CAIN ABEL
Entah mengapa deringan telepon lebih sering membahana di kondominium Cain saat malam hari. Mulai dari penjelasan persuasif para penjual produk pembersih ruangan, hingga remaja mabuk yang menanyakan di mana ia bisa mendapatkan perontok bulu yang aman untuk kulit sensitif. Tetapi kali ini, seseorang tampaknya tidak ingin menyerah mencoba berbicara dengannya. Dua puluh kali deringan tanpa henti sudah lebih dari cukup. Dengan malas, masih dalam balutan piyama sutera miliknya, Cain menjawab panggilan tersebut.
“Kau membuatku gila!”
Suara itu bahkan terdengar lebih tajam dari sindiran rasis Trump terhadap kelompok etnis minoritas. Cain mencoba bersabar menghadapi kemarahan Paige. Tidak lama lagi wanita itu pasti akan mempermasalahkan alasan Cain mematikan ponselnya selama dua puluh tujuh jam terakhir. Sementara suara itu mulai terdengar seperti dengungan sekelompok lebah yang marah di telinganya, ia memikirkan cara lain untuk membuat Paige mengerti bahwa hubungan mereka telah berakhir sejak sebulan yang lalu. Anehnya, tidak ada yang berubah dalam agenda wanita itu. Cain masih harus selalu menghabiskan enam jam waktu berkualitas dengannya.
“Kau histeris,” jawab Cain, menjaga mulutnya dari mengucapkan pertanyaan, ‘sudahkah kau meminum valium itu?’
Hening sejenak. Sesuatu yang cukup dibenci Cain adalah saat seseorang bersikeras mengatur pertemuan dengannya namun akhirnya mereka hanya terlibat dalam obrolan tanpa arah. Ia tak berdiri kedinginan dalam balutan piyama dengan gagang telepon di tangannya pada pukul sebelas malam hanya untuk mendengar sekeranjang omong kosong dari seorang ratu drama. Lebih buruk lagi, menunggu dalam kekosongan selama tidak kurang dari satu menit.
“Kau masih bersamaku?” akhirnya Cain bertanya. Mudah saja baginya untuk memutuskan sambungan, tetapi ia tak siap menerima konsekuensi kerapuhan Paige. Tidak terhitung sudah berapa kali wanita itu melakukan hal-hal gila hanya karena masalah sepele.
“Ya, tetapi mungkin tidak untuk waktu yang lama,” jawab Paige lirih.
Terlihat jelas upayanya untuk menarik simpati Cain. Cara yang hampir selalu berhasil melunakkan kekerasan hati pria manapun. Sialnya, ini adalah senjata yang sangat digemari wanita. Mereka begitu piawai dalam memanipulasi emosi pria.
“Oh, ayolah. Kau baik-baik saja,” Cain mengusap tengkuknya sambil memikirkan alasan untuk segera mengakhiri pembicaraan yang berjalan sangat lamban ini, “Yang kau perlukan hanyalah tidur dan bermimpi. Bersikap adillah pada tubuhmu.”
“Aku hamil.”
Rasa kantuk yang menyergap Cain seketika lenyap. Apakah ia tidak salah dengar? Paige hamil? Bagaimana mungkin itu terjadi? Mereka telah membicarakan hal ini. Kecuali wanita itu cukup gila untuk dengan sengaja berhenti meminum pil bersama sebuah pemikiran konservatif bahwa kehadiran bayi akan menjadikan mereka pasangan tak terpisahkan.
“Cain,” panggil Paige.
Mendadak suara itu terdengar jauh lebih memuakkan di telinga Cain. Tanpa berusaha menyembunyikan rasa terganggu dalam intonasinya, ia menjawab, “Ya, aku mendengarkan.”
“Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu?”
Kau yakin aku adalah ayahnya?
Itu satu-satunya pertanyaan yang ingin diajukan Cain. Tetapi tentu saja ia tak siap harus dibangunkan keesokan paginya karena mantan kekasih yang mencoba bunuh diri.
“Entahlah,” Cain mengusap wajahnya yang belum bercukur, “Bagaimana jika kita membicarakannya lagi besok?”
Aku tak akan pernah siap menghadapi hari esok, pikir Cain. Bagaimana jika Paige berhasil menjebaknya dalam sebuah pernikahan? Atau setidaknya mengurung dirinya selama sembilan bulan penuh hanya untuk mengamati perubahan bentuk tubuh wanita itu dan memanjakannya dengan berbagai perlengkapan bayi, memainkan peran sebagai calon ayah yang bahagia?
“Tidak ada hari esok,” histeria itu kembali muncul ke permukaan, “Sudah kubilang waktuku tak banyak.”
“Sebenarnya apa yang kauinginkan?” Cain mulai kehilangan kesabaran.
