, Alexis. Jika kau pikir bisa mempermainkanku, maka lupakan saja. Kau tak akan memenangkan taruhanmu."
"Jadi itukah yang kau pikirkan selama ini? Bagaimana dengan cinta sejati?"
Belle nyaris meledakkan tawa. Itu sungguh pertanyaan yang aneh. Bagaimana mungkin manusia menghabiskan separuh perjalanan hidup hanya untuk mencari sesuatu yang tak nyata? Beberapa bahkan rela mati untuk itu.
"Aku tahu kau juga mencintaiku. Berhentilah menyangkalnya, Belle."
Sekalipun nurani adalah sepotong kecil kebenaran, namun cenderung gentar jika harus berhadapan dengan lidah. Lagi-lagi ia memuntahkan lahar yang membakar jantung Alexis. Dan anehnya, tidak ada jejak kecacatan yang tertinggal di sana. Sungguh pria yang bodoh! Telah terbunuh berkali-kali namun masih tak menyerah bertahan hidup seribu tahun lamanya demi memenangkan hati pujaannya. Untuk pertama kalinya, Belle tidak tahu harus menampar atau mencium pria itu.
"Aku ... aku berbeda, Alexis. Kau lihat sendiri bagaimana mereka menertawakan lapisan-lapisan lemak di tubuh dan wajahku ini. Aku adalah kesalahan dan kau harus mengenyahkanku dari kehidupanmu," isak Belle.
Sambil menggenggam tangan Belle, meletakkannya di dada, Alexis menjawab lembut, "Tidak ada yang menertawakan apalagi mencemooh dirimu, Sayang. Dan kupastikan tak akan pernah."
Belle mengusap hidungnya yang berair. Tekanan ini dirasakan olehnya semakin berat, seperti sedang bertelanjang kaki menginjak bara api. Ia tidak akan menyalahkan para gadis sempurna itu. Semua sudah salah sejak ia lebih mempercayai bisikan hatinya daripada sinyal peringatan otaknya.
"Tinggalkan aku sendiri." Suara itu melebihi dinginnya marmer yang sedang dipijak Alexis.
"Belle ..."
"Kumohon jauhkan ini semua dariku!"
"Tapi kau harus makan."
"Tidak!!! Kau hanya ingin membunuhku, bukan?" Belle menjerit histeris dan mulai melemparkan lebih banyak barang.
"Membunuhmu??? Jika aku memang berniat melakukannya, maka kau tidak akan berada di sini sejak dulu." Alexis mengangkat kedua tangan ke udara, lalu berakhir dengan cengkeraman pada helai-helai rambutnya.
Belle tertawa ganjil. Dan mulai terdengar mengerikan di telinga Alexis.
"Benarkah? Jadi kau menyesal mengapa tak melenyapkanku sejak dulu? Kau seharusnya membunuhku lalu meniduri gadis-gadis Barbie itu. Jika itu yang kau inginkan, biar kupermudah untukmu."
"Kau histeris untuk sesuatu yang tak masuk akal! Astaga, hentikan semua kegilaan ini, Belle. Biarkan aku membantumu." Alexis mencoba mengenyahkan rasa panas pada wajah dan matanya. Sejak pria ditakdirkan tak menumpahkan lebih banyak air mata, mereka lebih sering merasakan sesak di dada. Seperti yang saat ini sedang dirasakannya.
Ia tak sanggup melihat Belle terluka lebih dalam lagi. Wanitanya akan hancur dan ia tak ingin itu terjadi. Konfrontasi hanya akan meningkatkan histeria. Pilihan terbaik yang dapat dilakukan adalah meninggalkan gadis itu di dalam ruang meditasinya. Seperti yang biasa ia lakukan.
"Bersabarlah menghadapinya, Monsieur." Dokter Constantine meletakkan sebelah tangannya ke pundak Alexis seolah ingin menyerap sebagian bebannya. "Pasien Anorexia Nervousa memerlukan waktu untuk pulih dan mulai melihat diri mereka sebagaimana seharusnya."
Dari balik kaca, kedua pria itu bisa melihat seorang gadis berambut kusam dengan tubuh sangat kurus gemetar ketakutan memandangi kubus-kubus glukosa yang berserakan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE SMILEY FACE

HADIAH TERINDAH

SENTUHAN MIDAS