DAN 262.800 JAM ITU ...
DAN 262.800 JAM ITU...
Langit itu seperti gugusan mozaik yang memancarkan cahaya keemasan di mata Dalton. Jika kau mengatakan kepada orang lain bagaimana cahaya itu akan memotong tubuhmu seperti laser, sebagian dari mereka mungkin akan menganggapmu gila. Sekalipun kau juga akan menemukan segelintir orang yang mengatakan sebaliknya hanya untuk menghargai imajinasimu. Tetapi dalam dunia Dalton, hal itu sangat mungkin terjadi. Bahkan seseorang dapat terbunuh oleh sehelai kertas, atau terbakar oleh sorot cahaya lampu. Ada begitu banyak hal tak terduga dapat terjadi dalam hidup. Kau tidak pernah tahu akan terbangun di tempat macam apa.
Rasanya baru beberapa jam yang lalu ia memenuhi paru-parunya dengan oksigen, berlari menghindari serangan Harold dalam permainan Air Softgun. Ia bahkan tak mengerti mengapa ia harus mendorong dirinya sedemikian rupa hanya demi menghindari tembakan yang tak akan melukainya. Itu hanya sebuah permainan, namun ia berlari terlalu jauh dan tanpa arah. Sampai kemudian ia menyadari Harold telah berhenti mengejarnya. Tak seorang pun mengejar dirinya kecuali bayangannya sendiri.
Sebelum ia sempat mempelajari rute kembali, orang-orang itu datang. Mereka mengenakan pakaian yang sangat tidak sesuai untuk musim panas. Berbahan sintetis dengan kerah menutup leher berwarna hitam dan huruf U pada dada. Hal pertama yang terpikirkan oleh Dalton saat itu adalah mereka datang dari sebuah laboratorium di puncak bukit. Ia pernah mendengar desas-desus mengenai sebuah proyek rahasia yang sedang dijalankan oleh seorang profesor gila bernama Kurt Cunningham. Beberapa remaja menghilang secara misterius, sebagian yang berhasil ditemukan mengalami amnesia akut. Tiga hari yang lalu Benjamin Saunders, salah seorang remaja yang kembali dari ‘perjalanan’ itu, berhalusinasi mengenai implant di pergelangan tangan yang harus segera dikeluarkan jika tak ingin terlacak. Tak seorang pun mempercayai kisahnya sampai akhirnya mereka menemukan tubuh tak bernyawa remaja itu dengan nadi yang tersayat.
Teror itu semakin nyata namun para agen itu bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. Satu-satunya petunjuk adalah sebuah bukit, informasi sangat kecil yang berhasil didapatkan melalui hipnotis. Selebihnya tak satu pun kepingan memori yang dapat membantu. Seolah-olah para penculik telah memodifikasi pikiran para remaja itu. Para agen terbaik mencoba segala peluang yang pada akhirnya hanya berujung di sebuah gudang terlantar tak berpenghuni di atas bukit. Tidak ada tanda-tanda aktivitas pernah berlangsung di tempat itu. Berbagai spekulasi mulai muncul dari sudut pandang supranatural, metafisika bahkan politis. Beberapa berpikir ini sebagai pengalihan dari isu gratifikasi yang dilakukan oleh Senator Waterson. Sebagian lagi mulai menghubungkannya dengan invasi alien, yang ternyata menarik lebih banyak peminat untuk mulai menyelidiki koordinat tempat mendaratnya UFO. Dengan cepat teleskop sensor gelombang elektromagnetik terlihat di beberapa titik strategis.
