M.I.A
Tubuh tegap pria berseragam drill hijau itu melengkung saat
memindahkan bobotnya pada kedua tangan, mendorong perlahan penuh
perhitungan ke sudut tersembunyi di balik pondasi gedung yang tersisa.
Lima belas menit adalah waktu yang cukup untuk meyakinkan diri sendiri
bahwa jet tempur itu tidak akan kembali dengan misil-misil bermuatan
bom, mendeteksi pergerakan sekecil apapun sebagai potensi serangan
balik. Di antara beberapa potongan tubuh manusia dan aroma sulfur yang
pekat, ia mencoba menemukan apapun yang dapat membantunya bernapas lebih
lama. Metal foil yang menyangga radio komunikasi pada pergelangan
tangannya terkoyak, sebelum kemudian lampu indikator itu berkedip samar
dan lenyap beberapa detik setelahnya.
McPhail menarik kasar machine gun terbaik yang berhasil ditemukannya dalam cengkeraman pria berseragam cokelat gelap tak bernyawa. Dengan gerakan terlatih ia menukar pakaian miliknya, mencoba mengumpulkan keberanian yang tak pernah benar-benar ia miliki. Mengabaikan hati nurani yang mendesak dirinya untuk melakukan hal sebaliknya, ia sadar bagaimana kode etik tidak bersifat absolut jika berhadapan dengan statistik. Mereka kalah jumlah, dan ia sudah menyadari hal ini sejak awal bahkan sebelum mereka menyerukan semangat patriotisme. Ia yakin Tuhan lebih berbelas kasih pada mereka yang berjuang untuk bertahan hidup, bukan untuk mati.
Dengan kedua mata menyapu sekitar, walaupun bukan sesuatu yang baru dalam pandangannya, namun kematian itu tetap menjadi teror yang sangat mengerikan bagi McPhail. Bahkan ketakutannya meningkat setiap detik, jauh lebih cepat dari apa yang mungkin mereka pikirkan mengenai dirinya.
Rasanya baru kemarin ia menikmati kenyamanan di kasur empuk miliknya, bertanya-tanya mengenai masa depan apa yang sedang menantinya dari lorong panjang dan misterius itu. Dalam sekejap segalanya berubah oleh ketidakpekaan negaranya menerjemahkan kesetiaan lebih mulia dibandingkan cinta. Dengan kata lain, jika mereka memintamu menembak kepala ayahmu demi keamanan negara, maka kau harus melakukannya.
Tidak ada celah untuk memperdebatkan ideologi mereka. Dan ia yakin dilema ini telah menyebar seperti pendemi moral di hampir seluruh belahan dunia.
Saat mengenali satu di antara wajah-wajah itu, McPhail mencoba untuk tidak terguncang. Menyentakkan ironi ke belakang saat otaknya merekam kembali janji itu. Janji yang dibuatnya bersama Flemming untuk saling melindungi dan tak akan pernah mengubah idealisme mereka apapun taruhannya. Sedikit hal menghibur baginya adalah setidaknya Flemming mati sebagai pahlawan.
Sementara ia berjalan melangkahi mayat-mayat pahlawan itu seperti zombie. Ia berhenti sejenak pada salah satu dari mereka, dengan wajah sembilan puluh persen telah rusak dan mustahil untuk dikenali. Tetapi itu bukanlah tubuh pria yang berjuang di bawah satu bendera dengannya.
Missing in Action...
Jika McPhail berhasil keluar dari tempat ini tanpa dikenali, maka ia akan memikirkan cara untuk mengganti identitasnya. Dan mereka akan mencatat nama Harold McPhail sebagai tentara yang hilang saat bertugas. Itu terdengar jauh lebih baik daripada dua pilihan yang ada : mati di tangan musuh atau bertaruh dengan kematian setiap menitnya. Ia hanya ingin kembali ke rumah dengan anggota tubuh lengkap dan otak yang masih berfungsi sempurna.
"Hei, apa yang kaulakukan di sana?"
McPhail tercekat. Ia mengenali suara itu dan tak berharap akan mendengarnya dalam situasi sekarang. Tidak ada celah untuk bersembunyi karena Ryan Webbs berdiri hanya berjarak kurang dari satu meter darinya.
"Mengapa kau mengenakan seragam musuh?" Webbs bertanya keheranan. Ia menatap wajah pucat McPhail dan sikap canggungnya, segera menyadari kejanggalan itu dan berseru, "Astaga! Kau bekerjasama dengan musuh?"
