ESTRELLA POR ALEJANDRO
"Perdoname, Senora ...."
Suara bariton milik seorang pria tiba sepersekian detik lebih cepat dari bayangannya. Membawa aroma Antonio Puig yang seketika membuatku merasa berpindah dari peron menuju ballroom hotel Hilton.
Hispanik, dengan rambut yang disisir sangat rapi ke belakang. Tipikal seorang eksekutif muda yang membukakan pintu Ferrari untuk seorang wanita tanpa membungkukkan tubuh. Menempatkan kegemaran menggoda dengan arogansi maskulinitas ke dalam satu wadah.
Ah, ia seperti sesendok kaviar dalam genangan mentega berkualitas rendah, atau sepotong jas Armani yang diletakkan dalam etalase bersama perkakas dapur di hari Black Friday. Seharusnya pria ini berada dalam perjalanan bisnis di kelas eksekutif, bukannya malah duduk di antara para pria dan wanita tua yang sedang terbatuk-batuk dengan sapu tangan berenda. Aku sendiri memilih menutup sebagian wajah dengan masker. Masih selalu dihantui oleh mikrobakteria yang mungkin sedang menari-nari di udara.
"Saya baru dua menit meninggalkan kursi ini untuk membeli minuman. Dan Anda telah lancang memindahkan koper saya."
Kupandangi asap mengepul dari gelas styrofoam di tangan Si Hispanik. Menghembuskan kafein yang menggiring ingatanku ke ruangan kamar di mana beberapa bulan lalu Chandler membawa aroma itu bersama kecupan selamat pagi. Seperti baru terjadi kemarin, dan aku kehilangan enam tahun pernikahan kami karena kesalahan kecil.
Tak ada perselingkuhan ataupun ketidakjujuran dalam bentuk lain. Hanya egoisme yang bergantian mengambil tempat di antara kami. Menyakitkan bagaimana Chandler telah menyerah dari upayanya memperbaiki hubungan. Membawa pergi cinta di hatinya bersama Meredith, puteri empat tahun kami.
Benar, hanya dua menit.
Asap itu masih mengepul. Ia belum kehilangan kenikmatan kopinya. Seandainya hal sama kulakukan untuk menyelamatkan kopiku yang sudah terlanjur dingin. Aku tak pernah berusaha menjaganya tetap hangat.
Apakah semua pria Hispanik selalu mengucapkan permohonan maaf terlebih dahulu sebelum memarahi seseorang? Tidak, Annelise. Itu hanya sebuah keluhan, dan siapapun memiliki hak melakukan lebih dari itu saat orang asing secara lancang memindahkan koper dan merebut kursi tunggunya.
Tetapi lagi-lagi yang keluar dari mulut adalah pembelaan diri. Sebagaimana caraku memandang kehidupan ini sebagai aula pengadilan dan kita adalah pengacara yang harus menyimpan setumpuk kitab bermuatan pasal-pasal argumen tak terbantahkan.
"Ceroboh sekali! Bagaimana mungkin Anda meninggalkan koper itu begitu saja hanya demi segelas kopi? Hal lebih buruk bisa saja terjadi. Beruntung Anda tidak bertemu dengan orang jahat!"
Aku bukan orang jahat. Walaupun Chandler pernah menjulukiku Malaikat Bertanduk Iblis, tapi itu tak mengubah apapun. Tak ada yang mengenalmu sebaik dirimu sendiri, bukan?
Si Hispanik tampak menyadari kekeliruannya, atau mungkin hanya bersikap sebagai pria sejati yang tak mendebat wanita. Kedua matanya bergulir ke kiri tubuhku di mana seorang pria tua sedang terpekur dengan koran yang hampir menempel pada wajah.
"Alejandro." Ia memperkenalkan diri. Tak ada formalitas seperti yang biasa kulihat dalam pertemuan para eksekutif. Mungkin ia masih merasa kesal atau menyadari hal itu tidak cukup pantas dilakukan di tempat semacam ini.