Walaupun orang-orang itu terlihat tidak berbahaya, namun intuisi Dalton mengirimkan sinyal peringatan untuk menjaga jarak. Seandainya mereka tidak memblokade rute yang dilaluinya, tindakan yang akan diambil olehnya cukup jelas. Mendadak saliva-nya mengering dan entah bagaimana ia menyerah pada protokol salah seorang dari mereka untuk menutup mata. Ia merasakan tubuhnya seperti terbakar oleh sesuatu, namun sangat ringan seolah-olah berada pada titik gravitasi nol. Suara-suara mulai terdistorsi dan saat ia pikir gelombang ultrasonik akan menghancurkan gendang telinganya saat itu juga, ia segera menyadari bahwa semua itu tak terjadi. Mereka menembaknya dengan sesuatu menyerupai laser, hanya sepersekian detik sebelum teleportasi itu. Apapun yang sedang mengalir dalam pembuluh darahnya saat ini, pasti telah dipersiapkan untuk mencegah tubuhnya hancur berkeping-keping akibat manuver berkecepatan cahaya ini. Guncangan itu memberikan efek mual yang cukup hebat pada dirinya. Dalton membuka mata hanya setelah getaran itu berhenti, menemukan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya. Ia telah berpindah tempat hanya dalam hitungan detik dengan proses yang cukup menyakitkan. Semua itu keren, dan ia tak akan menolak untuk melakukannya lagi. Jika ia mengetahui caranya, pasti akan membuat segalanya lebih mudah.
Ia baru sadar kalau ia belum mengajukan pertanyaan apapun sejak kedatangan orang-orang itu. Dan saat beberapa kalimat sudah menggantung di sudut bibirnya, pintu titanium di hadapannya terbuka seperti elevator. Seorang pria bergerak keluar, meluncur dari atas kursi rodanya sambil berseru, “Selamat datang di Ultramod, Dalton Pearce! Atau kau lebih suka aku memanggilmu Panther?”
Dalton tak bisa mengalihkan perhatiannya dari kedua kaki bionik pria itu, tidak peduli apakah Profesor Cunningham akan menganggapnya sebagai cara perkenalan yang tidak sopan. Namun terlepas dari apa yang terlihat di bawah sana, Dalton yakin pria ini memiliki IQ setidaknya mencapai 170 mengingat laboratorium itu dibangun olehnya, membawahi para jenius yang kini sedang bergerak sangat cepat di sekelilingnya seolah-olah diburu oleh sesuatu. Atau mungkin memang seperti inilah cara para jenius bekerja, selalu mencoba mengungguli waktu, sebagaimana dirinya yang tak berhenti berlari. Sejenak ia merasa seperti sedang berada di markas NASA.
“Bagaimana kau membuatnya tak terlihat?” Dalton mengajukan pertanyaan pertamanya.
Sambil meminta Dalton mengikuti pergerakannya, Cunningham menjawab, “Tidak terlalu berbeda dengan cara kami memindahkanmu. Aku yakin kau ingin tahu alasan kami merekrutmu.”
“Tidak lebih ingin tahu dari alasan kau memodifikasi pikiran anak-anak itu,” jawab Dalton.
Jawaban itu tidak mempengaruhi Cunningham seolah-olah ia sudah memperhitungkan kemungkinannya. Ia hanya tertawa ringan dan mulai menjelaskan begitu mereka telah tiba di ruangan lain dengan satu objek yang segera menarik perhatian siapapun, “Mereka tidak memenuhi kualifikasi dan percayalah, kami terpaksa melakukan itu demi kebaikan mereka sendiri. Sekarang kita sedang berada satu langkah lebih dekat dengan masa depan, Panther. Kau lihat silinder raksasa ini? Ia akan membawamu menuju masa depan. Tidak hanya masa depan, tetapi juga masa lalu. Dengan penemuan ini, rentang antar dimensi waktu tidak lebih tebal dari membran.”
Dalton tak dapat menyamarkan tawanya. Semua ini sejak dulu selalu menjadi mimpi terbesar para ilmuwan. Mereka tidak pernah berhenti mencoba mengintervensi waktu. Ia berkata, “Dan aku hanya perlu berlari dengan sangat cepat di dalamnya, bukan? Formula pelebaran waktu inisiasi Enstein, gerakan sangat cepat dapat memperlambat waktu. Dan selama aku dapat mengungguli kecepatan silinder ini, maka aku akan menjadi lebih muda dua, tiga atau bahkan sepuluh tahun. Tapi ini tidak akan berhasil karena tubuh manusia tak dapat melewati tekanan sebesar itu.”