Hening lagi. Ya, geramnya, akan lebih baik jika Paige yang memutuskan sambungan. Sayangnya itu tidak terjadi karena beberapa detik kemudian Paige berkata, “Ada yang salah dengan bayi ini. Aku bisa merasakannya. Lalu aku memeriksakannya. Kau tahu? Mereka mengoleskan gel yang sangat lembut dan dingin dengan gerakan melingkar. Belum pernah kurasakan kedamaian seperti itu seumur hidupku. Sensasional, ya, itulah satu-satunya kata yang dapat mewakili perasaanku saat itu. Seandainya kau ada di sana bersamaku, menyaksikan bagaimana ritme jantung pada monitor itu berdetak teratur, jauh lebih indah dari melodi paling jenius sekalipun.”
Astaga! Cain hanya ingin membanting telepon itu, mencabut kabelnya kemudian melompat ke atas tempat tidurnya yang hangat. Yang benar saja! Kau ingin aku berdiri di sini mendengarkan cara mereka melakukan semua itu?
“Lalu apa masalahnya?” tanyanya tak sabar.
Terdengar tarikan napas yang berat. Cain dapat merasakan kesedihan wanita itu. Ya, Paige memang jarang terlihat gembira, tetapi kali ini tampaknya ia telah benar-benar lupa cara untuk bahagia. Seolah dalam satu malam dilema wanita di seluruh dunia dibebankan ke pundaknya.
“Mereka hanya memberiku satu pilihan. Membiarkan bayi itu lahir dengan resiko kematian padaku, atau menyetujui prosedur aborsi.”
Untuk pertama kali dalam beberapa menit percakapan mereka malam itu, Cain merasakan sesuatu menyentuh sisi sentimentil dari dirinya. Kematian? Ia mendengar kata itu hampir setiap saat, tetapi kali ini sensasinya terasa sangat berbeda. Mana yang lebih diharapkan Paige keluar dari mulutnya? Keinginan mempertahankan nyawa wanita itu atau mengucapkan kata-kata menghibur bahwa mereka akan menemukan solusi untuk menyelamatkan dua nyawa sekaligus?
“Bagaimana itu terjadi? Maksudku, apa yang mereka katakan tentang bayinya?”
“Kau ingat ledakan reaktor nuklir delapan bulan yang lalu? Aku berhasil selamat, tetapi itu adalah pertaruhan yang sangat besar. Mereka menemukan terlalu banyak zat radioaktif dalam tubuhku. Jika bayi ini dilahirkan, kemungkinan terburuknya adalah…”
“Ya, aku tahu,” potong Cain, tak ingin menambah kesedihan Paige. Sebenarnya wanita itu hanya sedang memperumit pilihan yang sudah jelas. Mengapa harus mempertaruhkan nyawa demi bayi yang hanya memiliki peluang kurang dari lima puluh persen terlahir sempurna? Walaupun Cain masih tak yakin DNA bayi itu akan cocok dengannya, tetapi rasa kemanusiaan adalah empati global yang nyaris tak pernah sinkron dengan logika. Jika berhubungan dengan emosi, tak ada teori ilmiah yang dapat menjabarkan secara spesifik alasan seseorang merasa harus menyelamatkan nyawa orang asing. Ia pernah membaca artikel mengenai seorang milyuner yang mewariskan hampir seluruh kekayaannya kepada seorang tunawisma.
“Berjanjilah padaku kau akan melindungi bayi ini apapun taruhannya,” suara Paige seolah terdengar dari tempat yang sangat jauh.
“Paige, kau tidak…”
“Selamat malam, Cain.”
Sambungan diakhiri. Meninggalkan Cain dalam berbagai pikiran yang berkecamuk. Rasa nyeri pada kepalanya datang lagi, kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Lalu, saat tangannya dengan terburu-buru berusaha menjangkau botol aspirin dari dalam lemari, tanpa sengaja ia menumpahkan isinya ke westafel.
Sial! Ia mengumpat bersama pandangan yang semakin berkabut.
Mengumpulkan kembali pil-pil yang dalam pandangan Cain meningkat tiga kali lipat jumlahnya, seketika gerakannya terhenti. Ia menegakkan tubuh, berpikir sesuatu yang berkelebat sepersekian detik lalu hanyalah ilusi optik dari refleksi dirinya. Cermin di hadapannya menampakkan seraut wajah tampan Kaukasian yang belum bercukur. Kulitnya memang terlihat agak pucat tetapi ia yakin bukan karena Actinic Prurigo, melainkan pola hidup yang memburuk. Selama beberapa bulan terakhir, ia merasakan penurunan cukup signifikan pada staminanya. Seperti rasa letih yang tak kunjung hilang walaupun ia telah menghabiskan tujuh belas jam hanya untuk beristirahat.