"Annelise," jawabku singkat, lebih tertarik mengamati seorang anak perempuan yang sedang menggendong boneka berselimut dalam buaian. Usianya kutaksir hanya tiga atau empat tahun lebih tua dari Meredith. Rambut keemasan gadis kecil itu tergerai manis menutupi kedua gundukan pipi kemerahan yang semakin melebar oleh senyuman. Di antara sederet wajah letih, putus asa dan bosan, ia laksana mentari yang sanggup menghangatkan hati setiap orang hanya melalui tatapannya.
Mungkin kebosanan yang cukup hebat juga menulari Alejandro dengan cepatnya. Sehingga hal paling menarik baginya adalah saat mengamati wajah setiap orang, termasuk mengikuti titik pandang seseorang yang berjarak paling dekat dengannya. Dan orang itu adalah aku.
Begitu Alejandro memutar tubuh untuk memandangi gadis kecil yang sama, kulihat anak itu menyisir rambut boneka. Mulutnya bergerak sama lincah dengan jari-jari tangan. Sebesar apapun kebahagiaan anak-anak, mereka selalu merasakan kesepian tersembunyi yang mendorong keliaran imajinasi. Lalu mendadak mereka memiliki nama bagi setiap barang, bahkan bercakap-cakap dengan dinding kamar. Dulu sekali, setidaknya tiga teman imajiner meminjam boneka-boneka dan bermain ayunan bersamaku.
"Tampaknya ia menyukaimu," ujarku begitu melihat Si Gadis Boneka mengangkat wajah dan tersenyum sangat manis pada Alejandro. Hanya sekilas, lalu kembali sibuk dengan dunia kecilnya. Aku telah memandanginya sejak tadi dan ia sama sekali tak menunjukkan reaksi yang sama. Atau barangkali memang melewatkan tatapan bersahabat dariku.
Seraya menyesap kopinya, Alejandro berbicara dengan kedua mata menatapku dari balik gelas styrofoam, "Bukan sebuah kebetulan kami datang dari tempat yang sama."
"Oh, jadi kalian sudah saling mengenal?" tanyaku dengan nada tertarik.
"Si, claro! Ya, tentu saja! Seharusnya kuletakkan koper tepat di sampingnya. Tetapi ia hidup dalam gelembung-gelembung mimpi, dan baginya tidak semua benda dapat terlihat."
"Kau sangat mengenalnya."
Alejandro mengulas senyum sambil meremas gelas styrofoam yang telah kosong dan melemparkan benda itu ke dalam keranjang sampah. Kemudian berkata, "Estrella es mi esposa. Estrella adalah isteriku."
Seandainya diriku yang sedang mereguk kopi itu, bisa dipastikan akan tersedak begitu mendengarnya. Kutatap kedua mata pria itu, mencoba menemukan kebenaran dan bergerak turun ke tulang pipi, berharap akan ada pola terbentuk di sana sebelum meledakkan tawa. Anehnya, tak ada yang terjadi selain dari perhatian Alejandro yang dengan cepat beralih pada gadis kecil dengan boneka dalam buaian.
Sulit dipercaya bagaimana Alejandro menatap wajah bersemu di sana dengan penuh cinta dan mendamba. Bukan seorang ayah pada puteri kecilnya, melainkan hasrat terpendam antara pria dan wanita dewasa. Jakunnya bergerak naik turun seolah mengikuti ritme detak jantung begitu Estrella kembali melebarkan kedua sudut bibir.
Mendadak aku tak terlihat bagi pria tersebut. Tidak ubahnya kepulan asap kopi yang menguap beberapa menit lalu.
"Bagaimana mungkin? Ia hanya anak-anak," gumamku. Tanpa sadar telah mengucapkannya berulang kali bahkan setelah Alejandro menjauh dari hadapanku.