“Jika kau mengendarai kendaraan supercepat hal itu sangat mungkin terjadi. Tetapi silinder ini dirancang memiliki massa yang sangat besar dan padat, sehingga jika kau dapat mengimbangi kecepatan rotasinya, maka gelombang gravitasi akan tercipta yang mengacaukan struktur dimensi ruang dan waktu,” Cunningham mendorong joystick di tangannya dan pintu silinder terbuka. Walaupun mesin raksasa itu adalah hal paling menarik yang akan dituliskan oleh Dalton dalam jurnal perjalanannya suatu hari nanti, namun ia memiliki alasan untuk berpikir bahwa prosedur ini tidak aman. Rasio tingkat keberhasilan dan kegagalan adalah 50:50. Atau lebih buruk lagi mungkin tidak sampai setengahnya, hanya 20:80.
“Jadi untuk inikah mereka menghilang? Tubuh mereka mungkin telah hancur dan…”
“Kuhargai rasa ingin tahumu, Panther, tapi kau menganalisa ini terlalu jauh. Mereka tidak mati, hanya terjebak di sana. Di dimensi waktu yang berbeda. Seandainya mereka mengikuti prosedurnya dengan benar, maka semua itu tidak akan terjadi. Jika kau melakukan lompatan waktu beberapa dekade ke depan maupun ke belakang, aturannya cukup jelas. Jangan pernah melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung dengan dirimu sendiri. Para moron itu melakukan kesalahan fatal. Mereka memang pelari yang bisa diandalkan, tetapi di sisi lain juga sangat ceroboh.”
Semua ini sungguh berada di luar dugaannya. Jadi mega silinder ini memang berhasil melakukan fungsinya. Benar-benar sulit dipercaya! Kini ia memahami alasan kerahasiaan tingkat tinggi Ultramod. Ia juga yakin setelah ini mereka akan menghapus memorinya sehingga semuanya hanya akan terlihat seperti mimpi. Ia mengajukan pertanyaan sederhana pada Cunningham, “Bagaimana jika ini juga tidak berhasil padaku?”
“Kau memang seorang pelari yang sangat cepat, namun kau bukan satu-satunya. Apa yang membedakanmu dari mereka semua? Kau memiliki kewaspadaan tingkat tinggi yang cukup bisa menyelamatkanmu dari ‘benturan’. Kau memperkecil peluang kegagalan dalam prosedur ini yang menempatkanmu sebagai kandidat terbaik. Lagipula enam tahun adalah waktu yang cukup untuk proses seleksi,” Cunningham memberi isyarat pada seorang pria berambut merah yang mengenakan sesuatu menyerupai kacamata selam di atas hidungnya.
“Tunggu dulu!” Dalton mencoba keluar dari silinder itu, namun ternyata begitu kedua kakinya menyentuh permukaan, alat itu mengunci tangan dan kakinya secara otomatis. Sebenarnya ia tak mempercayai janji Cunningham bahwa segalanya akan baik-baik saja. Ia bersedia melakukannya karena paham sepenuhnya situasi ini tidak memberikan banyak pilihan padanya. Lagipula ia ingin tahu bagaimana rasanya menjelajah waktu seperti dalam film Back to the Future. Ia hanya ingin mengajukan pertanyaan terakhir sebelum program diaktifkan, “Kau mengatakan enam tahun yang lalu. Kau menyeleksi diriku selama enam tahun?”
“Pernahkah muncul dalam benakmu alasan bahaya selalu menghampirimu bukan saudara laki-lakimu sekalipun kalian berada di teritorial yang sama? Kau telah dipersiapkan untuk menjadi penjelajah waktu. Seleksi itu memiliki andil besar membentuk kewaspadaan dalam dirimu. Kau selalu dapat mengenali alarm tanda bahaya yang berada di sekelilingmu. Semacam intuisi,” jawab Cunningham sambil mulai memasukkan algoritma.