"Aku sedang menyamar," jawab McPhail. Namun itu adalah kebohongan yang buruk untuk digunakan sebagai pembelaan diri di hadapan seseorang dengan intuisi terlatih.
Sikap Webbs berubah menjadi waspada, dan dalam kebungkaman sepersekian detik McPhail, ia mengangkat senjatanya dengan tatapan tajam, merasa dikhianati.
Dari kejauhan McPhail melihat dua orang pria berseragam hijau bergerak ke arah mereka.
"Maafkan aku." McPhail melepaskan tembakannya tepat mengenai dada Webbs. Saat pria itu mencoba untuk melakukan hal yang sama terhadapnya, ia mendaratkan proyektil itu ke perut Webbs. Tiga kali hingga lawannya berhenti bergerak.
Dua orang pria itu berlari ke arahnya dengan senjata terangkat. McPhail mendengar suara tembakan menyertai langkahnya yang bergerak menjauh, berlari seperti kesurupan dengan machine gun yang berguncang di bawah tubuh gemetarnya.
"Aku tidak pernah bermaksud membunuhnya." Ia menggumamkan itu berkali-kali pada dirinya sendiri, mencoba mencari pembenaran atas tindakannya. "Ini tentang membunuh atau dibunuh."
Hasrat bertahan hidup memang stimulan terbaik yang sanggup menciptakan energi kinetis terkuat bahkan saat vitalitasmu nyaris mencapai titik nol. McPhail bahkan telah melupakan rasa sakit pada luka-luka di tubuhnya saat ototnya mendesak untuk berlari lebih kencang, mencoba melampaui kemampuan kedua pemburunya. Tampaknya mereka mengambil jeda untuk mengisi kembali peluru-peluru tersebut, cukup mengejutkan bagaimana tak satu pun berhasil melukainya.
Tetaplah bersamaku, Dewi Fortuna.
Pelariannya berujung di sebuah danau yang luas. McPhail berhenti untuk menarik napas sambil memikirkan cara untuk dapat menyeberanginya. Tidak ada perahu atau apapun yang dapat digunakan sebagai transportasi melintasi Sullivan's Lake. Pilihan terbaik saat ini hanyalah kedua tangan dan kakinya, namun ia sendiri tak dapat memperkirakan kedalaman danau tersebut.
McPhail merasa teror itu bergerak semakin mendekat. Ia tidak memiliki cukup waktu untuk menganalisa resiko terkecil dari beberapa pilihan tindakan yang harus dilakukannya. Ia melompat ke dalam Sullivan's Lake yang airnya memberikan sensasi dingin mengerikan saat menyentuh lukanya seperti jarum-jarum beracun.
Setelah berhasil menyesuaikan diri terhadap temperatur air tersebut, ia mulai berenang. Ia tahu ini terdengar gila mengingat kedua matanya bahkan belum berhasil menemukan daratan di seberangnya. Tetapi setidaknya ini adalah pilihan terbaik dibandingkan harus mati tertembak sebagai pengkhianat.
Ia merasakan kebas pada tangannya, namun mustahil untuk berhenti. Semakin jauh meninggalkan para pemburunya dan McPhail merasa sedang menyeberangi laut kemenangan. Keberaniannya tidak datang setiap saat, seperti tertidur di suatu tempat dalam waktu yang sangat panjang dan kini baru saja terbangun oleh sebuah keinginan sederhana.
Akhirnya ia melihat titik itu. Ya, sebuah daratan. Rasanya seperti sedang bergerak menuju taman firdaus. Optimisme yang nyaris padam itu kembali menemukan tempatnya. Walaupun kemudian meluap bersama pemikiran bahwa mereka mungkin sudah memblokade tempat itu.
Di antara rasa letih luar biasa, otak McPhail mencoba merangkai berbagai argumen untuk bisa lolos dari rentetan pertanyaan mengenai kesetiaan dan kredibilitasnya. Jika kau melanggar komitmen sebuah pernikahan, maka kau hanya akan menghadapi kemarahan pasanganmu. Tetapi jika kau melanggar komitmen terhadap negaramu, mereka semua akan sepakat menandatangani petisi untuk mengeksekusi dirimu.
Ternyata Dewi Fortuna tidak pernah meninggalkannya. Tampaknya Tuhan telah menjawab doa yang dipanjatkan oleh seorang tentara ketakutan yang memilih untuk membunuh lebih banyak nyawa demi keselamatan dirinya.
