GEMURUH AULA PERTUNJUKAN


"Tidak ada yang memainkan saksofon sebaik Abriana."
Tiziano mereguk minuman dengan gelisah. Kelenjar keringatnya menjerit, hal yang sangat tidak menguntungkan jika kau harus mengandalkan interval napasmu. Pertunjukan ini sangat penting bagi pria tersebut. Namun Massimo yang dikenal dengan lidah tajamnya itu seolah ditakdirkan menjadi perusak momen terbaik setiap orang. Terlihat di mana saja. Hampir seluruh seniman dibuat gila olehnya.
Ada banyak telinga untuk menciptakan berbagai macam penilaian. Para pengamat seni memberikan nilai sempurna untuk permainan saksofon Abriana. Tak seorang pun pernah mengatakan ini, tetapi Tiziano tahu tanpa saksofon itu, Abriana akan kehilangan keistimewaannya. Ia tak akan berbeda dengan gadis-gadis biasa, bahkan mungkin juga lebih buruk. Lihat saja wajah mendongak angkuh itu setiap kali berjalan melintasinya! Dan gadis tersebut bahkan tak pernah sedikitpun menyapanya.
Abriana meninggalkan panggung bersama gemuruh standing ovation para penonton. Mengirimkan rasa pahit pada lidah dan sayatan kecil di kerongkongan Tiziano yang sudah terlalu kering.
Ia hampir selalu memanjatkan doa untuk hari istimewa dan keajaiban. Dan tampaknya Tuhan telah mengirimkan jawaban. Usai pertunjukan, Abriana terburu-buru pergi dan meninggalkan saksofon begitu saja di belakang panggung. Hanya berjarak satu meter darinya, Tiziano dapat melihat kilau keemasan yang memancar dari permukaan benda tersebut.
Tidak ada tanda-tanda kemunculan kembali Abriana. Semakin lama Tiziano menatap saksofon yang bersandar manis, semakin yakin pula ia bahwa Tuhan sedang membuka sebuah pintu untuknya. Malam ini, ia akan membuktikan keampuhan saksofon itu.
Mencoba untuk tidak menarik perhatian, diraihnya saksofon Abriana dan menukar benda itu dengan miliknya.
Menakjubkan bagaimana not-not melayang keluar dari saksofon dan mengelilingi Tiziano, berpendar di wajah hampir setiap penonton. Hinggap pada dinding dan langit-langit aula seperti kupu-kupu tak bersayap. Berpelitur emas dan menerangi dada mereka dengan semburatnya.
Di telinga Tiziano, not-not itu terdengar menyerupai senandung peri hutan. Jauh lebih buruk dari permainan pertamanya. Itu bukanlah melodi yang indah, melainkan kebisingan! Ya, kebisingan yang semakin menajam dan mengguncang aula dengan suara gemuruh.
"Sungguh penampilan yang memukau. Saya terkesan dengan permainan Anda," Massimo berkomentar tatkala Tiziano telah berada di belakang panggung, "tapi saya tak pernah mendengar melodi seperti itu sebelumnya. Apakah Anda komposernya?"
Apakah Massimo hanya sedang mencoba menyindirnya? Jelas pendengaran Tiziano masih sangat baik untuk mengenali bahwa saksofon itu hanya melepaskan ribuan peri yang ketakutan dan mencoba menemukan jalan keluar. Lalu mereka mulai membentuk pola retakan pada lantai dan dinding aula.
Tetapi siapapun tahu bahwa Massimo tidak memiliki selera humor.
'Aku hanya memainkan Spring karya Antonio Vivaldi', pikir Tiziano keheranan. Tak menduga Massimo akan melewatkan karya selegendaris itu.
Ia mencoba mengucapkannya, namun yang keluar adalah lenguhan panjang yang hanya dapat dimengerti olehnya. Begitu lirih dan putus asa.
Tiziano menggigil. Saksofon itu telah mencuri pita suaranya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE SMILEY FACE

HADIAH TERINDAH

SENTUHAN MIDAS