Dalton sudah akan mengajukan pertanyaan lainnya mengenai seberapa jauh keluarganya mengetahui proses seleksi ini, namun terlambat. Pintu itu telah tertutup sebelum ia sempat memutuskan apakah benar-benar ingin terlibat dalam perjalanan waktu ini. Empat digit angka muncul melalui sebuah monitor kuantum sepuluh meter darinya : 1997. Ia segera dapat menyimpulkan itu mengacu pada tahun. Baiklah, lalu sekarang apa lagi? Ia akan kembali ke masa lampau? Jika Cunningham membawanya ke masa tiga dekade sebelum ini, maka itu hanya berarti satu hal. Ia harus memperbaiki sebuah atau mungkin beberapa kesalahan. Bukankah itu alasan orang selalu berandai-andai mereka bisa memutar ulang waktu? Tetapi kesalahan siapa?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu muncul melalui gelombang suara milik Cunningham, “Aku akan mengembalikanmu pada masa tiga puluh tahun yang lalu. Kau akan berada di rel kereta api bawah tanah untuk menemui Nicholas Boulden. Tugasmu sederhana, mengambil paket darinya lalu membawanya pergi menuju Henshville Oceanside, lima puluh kilometer dari tempat itu dalam waktu satu jam. Setelah tiba di sana, kau harus melemparkan paket itu sejauh mungkin. Tak perlu menunggu apa yang akan terjadi. Kereta itu akan berhenti di Sullivan’s Tunnel tepat pukul satu siang, dan itu artinya kau harus berada minimal lima menit sebelum kedatangannya. Nicholas Boulden tentu akan mencarimu, maka sedapat mungkin kau harus menghindari pertemuan dengannya. Yang harus kau lakukan selanjutnya adalah menemui Alpha sebelum Nicholas dan membunuhnya. Setelah semua misi itu selesai, berlarilah sejauh dua kilometer menuju Dumperstone. Kau akan melihat sebuah tangga menuju ruang bawah tanah dan portal dimensi waktu akan terbuka untukmu jika kau memasukkan sandi yang tepat pada hologram di tanganmu. Kau akan mendapatkannya dalam lima detik.”
Dalton mencoba menjejalkan semua informasi itu ke benaknya sekaligus. Nicholas Boulden, paket, Henshville Oceanside, Sullivan’s Tunnel, Alpha dan terakhir Dumperstone. Tidak, yang terakhir adalah menghapal sandi itu. Cunningham tak akan mengulangi intruksinya sebagaimana Dalton tak diberi kesempatan untuk bertanya alasan ia harus melakukan itu semua. Penjelasan paling masuk akal sejauh ini adalah ia harus mencegah bom itu meledak di dalam kereta bawah tanah yang sedang menuju Sullivan’s Tunnel. Lima puluh kilometer dalam satu jam? Ia mungkin baru saja dipaksa menerima sebuah misi mustahil. Dan yang lebih mengganggunya adalah saat matanya mengenali implant yang ditanamkan dalam pergelangan tangannya. Sekilas ia teringat pada Benjamin, bagaimana bahkan dirinya saat itu tak mempercayai kisahnya dan menganggap pemuda itu gila. Saat semua orang mengatakan kau gila, seberapa besar kau mempercayai kewarasan dirimu sendiri?
Ia mendengar suara bergemuruh dan monitor di hadapannya menampilkan situasi yang mungkin sedang berlangsung tepat di belakangnya. Entah darimana datangnya monster-monster mengerikan yang kini sedang mengejarnya itu. Setiap detik adalah upaya mereka untuk memperpendek interval, memaksa Dalton memaksimalkan otot-otot kaki dan tangannya demi menghindari serangan mereka. Jangan menoleh ke belakang. Selama ini teori itu berhasil menyelamatkannya dari pengejaran. Setiap langkah lebar dan tekanan yang ia lakukan pada permukaan silinder, maka diameternya akan bertambah. Ini tidak nyata, ia mencoba menanamkan sugesti itu ke dalam benaknya. Animagus itu hanya bagian dari simulasi agar ia menambah akselerasinya setiap menit. Bukankah ia harus melampaui kecepatan rotasi silinder ini?