Ya, Dia lebih berbelaskasih pada mereka yang berjuang keras untuk hidup, bukan menyerah begitu saja pada kematian.
McPhail menatap skeptis lapangan hijau yang terhampar tepat di hadapannya. Keheningan ini sangat janggal dan ia tak suka itu. Kemanakah perginya para infanteri yang memburunya?
Mereka pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, menunggu waktu yang tepat untuk menghabisinya. Jika mereka datang menyerbu dirinya, ia tak memiliki perisai perlindungan apapun. Dan jika kemungkinan buruk itu terjadi, satu-satunya harapan adalah kinerja otaknya untuk beroperasi secara maksimal.
Tunggu dulu! Ia merasa tidak asing dengan tempat ini.
Semakin jauh melangkah ke dalamnya, tempat itu semakin teridentifikasi secara jelas dalam katalog memori edetik McPhail.
Dengan tubuh menggigil kedinginan, ia setengah berlari menghampiri rumah bercat putih yang dikelilingi kebun mawar dan pagar berwarna kuning gading. Seorang pria setengah baya berdiri bersama wanita bertubuh mungil di sampingnya. Mereka sedang berbicara dengan lelaki bertubuh tegap mengenakan seragam drill hijau dengan simbol yang sangat akrab di mata McPhail.
Kolonel Meyers!
McPhail merasa mual. Apakah itu artinya mereka akan menangkap dirinya tepat di hadapan kedua orangtuanya? Tidak adakah cara yang lebih bermartabat dari itu? Bahkan saat ini ia lebih memilih dipukuli sampai mati daripada harus menyaksikan mereka terluka oleh rasa malu.
Dadanya bergemuruh saat melihat wanita itu memalingkan wajah dan menangis di pundak suaminya. Ayahnya tampak merasakan kesedihan yang sama karena beberapa detik kemudian tubuhnya berguncang.
Menyaksikan bagaimana Kolonel Meyers secara tidak patriotik mencoba mengkonfrontasi dirinya dengan memanipulasi perasaan kedua manusia malang itu, McPhail merasa tak ada yang pernah membuatnya semarah ini sebelumnya.
Ia sudah akan berlari menerjang pria itu, namun tiba-tiba tubuhnya menggigil oleh rasa dingin yang hebat. Seperti ada cairan dengan volume besar memenuhi mulut hingga perut, menghambat sistem pernapasan dan melumpuhkan otaknya. Hanya berjarak lima puluh sentimeter darinya, wajah dingin dan pucat sedang menatapnya.
Topeng kematian dalam genangan kebiruan Sullivan's Lake.
McPhail menarik kasar machine gun terbaik yang berhasil ditemukannya dalam cengkeraman pria berseragam cokelat gelap tak bernyawa. Dengan gerakan terlatih ia menukar pakaian miliknya, mencoba mengumpulkan keberanian yang tak pernah benar-benar ia miliki. Mengabaikan hati nurani yang mendesak dirinya untuk melakukan hal sebaliknya, ia sadar bagaimana kode etik tidak bersifat absolut jika berhadapan dengan statistik. Mereka kalah jumlah, dan ia sudah menyadari hal ini sejak awal bahkan sebelum mereka menyerukan semangat patriotisme. Ia yakin Tuhan lebih berbelas kasih pada mereka yang berjuang untuk bertahan hidup, bukan untuk mati.
Dengan kedua mata menyapu sekitar, walaupun bukan sesuatu yang baru dalam pandangannya, namun kematian itu tetap menjadi teror yang sangat mengerikan bagi McPhail. Bahkan ketakutannya meningkat setiap detik, jauh lebih cepat dari apa yang mungkin mereka pikirkan mengenai dirinya.
Rasanya baru kemarin ia menikmati kenyamanan di kasur empuk miliknya, bertanya-tanya mengenai masa depan apa yang sedang menantinya dari lorong panjang dan misterius itu. Dalam sekejap segalanya berubah oleh ketidakpekaan negaranya menerjemahkan kesetiaan lebih mulia dibandingkan cinta. Dengan kata lain, jika mereka memintamu menembak kepala ayahmu demi keamanan negara, maka kau harus melakukannya.
Tidak ada celah untuk memperdebatkan ideologi mereka. Dan ia yakin dilema ini telah menyebar seperti pendemi moral di hampir seluruh belahan dunia.