Seperti mimpi saat kulihat kedua bibir mereka berpagut mesra. Alejandro berlutut sambil meremas lembut tangan-tangan mungil Estrella. Kubah raksasa tak terlihat seolah mengisolasi mereka dari pandangan-pandangan mencemooh. Mereka bahkan tak peduli telah menciptakan kegemparan pada setiap tanah bumi yang dipijak. Kursi-kursi tunggu peron ditinggalkan bersama kemarahan dan pandangan jijik. Sebagian lagi dari hati yang feminis, hanya menatap iba seraya memanjatkan doa agar kutukan itu tidak akan pernah menyentuh keturunan mereka.
Bejat! Sungguh bejat pria itu!
Lagipula gereja mana yang akan memberkati pernikahan semacam itu?
Bayangan wajah Meredith bersama pria asing dengan sekotak permen dan kue-kue menghantui imajinasiku. Bergegas kuhampiri Alejandro dan menarik tubuhnya menjauh.
Saat melakukannya, secara tidak sengaja kedua mataku menangkap kilauan berpendar dari leher Estrella. Sebuah kalung dengan ornamen aneh namun tak asing melingkarinya. Odei Lom pernah mengenakan benda yang nyaris serupa untuk memikat Gorren.
"Kau sadar apa yang sudah kaulakukan???"
Alejandro memutar tubuh menghadapku. Dengan wajah keheranan ia balik bertanya, "Memangnya menurutmu apa yang sedang kulakukan? Kita tidak sedang berada di Vatikan. Aku bebas mencium siapapun."
"Kau sudah gila! Ia hanya seorang anak kecil. Astaga!!!"
Bergerak mundur, aku tersadar kengerian sesungguhnya. Bukan pada kedua mata besar boneka yang seperti akan menelanku hidup-hidup, melainkan sudut mata Estrella setua garis-garis halus wajahnya. Pada jarak sedekat ini, seorang wanita dewasa bertubuh kerdil sedang berdiri. Ternyata bukan hanya tubuh itu yang tidak bertumbuh sebagaimana mestinya, tetapi secara psikologis pun proses perkembangan itu terhenti. Wanita dewasa mana yang masih bermain dengan boneka?
"Ma-maafkan aku," ujarku dengan perasaan bersalah. Tak yakin apakah mereka sungguh mendengarnya.
"Kesalahpahaman bisa terjadi pada siapapun," jawab Estrella. Kedua matanya menyipit karena senyuman yang menarik tulang pipi sedemikian rupa.
Ia menoleh pada Alejandro dan berbisik lembut, "Aku haus sekali. Mengapa hanya membeli minuman untuk dirimu sendiri?"
Alejandro berjanji akan mendapatkan minuman dan makanan secepatnya untuk Estrella. Ia mengecup isterinya lalu menjauh. Tetapi sebagai seorang wanita, aku tahu itu adalah trik yang cukup ampuh saat kau ingin mengobrol secara pribadi.
Hanya tersisa kami berdua, Estrella bertanya, "Apa yang terpikirkan olehmu saat melihatku pertama kalinya?"
Apakah ini pertanyaan jebakan? Aku yakin sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya.
"Sejujurnya, kupikir kau gadis kecil yang kesepian."
"Kau benar."
"Alejandro sangat mencintaimu. Seseorang yang memiliki cinta dalam hidupnya tak akan pernah merasa kesepian," kataku getir.
Kini kata 'cinta' bagiku dapat melukai lebih dalam dari sebilah Katana.
Saat mengucapkannya, aku juga teringat pada kalung pemikat yang dikenakan Estrella. Mungkin untuk alasan itulah ia tak dapat merasakan kebahagiaan sejati. Ya, saat manusia menciptakan cinta semu, maka akan mendatangkan luka yang jauh lebih nyata.
"Maksudku," Estrella menyentuh pergelangan tanganku dengan jari-jari mungilnya, "kau benar. Aku hanyalah seorang gadis kecil berusia delapan tahun."
Aku mencoba tertawa. Ini sungguh lelucon yang buruk. Bahkan aku tak tahu bagian mana lagi dari kisah ini yang terdengar masuk akal.
"Aku memiliki cinta yang dewasa. Sungguh! Dan Tuhan sudah sangat baik mewujudkan seluruh mimpiku," lanjut Estrella seraya memainkan bandul kalungnya.