“Ah!!!” ia menjerit oleh rasa terbakar pada punggungnya. Salah satu animagus tampaknya baru saja menyemburkan api ke arahnya, “Sial! Aku benar-benar terluka!”
Luka-luka selanjutnya terus membuat Dalton terjaga, meningkatkan konsentrasi dan kecepatannya sebelum meteor-meteor itu akan mengambil alih untuk menghanguskan dirinya. Jika ia berhasil melalui ini semua dan kembali ke laboratorium Ultramod, ia akan mencekik Cunningham. Ia merasa tubuhnya akan hancur oleh rasa letih luar biasa, namun ternyata bukan itu yang terjadi. Segalanya menjadi semakin mudah saat ia berlari, begitu ringan sehingga ia berpikir telah menyatu dengan angin. Mungkin wujudnya bertransformasi menjadi metana, atau bahkan mungkin ektoplasma. Baiklah, Dalton, pikirnya, ini jauh lebih sederhana. Mereka hanya memberimu steroid. Inilah jawaban mengapa setiap akselerasi yang ia lakukan seperti mengisi energinya sampai pada persentase empat puluh persen. Ia sedang berlevitasi, setidaknya itulah yang ia pikirkan saat gravitasi kembali pada titik nol. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, pikirnya terhibur. Semakin jauh ia berlari, luka-luka itu semakin samar sebelum kemudian benar-benar menghilang. Angka di sana bergerak menuju 2026, 2025 dan seterusnya.
Dalton keluar dari portal dengan cara yang jauh lebih buruk dari cara ia memasuki mega silinder. Seperti ada kekuatan luar biasa yang melempar tubuhnya, dan ia mencegah dirinya untuk tidak muntah sambil berusaha menyeimbangkan langkahnya melintasi kompartemen kereta. Ia harus segera menemukan Nicholas Boulden. Ia tak sempat bertanya ciri-ciri pria seperti apa yang sedang dicarinya. Mereka semua tampaknya tidak menyaksikan kemunculan dirinya secara tiba-tiba, atau mungkin Ultramod telah mengantisipasi itu. Sambil terus bergerak mengawasi sekelilingnya, Dalton mencoba untuk melakukan beberapa observasi kecil. Jika seorang teroris membawa paket berisi bom bersamanya, maka sudah pasti ia akan menghindari area-area yang dapat memicu detonator bekerja lebih cepat.
Seorang kondektur melintasinya, dan Dalton segera melancarkan strateginya, “Maaf, bisakah Anda memberitahu di mana saya dapat menemukan ruang yang lebih dingin? Saya mengidap Hyperhidrosis dan ini benar-benar membuat saya tidak nyaman.”
Kondektur itu menggiring Dalton ke sebuah gerbong berpendingin ruangan lalu berkata, “Kau harus membayar ekstra untuk ini.”
Dalton merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang, satu-satunya yang ia miliki dan menyodorkannya pada kondektur. Pria berwajah bundar di hadapannya menerima uang itu, menelitinya sejenak sebelum kemudian keramahan di wajahnya menyingkir saat ia berkata, “Apakah ini semacam lelucon? Kau mencoba memberiku uang monopoli?”
“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Dalton dengan gugup, sambil mencoba mengamati penghuni gerbong khusus itu sebelum kondektur menyeretnya pergi, “Tidak jadi. Sepertinya saya mengambil dompet yang keliru. Sungguh, saya sama sekali tidak bermaksud mempermainkan Anda.”
Mungkin itu pembelaan diri terburuk yang pernah ia lakukan karena kini kedua mata kondektur itu mulai menatapnya curiga. Pria itu sudah akan mengatakan sesuatu sebelum kemudian terdengar suara dari salah satu penumpang di dalam sana, “Saya akan membayar untuknya.”