Saat mengenali satu di antara wajah-wajah itu, McPhail mencoba untuk tidak terguncang. Menyentakkan ironi ke belakang saat otaknya merekam kembali janji itu. Janji yang dibuatnya bersama Flemming untuk saling melindungi dan tak akan pernah mengubah idealisme mereka apapun taruhannya. Sedikit hal menghibur baginya adalah setidaknya Flemming mati sebagai pahlawan.
Sementara ia berjalan melangkahi mayat-mayat pahlawan itu seperti zombie. Ia berhenti sejenak pada salah satu dari mereka, dengan wajah sembilan puluh persen telah rusak dan mustahil untuk dikenali. Tetapi itu bukanlah tubuh pria yang berjuang di bawah satu bendera dengannya.
Missing in Action...
Jika McPhail berhasil keluar dari tempat ini tanpa dikenali, maka ia akan memikirkan cara untuk mengganti identitasnya. Dan mereka akan mencatat nama Harold McPhail sebagai tentara yang hilang saat bertugas. Itu terdengar jauh lebih baik daripada dua pilihan yang ada : mati di tangan musuh atau bertaruh dengan kematian setiap menitnya. Ia hanya ingin kembali ke rumah dengan anggota tubuh lengkap dan otak yang masih berfungsi sempurna.
"Hei, apa yang kaulakukan di sana?"
McPhail tercekat. Ia mengenali suara itu dan tak berharap akan mendengarnya dalam situasi sekarang. Tidak ada celah untuk bersembunyi karena Ryan Webbs berdiri hanya berjarak kurang dari satu meter darinya.
"Mengapa kau mengenakan seragam musuh?" Webbs bertanya keheranan. Ia menatap wajah pucat McPhail dan sikap canggungnya, segera menyadari kejanggalan itu dan berseru, "Astaga! Kau bekerjasama dengan musuh?"
"Aku sedang menyamar," jawab McPhail. Namun itu adalah kebohongan yang buruk untuk digunakan sebagai pembelaan diri di hadapan seseorang dengan intuisi terlatih.
Sikap Webbs berubah menjadi waspada, dan dalam kebungkaman sepersekian detik McPhail, ia mengangkat senjatanya dengan tatapan tajam, merasa dikhianati.
Dari kejauhan McPhail melihat dua orang pria berseragam hijau bergerak ke arah mereka.
"Maafkan aku." McPhail melepaskan tembakannya tepat mengenai dada Webbs. Saat pria itu mencoba untuk melakukan hal yang sama terhadapnya, ia mendaratkan proyektil itu ke perut Webbs. Tiga kali hingga lawannya berhenti bergerak.
Dua orang pria itu berlari ke arahnya dengan senjata terangkat. McPhail mendengar suara tembakan menyertai langkahnya yang bergerak menjauh, berlari seperti kesurupan dengan machine gun yang berguncang di bawah tubuh gemetarnya.
"Aku tidak pernah bermaksud membunuhnya." Ia menggumamkan itu berkali-kali pada dirinya sendiri, mencoba mencari pembenaran atas tindakannya. "Ini tentang membunuh atau dibunuh."
Hasrat bertahan hidup memang stimulan terbaik yang sanggup menciptakan energi kinetis terkuat bahkan saat vitalitasmu nyaris mencapai titik nol. McPhail bahkan telah melupakan rasa sakit pada luka-luka di tubuhnya saat ototnya mendesak untuk berlari lebih kencang, mencoba melampaui kemampuan kedua pemburunya. Tampaknya mereka mengambil jeda untuk mengisi kembali peluru-peluru tersebut, cukup mengejutkan bagaimana tak satu pun berhasil melukainya.
Tetaplah bersamaku, Dewi Fortuna.
Pelariannya berujung di sebuah danau yang luas. McPhail berhenti untuk menarik napas sambil memikirkan cara untuk dapat menyeberanginya. Tidak ada perahu atau apapun yang dapat digunakan sebagai transportasi melintasi Sullivan's Lake. Pilihan terbaik saat ini hanyalah kedua tangan dan kakinya, namun ia sendiri tak dapat memperkirakan kedalaman danau tersebut.
McPhail merasa teror itu bergerak semakin mendekat. Ia tidak memiliki cukup waktu untuk menganalisa resiko terkecil dari beberapa pilihan tindakan yang harus dilakukannya. Ia melompat ke dalam Sullivan's Lake yang airnya memberikan sensasi dingin mengerikan saat menyentuh lukanya seperti jarum-jarum beracun.