Suara bariton milik seorang pria tiba sepersekian detik lebih cepat dari bayangannya. Membawa aroma Antonio Puig yang seketika membuatku merasa berpindah dari peron menuju ballroom hotel Hilton.
Hispanik, dengan rambut yang disisir sangat rapi ke belakang. Tipikal seorang eksekutif muda yang membukakan pintu Ferrari untuk seorang wanita tanpa membungkukkan tubuh. Menempatkan kegemaran menggoda dengan arogansi maskulinitas ke dalam satu wadah.
Ah, ia seperti sesendok kaviar dalam genangan mentega berkualitas rendah, atau sepotong jas Armani yang diletakkan dalam etalase bersama perkakas dapur di hari Black Friday. Seharusnya pria ini berada dalam perjalanan bisnis di kelas eksekutif, bukannya malah duduk di antara para pria dan wanita tua yang sedang terbatuk-batuk dengan sapu tangan berenda. Aku sendiri memilih menutup sebagian wajah dengan masker. Masih selalu dihantui oleh mikrobakteria yang mungkin sedang menari-nari di udara.
"Saya baru dua menit meninggalkan kursi ini untuk membeli minuman. Dan Anda telah lancang memindahkan koper saya."
Kupandangi asap mengepul dari gelas styrofoam di tangan Si Hispanik. Menghembuskan kafein yang menggiring ingatanku ke ruangan kamar di mana beberapa bulan lalu Chandler membawa aroma itu bersama kecupan selamat pagi. Seperti baru terjadi kemarin, dan aku kehilangan enam tahun pernikahan kami karena kesalahan kecil.
Tak ada perselingkuhan ataupun ketidakjujuran dalam bentuk lain. Hanya egoisme yang bergantian mengambil tempat di antara kami. Menyakitkan bagaimana Chandler telah menyerah dari upayanya memperbaiki hubungan. Membawa pergi cinta di hatinya bersama Meredith, puteri empat tahun kami.
Benar, hanya dua menit.
Asap itu masih mengepul. Ia belum kehilangan kenikmatan kopinya. Seandainya hal sama kulakukan untuk menyelamatkan kopiku yang sudah terlanjur dingin. Aku tak pernah berusaha menjaganya tetap hangat.
Apakah semua pria Hispanik selalu mengucapkan permohonan maaf terlebih dahulu sebelum memarahi seseorang? Tidak, Annelise. Itu hanya sebuah keluhan, dan siapapun memiliki hak melakukan lebih dari itu saat orang asing secara lancang memindahkan koper dan merebut kursi tunggunya.
Tetapi lagi-lagi yang keluar dari mulut adalah pembelaan diri. Sebagaimana caraku memandang kehidupan ini sebagai aula pengadilan dan kita adalah pengacara yang harus menyimpan setumpuk kitab bermuatan pasal-pasal argumen tak terbantahkan.
"Ceroboh sekali! Bagaimana mungkin Anda meninggalkan koper itu begitu saja hanya demi segelas kopi? Hal lebih buruk bisa saja terjadi. Beruntung Anda tidak bertemu dengan orang jahat!"
Aku bukan orang jahat. Walaupun Chandler pernah menjulukiku Malaikat Bertanduk Iblis, tapi itu tak mengubah apapun. Tak ada yang mengenalmu sebaik dirimu sendiri, bukan?
Si Hispanik tampak menyadari kekeliruannya, atau mungkin hanya bersikap sebagai pria sejati yang tak mendebat wanita. Kedua matanya bergulir ke kiri tubuhku di mana seorang pria tua sedang terpekur dengan koran yang hampir menempel pada wajah.
"Alejandro." Ia memperkenalkan diri. Tak ada formalitas seperti yang biasa kulihat dalam pertemuan para eksekutif. Mungkin ia masih merasa kesal atau menyadari hal itu tidak cukup pantas dilakukan di tempat semacam ini.