“Tapi, Sir, mungkin saja anak ini adalah seorang penyusup,” kondektur tampak keberatan.
Pria yang berbicara dengannya tadi menyodorkan selembar kertas asing sambil berkata, “Saya yang akan bertanggung jawab, Willard.”
Kondektur itu pergi meninggalkan Dalton bersama dua orang pria yang sepertinya enggan untuk saling menyapa satu sama lain. Betapa canggungnya saat hanya ada kau bersama dengan seseorang yang tak menaruh perhatian atas kehadiranmu. Pria yang menyelamatkannya dari rasa malu itu merentangkan kembali korannya. Sementara pria lain yang duduk sekitar dua meter darinya melakukan hal yang sama. Dalton mencoba membuka obrolan dengan bertanya, “Mengapa Anda menolongku, Sir? Anda bahkan tak mengenalku.”
“Apakah kau harus mengetahui nama seseorang yang akan tertabrak sebelum menyelamatkannya?” pria bertopi baseball itu berkata tanpa mengalihkan perhatiannnya dari surat kabar di tangannya.
Betapa berbeda pria ini beberapa menit yang lalu, pikir Dalton. Ia segera menyadari kini waktu yang dimilikinya mungkin hanya lima puluh lima menit lagi. Tidak ada waktu untuk basa-basi. Matanya menelusuri kedua pria itu, mencoba menerka siapa di antara mereka yang sedang membawa paket itu. Ia tak tahu harus memulai dari mana sehingga pada akhirnya hanya berkata, “Saya sedang menunggu paket, hadiah Natal yang dikirimkan oleh paman saya bermil-mil jauhnya dari sini.”
Umpannya berhasil menarik perhatian kedua pria tersebut. Pria di seberangnya menanggapi dengan dingin, “Ini bulan Juli. Bukankah terlalu dini untuk sebuah hadiah Natal?”
Dalton merasa kering. Kini empat mata sedang menatap tajam ke arahnya. Pria yang mengenakan jaket kulit bangkit dari duduknya sambil berkata pada rekannya, “Kita harus pergi, Kurt.”
“Tenanglah, Nick, ia tidak akan mengatakan apapun. Bukankah begitu, anak muda?”
Kurt? Nick? Apakah ia sedang berhadapan dengan Kurt Cunningham dan Nicholas Boulden? Dalton merasa jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan melampaui ketegangan yang terjadi selama perjalanan waktu itu. Ia mencoba untuk tetap bersikap seperti seorang pemuda bodoh yang tak tahu apa-apa. Ia hanya tertawa lalu menjawab, “Baiklah, saya tidak akan mengatakan kepada siapapun bahwa Anda mengenakan kostum musim panas yang salah.”
Bagaimana mungkin? Profesor Cunningham memintanya merampas paket itu dari Nicholas, sementara jelas sekali bahwa mereka memiliki misi yang sama. Di antara rasa takutnya, Dalton melihat headlines pada surat kabar yang diletakkan Cunningham. Dengan cepat otaknya menganalisa informasi tersebut. Dua orang pria ini bermaksud meledakkan kota sebagai aksi pemberontakan untuk mengkudeta pemimpin yang sedang berkuasa saat ini. Ia cukup yakin mereka memiliki rekan yang menyebar ke beberapa titik dengan tujuan sama. Waktu yang tersisa kini hanya empat puluh tujuh menit. Ia akan membuang lebih banyak waktu demi mengarang berbagai alasan yang semakin terdengar gila. Lagipula mereka sudah mencurigainya.
Nicholas menarik tubuh Dalton, membuka pintu gerbong dan sudah bersiap akan melemparkannya. Dalton merasakan angin menghantam wajahnya, memberikan rasa panas dan perih pada mata. Ia mencengkeram lengan Nicholas, mencoba sekuat tenaga untuk melawan daya tarik magnetis di belakangnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tangannya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Ia mengalami nausea selama beberapa detik. Nicholas menekan tubuh Dalton lebih rendah dengan kedua tangannya. Jaketnya berkibar tertiup angin dan tampaklah sesuatu di baliknya. Sebuah kotak berukuran sedang yang dilapisi kertas cokelat.