Setelah berhasil menyesuaikan diri terhadap temperatur air tersebut, ia mulai berenang. Ia tahu ini terdengar gila mengingat kedua matanya bahkan belum berhasil menemukan daratan di seberangnya. Tetapi setidaknya ini adalah pilihan terbaik dibandingkan harus mati tertembak sebagai pengkhianat.
Ia merasakan kebas pada tangannya, namun mustahil untuk berhenti. Semakin jauh meninggalkan para pemburunya dan McPhail merasa sedang menyeberangi laut kemenangan. Keberaniannya tidak datang setiap saat, seperti tertidur di suatu tempat dalam waktu yang sangat panjang dan kini baru saja terbangun oleh sebuah keinginan sederhana.
Akhirnya ia melihat titik itu. Ya, sebuah daratan. Rasanya seperti sedang bergerak menuju taman firdaus. Optimisme yang nyaris padam itu kembali menemukan tempatnya. Walaupun kemudian meluap bersama pemikiran bahwa mereka mungkin sudah memblokade tempat itu.
Di antara rasa letih luar biasa, otak McPhail mencoba merangkai berbagai argumen untuk bisa lolos dari rentetan pertanyaan mengenai kesetiaan dan kredibilitasnya. Jika kau melanggar komitmen sebuah pernikahan, maka kau hanya akan menghadapi kemarahan pasanganmu. Tetapi jika kau melanggar komitmen terhadap negaramu, mereka semua akan sepakat menandatangani petisi untuk mengeksekusi dirimu.
Ternyata Dewi Fortuna tidak pernah meninggalkannya. Tampaknya Tuhan telah menjawab doa yang dipanjatkan oleh seorang tentara ketakutan yang memilih untuk membunuh lebih banyak nyawa demi keselamatan dirinya.
Ya, Dia lebih berbelaskasih pada mereka yang berjuang keras untuk hidup, bukan menyerah begitu saja pada kematian.
McPhail menatap skeptis lapangan hijau yang terhampar tepat di hadapannya. Keheningan ini sangat janggal dan ia tak suka itu. Kemanakah perginya para infanteri yang memburunya?
Mereka pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, menunggu waktu yang tepat untuk menghabisinya. Jika mereka datang menyerbu dirinya, ia tak memiliki perisai perlindungan apapun. Dan jika kemungkinan buruk itu terjadi, satu-satunya harapan adalah kinerja otaknya untuk beroperasi secara maksimal.
Tunggu dulu! Ia merasa tidak asing dengan tempat ini.
Semakin jauh melangkah ke dalamnya, tempat itu semakin teridentifikasi secara jelas dalam katalog memori edetik McPhail.
Dengan tubuh menggigil kedinginan, ia setengah berlari menghampiri rumah bercat putih yang dikelilingi kebun mawar dan pagar berwarna kuning gading. Seorang pria setengah baya berdiri bersama wanita bertubuh mungil di sampingnya. Mereka sedang berbicara dengan lelaki bertubuh tegap mengenakan seragam drill hijau dengan simbol yang sangat akrab di mata McPhail.
Kolonel Meyers!
McPhail merasa mual. Apakah itu artinya mereka akan menangkap dirinya tepat di hadapan kedua orangtuanya? Tidak adakah cara yang lebih bermartabat dari itu? Bahkan saat ini ia lebih memilih dipukuli sampai mati daripada harus menyaksikan mereka terluka oleh rasa malu.
Dadanya bergemuruh saat melihat wanita itu memalingkan wajah dan menangis di pundak suaminya. Ayahnya tampak merasakan kesedihan yang sama karena beberapa detik kemudian tubuhnya berguncang.
Menyaksikan bagaimana Kolonel Meyers secara tidak patriotik mencoba mengkonfrontasi dirinya dengan memanipulasi perasaan kedua manusia malang itu, McPhail merasa tak ada yang pernah membuatnya semarah ini sebelumnya.
Ia sudah akan berlari menerjang pria itu, namun tiba-tiba tubuhnya menggigil oleh rasa dingin yang hebat. Seperti ada cairan dengan volume besar memenuhi mulut hingga perut, menghambat sistem pernapasan dan melumpuhkan otaknya. Hanya berjarak lima puluh sentimeter darinya, wajah dingin dan pucat sedang menatapnya.
Topeng kematian dalam genangan kebiruan Sullivan's Lake.
Very good story
BalasHapus