"Annelise," jawabku singkat, lebih tertarik mengamati seorang anak perempuan yang sedang menggendong boneka berselimut dalam buaian. Usianya kutaksir hanya tiga atau empat tahun lebih tua dari Meredith. Rambut keemasan gadis kecil itu tergerai manis menutupi kedua gundukan pipi kemerahan yang semakin melebar oleh senyuman. Di antara sederet wajah letih, putus asa dan bosan, ia laksana mentari yang sanggup menghangatkan hati setiap orang hanya melalui tatapannya.
Mungkin kebosanan yang cukup hebat juga menulari Alejandro dengan cepatnya. Sehingga hal paling menarik baginya adalah saat mengamati wajah setiap orang, termasuk mengikuti titik pandang seseorang yang berjarak paling dekat dengannya. Dan orang itu adalah aku.
Begitu Alejandro memutar tubuh untuk memandangi gadis kecil yang sama, kulihat anak itu menyisir rambut boneka. Mulutnya bergerak sama lincah dengan jari-jari tangan. Sebesar apapun kebahagiaan anak-anak, mereka selalu merasakan kesepian tersembunyi yang mendorong keliaran imajinasi. Lalu mendadak mereka memiliki nama bagi setiap barang, bahkan bercakap-cakap dengan dinding kamar. Dulu sekali, setidaknya tiga teman imajiner meminjam boneka-boneka dan bermain ayunan bersamaku.
"Tampaknya ia menyukaimu," ujarku begitu melihat Si Gadis Boneka mengangkat wajah dan tersenyum sangat manis pada Alejandro. Hanya sekilas, lalu kembali sibuk dengan dunia kecilnya. Aku telah memandanginya sejak tadi dan ia sama sekali tak menunjukkan reaksi yang sama. Atau barangkali memang melewatkan tatapan bersahabat dariku.
Seraya menyesap kopinya, Alejandro berbicara dengan kedua mata menatapku dari balik gelas styrofoam, "Bukan sebuah kebetulan kami datang dari tempat yang sama."
"Oh, jadi kalian sudah saling mengenal?" tanyaku dengan nada tertarik.
"Si, claro! Ya, tentu saja! Seharusnya kuletakkan koper tepat di sampingnya. Tetapi ia hidup dalam gelembung-gelembung mimpi, dan baginya tidak semua benda dapat terlihat."
"Kau sangat mengenalnya."
Alejandro mengulas senyum sambil meremas gelas styrofoam yang telah kosong dan melemparkan benda itu ke dalam keranjang sampah. Kemudian berkata, "Estrella es mi esposa. Estrella adalah isteriku."
Seandainya diriku yang sedang mereguk kopi itu, bisa dipastikan akan tersedak begitu mendengarnya. Kutatap kedua mata pria itu, mencoba menemukan kebenaran dan bergerak turun ke tulang pipi, berharap akan ada pola terbentuk di sana sebelum meledakkan tawa. Anehnya, tak ada yang terjadi selain dari perhatian Alejandro yang dengan cepat beralih pada gadis kecil dengan boneka dalam buaian.
Sulit dipercaya bagaimana Alejandro menatap wajah bersemu di sana dengan penuh cinta dan mendamba. Bukan seorang ayah pada puteri kecilnya, melainkan hasrat terpendam antara pria dan wanita dewasa. Jakunnya bergerak naik turun seolah mengikuti ritme detak jantung begitu Estrella kembali melebarkan kedua sudut bibir.
Mendadak aku tak terlihat bagi pria tersebut. Tidak ubahnya kepulan asap kopi yang menguap beberapa menit lalu.
"Bagaimana mungkin? Ia hanya anak-anak," gumamku. Tanpa sadar telah mengucapkannya berulang kali bahkan setelah Alejandro menjauh dari hadapanku.
Seperti mimpi saat kulihat kedua bibir mereka berpagut mesra. Alejandro berlutut sambil meremas lembut tangan-tangan mungil Estrella. Kubah raksasa tak terlihat seolah mengisolasi mereka dari pandangan-pandangan mencemooh. Mereka bahkan tak peduli telah menciptakan kegemparan pada setiap tanah bumi yang dipijak. Kursi-kursi tunggu peron ditinggalkan bersama kemarahan dan pandangan jijik. Sebagian lagi dari hati yang feminis, hanya menatap iba seraya memanjatkan doa agar kutukan itu tidak akan pernah menyentuh keturunan mereka.