Tidak ada yang terjadi. Tidak ada wajah menyeramkan yang ia pikir telah melihatnya melalui cermin di hadapannya beberapa detik lalu.
©©©©©©©©©©©©©©©©
Dari tempat ia berdiri, hanya berjarak sekitar dua meter dari jendela dengan tirai yang hanya menyisakan sedikit celah, Cain dapat mengenali suara lembut dari roda mekanis yang bergesekan dengan permukaan linoleum. Seorang anak laki-laki berwajah sangat pucat dengan garis-garis menonjol kebiruan pada kepala botaknya meluncur melintasinya. Bahkan setelah hampir selama delapan tahun ia menyaksikan mobilitas Abel, Cain masih merasa aneh. Ia harus mulai terbiasa tidak memberikan tatapan iba pada lengan yang tidak lebih besar dari pergelangan tangan remaja berbobot normal, kulit kusam dan ujung kuku tergerus yang menghitam serta kedua mata cekung menyerupai para korban Holocaust tersebut.
“Mengapa Dad mematikan televisinya?” Abel bertanya.
“Karena aku tak ingin kau mendengar lebih banyak omong kosong lagi,” jawab Cain dingin. Selama beberapa detik keheningan yang mengisi celah di antara mereka, ia merasa sedang melihat Paige berlari menghampirinya dengan pertanyaan yang sama. Ia berharap dapat mengumpulkan partikel-partikel memori yang berserakan itu dan melemparkannya ke perapian, tetapi seperti sebuah kutukan saat Cain justeru merasa harus terjebak bersama mereka selamanya.
“Mereka bukan pembohong,” Abel berhasil mendapatkan perhatian Cain sepenuhnya, “Aku bahkan tak pernah tahu apa yang terjadi di luar sana.“
“Tidak ada apapun di luar sana,” Cain bergerak menghampiri Abel, berjongkok dan meletakkan kedua tangannya pada pipi hangat anak laki-laki itu, “Percayalah, saat kau keluar dari tempat ini, kau akan berharap untuk kembali.”
Abel membalas tatapan Cain melalui bola mata cokelat keburaman miliknya. Saat ia pikir kesepian itu hanya menghampiri orang-orang seperti dirinya, ternyata wajah tampan di hadapannya justeru terlihat telah membawa beban itu selama bertahun-tahun. Bagaimana ia harus menghadapi dunia luar yang luas sementara ia sendiri masih sering merasa ketakutan berada di dalam rumahnya sendiri? Sebuah tempat teraman dan ternyaman yang selalu dijanjikan Dad untuknya.
Tetapi intuisinya mengatakan kalau itu bukanlah satu-satunya alasan Dad harus mengisolasi dirinya. Semalam ia menghabiskan hampir satu jam lamanya hanya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa rambut-rambut di kepalanya akan tumbuh, gusinya akan cukup kokoh menopang gigi dan warna buram pada matanya akan berubah secerah milik pria itu. Kemudian ia menyadari bagaimana kehadirannya menjadi sebuah kesalahan tak termaafkan yang menggerus kebebasan dan optimisme Dad. Ia tidak tahan untuk bertanya, “Apakah karena aku aneh?”
Entah bagaimana pertanyaan itu dengan cepat mengubah cara Dad menatapnya. Pria itu bergerak mundur, seperti tersadar bahwa ia baru saja menyentuh virus berbahaya dan harus membersihkan diri secepatnya. Samar-samar Abel mendengar suara keran yang dinyalakan dan pintu toilet itu terkunci lebih lama dari biasanya.
©©©©©©©©©©©©©©©©
Dalam dunia sempit Abel, kehidupannya hanya memiliki satu waktu. Saat mentari pagi seharusnya memberi kehangatan pada tubuh dan jiwanya, maka hal terbaik yang bisa dilakukan olehnya hanyalah membangun sugesti melalui layar plasma ataupun foto-foto polaroid bagaimana cahaya kuning keemasan itu menyentuh kulitnya. Melihat tanpa dapat merasakan sensasinya. Dan tujuh hari bergerak sama lambannya dengan tujuh minggu.
Tetapi kali ini ada sesuatu yang sungguh berbeda. Selain dari Dad yang telah bercukur dan memperbaiki penampilannya, pria itu juga berkata bahwa mereka akan mengunjungi sebuah tempat. Abel tak terlalu peduli tempat apa yang dimaksud Dad selama ia mendapatkan kesempatan menghirup udara kebebasan. Ia hanya percaya satu hal, yakni pria itu tak akan pernah meninggalkannya. Walaupun ia sedikit berharap akan dapat merasakan hantaman ombak laut pada tungkai kecilnya.