Dalton menertawakan Nicholas, mengejek upayanya yang masih gagal dalam menghabisi seorang pemuda bertubuh lebih kecil dari dirinya. Dengan penuh kemarahan, Nicholas menekan Dalton lebih rendah lagi sehingga pemuda itu dapat merasakan gesekan pada kulit pipinya. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Dalton bergerak mengambil paket itu dari balik jaket Nicholas, memberikan senyum terakhirnya pada wajah yang kini terlihat seperti seseorang yang baru saja menyadari telah ditipu mentah-mentah, lalu melepaskan dirinya. Membiarkan permukaan beton itu menghantam tubuhnya dan hampir meremukkan persendiannya. Nicholas tampak mempertimbangkan akan melompat keluar dari kereta yang sedang melaju, namun hal itu tak jadi dilakukannya.
Dalton menghitung mundur waktu yang kini hanya menyisakan empat puluh menit untuknya. Dua puluh menit yang terlalu lama dan untungnya tidak sia-sia. Ia berlari sangat kencang sambil sesekali menelusuri titik merah yang berkedip statis lima puluh kilometer jauhnya dari titik biru, koordinatnya sekarang. Begitu satu misi selesai, piranti navigasinya secara otomatis akan memberitahu destinasi selanjutnya. Ia hanya perlu berpacu dengan waktu. Waktu yang sangat kompetitif tanpa pernah membiarkan siapapun mengunggulinya. Bahkan setelah Dalton berhasil menyeberangi dimensinya, waktu tetap memiliki cara untuk membuatnya terlihat lamban. Keberuntungan, itulah yang benar-benar ia perlukan untuk mengimbangi kecepatan waktu.
Sementara ia berlari, sebuah pertanyaan muncul di benaknya. Bagaimana mungkin Cunningham dapat memperkirakan jaraknya dengan tepat? Ia bisa saja berhenti pada jarak tiga puluh kilometer dari Henshville Oceanside. Sebuah kebetulan? Walaupun itu terdengar mungkin, tetapi Dalton cukup yakin Cunningham tidak akan sependapat. Ia mencoba fokus pada tujuannya, yaitu melemparkan paket itu ke Henshville Oceanside.
Saat matanya mengamati titik merah itu, sesuatu menarik perhatiannya. Bukan apa yang menanti di hadapannya, melainkan nama lain yang tampaknya tak diperhitungkan Cunningham. Mackerbee’s Riverside. Jika perkiraannya tidak keliru, ia berada dua puluh kilometer jauhnya dari laut itu. Mengapa ia harus menempuh Henshville Oceanside jika ia bisa saja melemparkan paket itu ke Mackerbee’s Riverside kemudian menggunakan sisa waktunya untuk menemukan Alpha? Dalton tersenyum, menyadari bahwa rencana sangat matang pun memerlukan faktor keberuntungan. Ia akan membawa paket itu menuju Mackerbee’s Riverside.