Bejat! Sungguh bejat pria itu!
Lagipula gereja mana yang akan memberkati pernikahan semacam itu?
Bayangan wajah Meredith bersama pria asing dengan sekotak permen dan kue-kue menghantui imajinasiku. Bergegas kuhampiri Alejandro dan menarik tubuhnya menjauh.
Saat melakukannya, secara tidak sengaja kedua mataku menangkap kilauan berpendar dari leher Estrella. Sebuah kalung dengan ornamen aneh namun tak asing melingkarinya. Odei Lom pernah mengenakan benda yang nyaris serupa untuk memikat Gorren.
"Kau sadar apa yang sudah kaulakukan???"
Alejandro memutar tubuh menghadapku. Dengan wajah keheranan ia balik bertanya, "Memangnya menurutmu apa yang sedang kulakukan? Kita tidak sedang berada di Vatikan. Aku bebas mencium siapapun."
"Kau sudah gila! Ia hanya seorang anak kecil. Astaga!!!"
Bergerak mundur, aku tersadar kengerian sesungguhnya. Bukan pada kedua mata besar boneka yang seperti akan menelanku hidup-hidup, melainkan sudut mata Estrella setua garis-garis halus wajahnya. Pada jarak sedekat ini, seorang wanita dewasa bertubuh kerdil sedang berdiri. Ternyata bukan hanya tubuh itu yang tidak bertumbuh sebagaimana mestinya, tetapi secara psikologis pun proses perkembangan itu terhenti. Wanita dewasa mana yang masih bermain dengan boneka?
"Ma-maafkan aku," ujarku dengan perasaan bersalah. Tak yakin apakah mereka sungguh mendengarnya.
"Kesalahpahaman bisa terjadi pada siapapun," jawab Estrella. Kedua matanya menyipit karena senyuman yang menarik tulang pipi sedemikian rupa.
Ia menoleh pada Alejandro dan berbisik lembut, "Aku haus sekali. Mengapa hanya membeli minuman untuk dirimu sendiri?"
Alejandro berjanji akan mendapatkan minuman dan makanan secepatnya untuk Estrella. Ia mengecup isterinya lalu menjauh. Tetapi sebagai seorang wanita, aku tahu itu adalah trik yang cukup ampuh saat kau ingin mengobrol secara pribadi.
Hanya tersisa kami berdua, Estrella bertanya, "Apa yang terpikirkan olehmu saat melihatku pertama kalinya?"
Apakah ini pertanyaan jebakan? Aku yakin sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya.
"Sejujurnya, kupikir kau gadis kecil yang kesepian."
"Kau benar."
"Alejandro sangat mencintaimu. Seseorang yang memiliki cinta dalam hidupnya tak akan pernah merasa kesepian," kataku getir.
Kini kata 'cinta' bagiku dapat melukai lebih dalam dari sebilah Katana.
Saat mengucapkannya, aku juga teringat pada kalung pemikat yang dikenakan Estrella. Mungkin untuk alasan itulah ia tak dapat merasakan kebahagiaan sejati. Ya, saat manusia menciptakan cinta semu, maka akan mendatangkan luka yang jauh lebih nyata.
"Maksudku," Estrella menyentuh pergelangan tanganku dengan jari-jari mungilnya, "kau benar. Aku hanyalah seorang gadis kecil berusia delapan tahun."
Aku mencoba tertawa. Ini sungguh lelucon yang buruk. Bahkan aku tak tahu bagian mana lagi dari kisah ini yang terdengar masuk akal.
"Aku memiliki cinta yang dewasa. Sungguh! Dan Tuhan sudah sangat baik mewujudkan seluruh mimpiku," lanjut Estrella seraya memainkan bandul kalungnya.
Komentar
Posting Komentar