Ia segera tahu kalau pantai bukanlah tujuan perjalanan mereka beberapa menit sebelum Dad menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan menyematkan topi berwarna senada. Gerakannya begitu cepat dan sedikit kasar. Setelah menutup pintu mobil, Cain berkata, “Aku hanya ingin kau tahu bahwa kupertaruhkan segalanya untuk membuatmu dapat diterima. Ada sebuah tempat khusus untuk anak-anak sepertimu.”
Abel tak percaya ia baru saja mendengar penyesalan yang sangat jelas dari ucapan maupun cara Dad menatapnya. Seolah-olah jika diberi kesempatan memutar ulang waktu, pria itu lebih memilih Abel tak pernah dilahirkan. Dengan perasaan perih, ia hanya bisa menatap punggung Dad yang membelakanginya, yang baru beberapa menit lalu ia pikir telah melihat sayap malaikat tumbuh di antaranya.
Mom di surga, seandainya kau tahu betapa aku sangat merindukanmu.
Mobil mereka berhenti setelah menempuh perjalanan lima puluh kilometer jauhnya. Saat Abel pikir Dad bermaksud mengisi bensin dan membeli beberapa kudapan, ternyata pria itu tidak berhenti di kedua tempat itu, melainkan di sebuah tempat yang sangat mudah membuat anak seusianya ketakutan. Tempat itu sangat sunyi di mana satu-satunya bangunan yang berdiri terletak di sebuah bukit. Cain membuka pintu mobilnya, dan dua orang pria berseragam aneh menyambut kedatangan mereka. Kostum mereka menyerupai pakaian selam dengan sarung tangan lateks.
Wajah kedua orang pria itu bukan hanya mirip, tetapi identik. Demikian pula dengan tinggi badan mereka. Salah seorang dari mereka merenggut Abel dengan kasar. Cain mencoba mengabaikan pandangan memohon Abel dan suaranya yang semakin jauh meninggalkan mereka begitu pintu menyerupai elevator raksasa di gedung itu terbuka.
Tiba-tiba rasa nyeri di kepalanya kembali menyerang tanpa peringatan. Seraut wajah berkelebat dalam pandangan Cain. Wajah yang sama saat ia merasa telah melihatnya melalui refleksi cermin delapan tahun silam.
Tetapi kini wajah itu terlihat sangat nyata. Melangkah tertatih menghampiri mereka, bahkan Cain tak sempat melihat arah kedatangannya. Seolah-olah pria itu dijatuhkan begitu saja dari langit.
“Selamat datang kembali, C41N. Apakah kau sudah lelah berlari?” sapa pria itu dengan senyum jenaka. Bukan cara kemunculannya yang seketika membungkam Cain. Bukan pula apa yang tampak menyembul di balik kain penutup mata kirinya, melainkan bagaimana Cain merasa sedang berhadapan dengan refleksi dirinya dalam versi yang sedikit berbeda.
“Merpati dapat pergi sejauh mungkin, tetapi ia tetap akan kembali,” pria berkostum penyelam itu berkata sambil menatap sekilas wajah Cain yang basah oleh keringat. Tampak lebih pucat dan sakit. Ia tak suka itu. Mereka tak suka produk yang tak sempurna. Hanya ada satu tempat untuk mengisolasi klon-klon yang rusak. Eugeneon membutuhkan pendonor yang memenuhi kualifikasi demi menyelamatkan kepunahan populasi manusia. Mereka akan menghasilkan keturunan-keturunan terbaik, tetapi tidak berhak mengadaptasi hak-hak istimewa manusia.
Kini rasa nyeri pada kepala Cain membawa pesan-pesan khusus seperti film dokumenter yang diputar dengan sangat cepat. Kepingan enigma itu melayang semakin rendah sebelum kemudian secara serempak membentuk satu pola sempurna. Kini ia ingat di mana melihat pria bermata satu itu untuk pertama kalinya. Di bawah sorot lampu fluorescent laboratorium yang menyorot tubuh telanjang mereka, bagaimana Cain seolah dapat merasakan sensasi dingin itu lagi saat tubuhnya bergelung seperti bayi yang mencoba menemukan kehangatan dalam uterus. Tentu saja saat itu Travis O’Brien jauh lebih sehat dan bugar. Semua tampak benar sebelum kemudian sebuah kecelakaan meledakkan ingatan itu menjadi serpihan-serpihan kecil yang terserak. Dan tempat ini seperti mega medan magnet yang mengumpulkan seluruh partikel itu dalam sekejap.
“Abel...” bisiknya perih.
Seandainya mereka tahu bahwa ia pun mengadaptasi emosi manusia.
Mereka tahu tetapi memilih untuk tidak peduli.
Cain menatap dengan penuh ketakutan pada pintu titanium raksasa yang menjulang tinggi di atas mereka. Ia yakin pernah melihat kedelapan huruf itu menyala terang, wajah baru Eugenetika yang menegaskan eksistensinya sebagai mesin filter genetik terbaik di dunia.
Komentar
Posting Komentar