Dalton hampir tergoda oleh daya tarik Mackerbee’s Riverside yang lautnya tampak seperti manik-manik keperakan dari kejauhan. Setelah melemparkan paket itu, ia berlari dengan optimisme yang lebih besar akan tiba di Sullivan’s Tunnel lebih cepat dari perkiraan. Setidaknya kini bom itu tidak lagi bersama dirinya. Titik statis itu kini menunjuk ke utara pada nama Sullivan’s Tunnel. Ia tertawa. Bahkan mesin itu pun berhasil dikelabuinya. Perjalanan menuju tempat itu tidak sesulit perjalanan-perjalanan sebelumnya. Kendati demikian Dalton tetap berpikir mengurangi kecepatannya bukanlah tindakan yang benar sementara ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
Ia tiba di Sullivan’s Tunnel dan melihat seorang pria mengenakan mantel cokelat dan topi beanie berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Tidak ada waktu untuk menerka-nerka, pikir Dalton dengan jantung yang kembali berdegup kencang. Sekarang atau tidak sama sekali. Ia memanggil setelah menyamarkan keraguan dalam suaranya, “Alpha…”
Pria itu menoleh, mencoba mengenali Dalton dari bawah topinya. Ternyata ia masih sangat muda, mungkin tidak lebih dari sembilan belas atau dua puluh tahun. Alpha menatapnya skeptis dan perhatian Dalton dengan segera tertuju pada ponsel di tangannya. Mungkinkah benda itu yang menjadi detonatornya? Setelah berada lebih dekat dengan Alpha, pertanyaan itu kembali muncul di benaknya. Jika ancaman bom itu telah berlalu, mengapa ia masih harus menghabisi nyawa pemuda ini? Ia tidak terlihat seperti orang jahat walaupun sedang membawa benda berbahaya bersamanya. Hanya karena Alpha bekerjasama dengan Nicholas dan Cunningham bukan berarti ia sama kejamnya. Bagaimana jika mereka memaksanya untuk terlibat? Otaknya menganalisa kemungkinan lainnya yang lebih logis. Alpha menerima profil si pencuri paket dan menyusun rencana untuk melenyapkan dirinya.
Kereta terlihat mendekat. Dalton tahu ia kembali membuang waktu untuk menyelesaikan satu misi terakhir. Nicholas dan Cunningham akan keluar untuk membunuhnya bersama-sama. Dengan cepat ia mengeluarkan revolver miliknya dan menembakannya tepat ke dada Alpha sebelum pemuda itu menyadari bahaya yang sedang bergerak menghampirinya. Ia terjatuh bersama dengan ponselnya membentur permukaan peron. Nicholas bergerak keluar dengan cepat, bukan untuk menyelamatkan Alpha, melainkan menggapai detonator itu. Dalton tak melihat Cunningham bersamanya.
Ia segera berbalik dan berlari menuju Dumperstone, hanya berjarak dua kilometer dari portal yang akan membawanya kembali ke dimensinya. Namun kemudian langkahnya terhenti. Tubuhnya bergetar oleh rasa takut. Bukan rasa takut biasa, melainkan sesuatu yang lebih mengerikan dari itu. Ini bukan rasa takut saat singa itu nyaris mencabik-cabik tubuhnya, bukan pula saat animagus itu nyaris melahap dirinya. Seluruh ototnya mendadak lemas saat Nicholas memanggil, “Darren…Darren Pearce! Aku tahu kau bisa mendengarku…bangunlah! Jangan mati! Tidak sekarang! Tidak sebelum kita menyelesaikan misi ini.”
Darren Pearce? Apakah hanya kebetulan menemukan nama ayahnya di tempat ini? Dalton menggeleng keras, mencoba mengabaikan dugaan mengerikan itu. Ia harus mencapai Dumperstone sebelum Nicholas menyadari kehadirannya. Tetapi di manakah Cunningham sekarang? Mengapa ia tak bersama dengan rekannya? Ada teka-teki yang hilang dari insiden ini. Ia akan memikirkannya setelah berhasil keluar melalui portal itu.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti oleh bunyi bip yang lembut dari piranti navigasi miliknya. Titik statis itu menghilang dan hologram mengenkripsi sandi miliknya sebelum kemudian lenyap. Bagaimana mungkin? Ia tidak kehabisan waktu. Mengapa ia tak dapat menemukan portal itu?
Jawabannya mungkin tak akan pernah diketahui oleh Dalton saat tubuhnya terurai menjadi partikel-partikel kebiruan sebagaimana hidrogen menjadi elemen dominan dari struktur biologis manusia. Dari ketiadaan menuju ketiadaan. Dan dari sebuah takdir yang menuntun Kurt Cunningham memperpendek waktu pengejaran melalui jalur laut Mackerbee’s Riverside demi merebut kembali paket yang telah dicuri dari mereka.
Komentar
Posting Komentar